Sosialisasi DBD Sulit Diterima Warga, Khawatir Disangkutpautkan dengan Covid-19

(FOTO: KM/HELMI YAHYA) JADI SULIT: Upaya pencegahan pada penyakit demam berdarah melalui sosialisasi sulit diterima oleh warga lantaran takut di-tracing Covid-19.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Pada tahun 2021, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) ditemukan sebanyak 76 kasus. Meskipun tidak sampai menyebabkan meninggal dunia, tetapi kesadaran masyarakat untuk mencegah masih lemah. Bahkan warga menolak diberikan sosialisasi pencegahan karena takut akan disangkutpautkan dengan Covid-19.

Salah satu warga di Desa Burneh, Bangkalan Eki Prasetya menyampaikan bahwa upaya pencegahan DBD di masyarakat sudah minim. Bahkan sudah lama ada petugas yang datang melakukan sosialisasi atau memberikan pelatihan pencegahan DBD di masyarakat.

“Sudah lama sejak pandemi Covid-19 melanda, kami tidak pernah mendapatkan sosialisasi ini,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Bacaan Lainnya

Menurut Eki, warga banyak yang sudah lupa. Padahal beberapa hari terakhir ada yang terjangkit DBD, tepat setelah musim penghujan turun. Apalagi jika lingkungan sekitar banyak terdapat selokan dan pinggir danau. ”

Sementara itu, Kepala seksi (Kasi) Pemberantasan Penyakit Menular (P2PL) Dinkes Bangkalan Mariamah mengatakan, untuk mengatasi DBD, masyarakat sendiri yang harus lebih waspada dan melakukan pencegahan sendiri.

“Untuk menghindari datangnya ini maka jangan lupa melakukan pencegahan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup dan mengubur,” jelasnya.

Pihaknya juga mengharapkan masyarakat aktif melaksanakan kegiatan 3M plus berupa menguras kamar mandi atau tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, plus memelihara ikan.

Selanjutnya, masyarakat juga disarankan untuk menanam tanaman pengusir nyamuk (lavender, sereh) dan menggunakan lotion anti nyamuk.

“Yang terpenting, masyarakat jangan hanya menunggu dari tenaga kesehatan (nakes) saja, intinya karena sekarang sudah musim hujan, masyarakat harus lebih aktif lagi dalam memberantas sarang nyamuknya, dengan cara 3M plus,” jelasnya.

Mengenai upaya sosialisasi, diakui di tahun 2021 ini juga terbatas, banyak warga yang tidak mau menerima kedatangan petugas karena mengira akan ada tracing Covid-19. Sehingga tidak bisa berjalan seperti tahun sebelumnya.

“Kami sering ditolak warga, mereka tetap tidak mau menerima sosialisasi karena pandemi Covid-19,” terangnya.

Selama tahun 2021, menurut data Dinkes Bangkalan, terjadi 76 kasus demam berdarah di Bangkalan. Kasus yang paling banyak ditemukan di Puskesmas Bangkalan Kota, yakni sebanyak 11 kasus, disusul Puskesmas Kamal sebanyak 10 kasus, dan selanjutnya kasus terbanyak ketiga adalah dari Puskesmas Socah sebanyak 9 kasus.

Sementara kasus dari puskesmas yang lainnya, rata-rata paling tinggi 6 kasus demam berdarah.

“Kasus tahun ini memang turun, tapi kita harus tetap waspada,” imbaunya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan