oleh

Spirit Hari Jadi Pamekasan 489

Kabarmadura.id/Pamekasan –Menarik membaca artikel saudara Abdul Gaffar di koran “Kabar Madura” pada kolom opini dengan tema ‘Pamekasan (Setengah) Hebat’  edisi 5 November 2019. Dalam opini itu, ia menyoroti isu dalam materi Seminar Internasional yang mengusung tema ‘Opportunity and Chalenges of Potensial Local Product to Penetrate International Markete’ yang menjadi bagiaan dari perayaan hari jadi Pamekasan yang ke 489 kaitannya. Ia menyimpulkan adanya ketimpangan kinerja pemerintah Pamekasan dengan praktek di lapangan.

Semarak hari jadi Pamekasan yang ke 489, memberikan spirit ke arah perubahan dan pembangunan Pamekasan menjadi lebih baik.  Momen ini dimeriahkan dengan berbagai pagelaran, seperti school fair, pengenala budaya, perlombanaan, seminar internasional, dan lainnya. Rangkaian acara itu seharusnya tidak sekedar menjadi agenda rutin pemkab Pamekasan, seharusnya menyumbangkan inspirasi positif untuk perubahan Pamekasan ke depan.

Gegap gempita acara demi acara yang dihadiri oleh masyarakat Pamekasan dengan riangnya menikmati perayaan tersebut, seakan menghinotis mereka menjadi lupa terhadap problematika Pamekasan yang tidak berkesudahan. Persoalan-persoalan akut yang melanda Pamekasan, hingga saat ini masih menghiasi pusat strategis pamekasan. Sampah berserakan di pojok-pojok kota, banyaknya trotoar yang ditutup pedagang kaki lima, pedagang kaki lima yang tidak tertib, pedagang yang mengotori jalan, drainase yang kurang bagus, sungai penuh sampah misalnya, terjadi di area kota Pamekasan.

Arek Lancor yang menjadi icon Pamekasan, seharusnya  indah, bersih, dan rapi.  keindahan, kebersihan, dan kerapian Arek Lancor sebagai pusat kota dan alun-alun Pamekasan menyisakan tanda tanya besar. Kotoran bekas pedagang kaki lima yang mengelilingi Arek Lancor sungguh menyesakkan mata. Petugas kebersihan yang setiap pagi disibukkan dengan membersihkan sampah-sampah pedagang kaki lima menghalangi semangat Pamekasan “Berteman” (bersih, tertib, aman).

Banyaknya trotoar yang ditutup pedagang kaki lima dengan bangunan semi permanen hampir sepanjang jalan partaker, menyulitkan pejalan kaki untuk menggunakan haknya. Kami yang sesekali  melewai jalan itu, sangat terganggu. Trotoar yang tertutup, ditambah pedagang yang menggunakan jalan, dan sembrautnya tempat parker dengan menggunakan jalan raya. Fakta ini juga terjadi di beberapa titik kota. Sementara di sepanjang jalan raya di kota Pamekasan, pasti terdapat ceceran  tumpukan sampah, seakan-akan mereka bebas membuang sampah di jalan karena ada petugas kebersihan. Drainase yang kurang bagus, banyak selokan air dan sungai menjadi tempat pembuangan sampah. Inilah contoh kecil problem Pamekasan.

Problematika Pamekasan sepertinya tertutupi slogan “Pamekasan Hebat”. Slogan “hebat”  seharusnya ditunjukkan dengan Pamekasan yang hebat dari berbagai aspek misalnya sistem pemerintah, sistem drainase, tata kelola kota, lingkungan yang asri, indah, dan sehat, masyarakat yang tertib, sebagainya. Mewujudkan impian ini tentu bukan perkara gampang. Karna masalah demi masalah itu seperti penyakit akut yang telah menggerogoti daya tahan tubuh. Perlu keseriusan dan semangat kerja bersama untuk merubahnya melalui pendekatan humanistic dan tidak represif. Otoritas pemeritah Pamekasan melalui dinas terkait misalnya Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Tata Kota perlu melakukan terobosan-terobosan untuk itu.

Meminjam Bahasa Badrut Tamam (Bupati Pamekasan), untuk membangun ‘Pamekasan Hebat’ ke depan, diperlukan sudut pandang baru. Sudut pandang itu setidaknya mampu menyelesaikan problematika yang ada, dan melahirkan idea-idea baru yang mampu mendongkrak pamekasan dari berbagai sektor, misalnya pendidikan, pariwisata, ekonomi, layanan public, kelestarian lingkung, tata kota dan sebagainya. Di sektor pendidikan misalnya bisa ditingkatkan budaya literasi di sekolah-sekolah, penanaman karakter siswa melalui penguatan konten agama misalnya sholat berjemaah, sholat dhuha, kemampuan membaca Al-Qur’an, dan lainnya. Potensi pariwisata yang ada di pamekasan dikelola dengan lebih baik sehingga mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan. Ekonomi yang menjadi punggung kehidupan masyarakat harus ditingkatkan melalui pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada tataran praktek. Layanan publik juga perlu ditingkatkan, walaupun sudah ada Mall Pelayanan Publik, ternyata masih banyak dikeluhkan masyarakat. Adapun kelestarian lingkungan dan tata kota ini bisa dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peduli lingkungan. Bahwa lingkungan yang bersih, rapi, teratur itu memang kebutuhan mutlak mahkluk hidup. Semoga harapan ini mampu diimplementasikan untuk mewujudkan pamekasan hebat.

Sejatinya Pamekasan telah menunjukkan adanya perubahan, terbukti torehan prestasi yang diraih pamekasan menjadi simbol keberhasilan kinerja pemerintah kabupaten Pamekasan. Namun perubahan itu harus ditingkatkan lagi. Prestasi itu harus mampu menyihir kinerja pemerintah kabupaten Pamekasan menjadi lebih baik. Demikian juga harus mampu membangun kesadaran masyarakat untuk hidup secara tertib, rapi dan bersih. Semoga jargon “pemimpin baru harapan baru” yang menjadi simbol kampanye calon bupati  kala itu tidak terlupakan. Harapannya, harapan baru itu mampu menyuplai gagasan-gagasan baru dalam membangun Pamekasan menjadi kabupaten yang maju.

Oleh: FAUZAN

Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan

Mahasiswa Program Doktoral Prodi Manajemen Pendidikan

Universitas Negeri Malang

Email : masfauzan@gmail.com

Komentar

News Feed