Sri Ayu Ningrum

  • Whatsapp

Oleh: Khairul Fatah

Malam merayap makin kelam. Suara binatang malam mulai mengecil. Ekor mataku melihat bulan tergantung sempurna di langit. Angin spoi-spoi menyusup ke kamar, ibu dengan tenang mengelus-elus rambutku. Lalu menciumku. Saat hidung ibu menyentuh pipi, tubuhku bergairah, seakan tersetrum, aku mengerang kenikmatan. Dan tanpa ibu sadari celana dalamku basah.

Mendengar aku mengerang kenikmatan, ibu melepas ciumannya, wajahnya penuh tanda tanya. Lekat ia menatapku yang lemas. Sebelum ibu melihat celanaku yang basah, aku  bergegas pergi ke kamar mandi. Ibu masih menatapku dengan wajah bertanya-tanya. Dari kamar mandi, aku kembali ke ranjang, tidur bersama ibu. Saat kami sama terlentang di atas ranjang, ibu diam dengan mata kosong menatap langit-langit kamar. Ia tidak meneruskan ceritanya.  Malam aku tiur tanpa cerita ibu tentang Sri Ayu Ningrum .

Ketika aku terbangun, kulihat wajah ibu sembab, matanya memerah, wajahnya sangat lusuh. Nampaknya ibu tidak tidur malam itu. Ia menangis, masih terlihat sisa air matanya yang jatuh di pipi dan bantal.

“Ibu tidak tidur semalam?” tanyaku.

Ibu mengangguk pelan, dan air matanya perlahan kembali jatuh.

“Kenapa ibu menangis?” Aku merangkul ibu, berusaha untuk membuatnya tenang.

Saat tubuhku dan tubuh ibu menempel, dadaku bergejola, gairah aneh itu kembali menjalar keseluruh bagian intim tubuhku. Aku berusaha keras menahannya. Tapi desahan kenikmatan spontan keluar dari mulutku, dan celana dalamku basah kembali.  Tangis ibu semakin menjadi-jadi saat melihatku mendesah kenikmatan.

“Apakah celanamu basah?” tanya ibu di sela-sela tangisnya. Suaranya penuh beban.

Aku mengangguk pelan: gugup. Sontak ibu melepas pelukanku, dan ia menangis dengan sangat sedih. Aku bingung melihat tingkah ibu.

Setelah kejadian itu, ibu tak lagi terlihat bahagia, ia selalu murung dengan penuh kesedihan.

Ibu tak lagi bercerita tentang Sri Ayu Ningrum. Malam-malam kami hanya diselimuti kesunyian. Tiap kami tidur, ibu hanya diam di sampingku dengan air mata yang tak henti jatuh. Aku melihat matanya menyimpan kesedihan yang sangat. Aku ingin memeluknya, tapi aku takut gairah aneh itu menjalari tubuhku. Aku ingin menenangkan ibu kala itu. Tapi aku takut, rintihan kenikmatanku akan memperkalut hatinya. Hingga malam-malam kami di ranjang dihabiskan tanpa percakapan.

Ibu  sangat berubah, hari-hari kami dilewati dengan kebisuan  masing-masing. Aku sangat merasa kesepian. Rumah sepi, tak terdengar lagi perkataan ibu. Ia hanya sibuk memasak, mencuci, dan duduk dengan sedih. Ibu jarang bercakap denganku. Suaranya terdengar kala ia menyuruhku makan, mandi atau berangkat sekolah. Tidak lagi kudapatkan kasih sayang ibu. Ibu hanya diam, dan diam, seperti orang asing yang baru datang ke rumahku. Aku sangat sedih menjalani hari-hari tanpa percakapan dengan ibu.

Hingga pada suatu malam aku memberanikan diri bertanya perihal perubahan ibu. Ibu tidak menjawab, ia membiarkan aku larut dalam pertanyaanku sendiri. Hidupku semakin kesepian, aku merasa tidak lagi punya ibu. Di rumahku hanya ada aku dan pembantu. Ya, pembantu  yang hanya melayaniku: menyiapkan pakaian, makan, dan membangunkanku untuk pergi ke sekolah. Tak ada lagi ibu di rumahku, sikapnya sudah berubah menjadi babu.

Sejak aku bertanya tentang kesedihan ibu, kami pisah ranjang. Gelap dan sunyi kulewati sendirian. Setiap  hendak tidur, aku merindukan ibu, aku juga merindukan cerita ibu tentang Sri Ayu Ningkrum. Kebiasan ibu bercerita sebelum aku tidur perlahan aku coba hapus. Tapi kenangan itu, cerita tentang Sri Ayu Ningkum selalu melekat dalam ingatanku. Hingga tanpa sadar kisah ibu selalu kuingat sebagai pengantar tidurku.

Biasanya ibu memulai cerita Sri Ayu Ningkrum dengan pembukaan seperti ini:

“Perempuan adalah intan permata yang berkilau dalam samudra. Indah, tapi berbahaya untuk dimiliki. Laki-laki bagai serpihan debu yang berterbangan di hadapan wanita. Sebab wanita bagai angin yang bisa meluluhlantakkan jagatnya laki-laki.” Dan setelah itu, ibu pasti akan bercerita tentang kecantikan Sri Ayu Ningkrung yang menjadi rebutan semua laki-laki. Ibu sangat bersemangat saat menceritakan tentang peperangan pemuda yang memperebutkan kecantikan Sri Ayu Ningkum. Aku akan mulai tertidur saat ibu menutup ceritanya dengan menjelaskan keputusan Sri Ayu Ningkrum untuk menjadi perawan seumur hidup.

**

Tiga tahun lebih ibu tidak bicara denganku. Baru setelah aku duduk di bangku SMA, ibu kembali seperti semula. Waktu itu, ibu sering sakit-sakitan, hari-harinya lebih banyak ia habiskan berbaring di ranjang. Dan sejak itu aku kembali tidur serajang dengan ibu. Seperti di masa kecilku dulu, ibu juga sering bercerita tentang kisah Sri Ayu Ningkrum padaku. Tapi ibu tidak lagi menceritakan tentang kecantikan Sri Ayu Ningkrum. Ia lebih sering bercerita kisah hidup Sri Ayu Ningkrum setelah memutuskan untuk menjadi perawan seumur hidupnya.

Di sela-sela batuknya, ibu menceritakan kisah hidup Sri Ayu Ningkrum saat pergi menyendiri ke gua tak bernama. Kata ibu, gua itu sangatlah gelap, tak terlihat sekelilingnya. Hanya terdengar kepak kelelawar dan desis ular. Sri Ayu Ningkrum menangis meratapi nasibnya di Gua itu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengubah namanya menjadi “Ningrum”,  dan membuang nama “Sri Ayu” bersamaan terbuangnya masa lalunya di gua itu.

Ada rasa yang aneh menjalari tubuh Ningrum waktu ia keluar gua. Entah, ia sendiri tidak tahu apa itu. Setelah ia kembali ke istana, baru ia sadar, ternayata ia lebih suka perempuan dari pada laki-laki. Betapa tersiksaanya ia mendapati kenyataan itu. Kecantikannya seakan tak berguna. Rasa itu semakin hari semakin menjalari tubuh Ningrum, hingga membuatnya menyetubuhi seluruh perempuan istana. Dan pada suatu malam, Ningrum melakukan hubungan badan dengan salah satu pangeran kerajaan desa sebrang yang menyamar jadi wanita.

Nama Sri Ayu Ningkrum kembali disematkan pada dirinya setelah ia menjadi gunjingan masyarakar istana lantaran kehamilannya. Anaknya bernasib sama dengan Sri Ayu Ningrum—sama-sama suka sejenis. Ibu kembali menangis sampai sesenggukan setelah berceritakan tentang anak Sri Ayu Ningkrum, dan baru berhenti saat ia benar-benar tertidur.

Setelah mendengar cerita ibu, aku dilanda ketakutan. Aku sangat benci melihat laki-laki, dan berhasrat saat melihat wanita. Bahkan tidak jarang celana dalamku sering basah saat berpelukan atau berciuman dengan teman perempanku di sekolah. Aku benar-benar takut waktu itu, takut bernasib sama dengan Sri Ayu Ningrum. Ketakutanku membuatku murung, semurung usia ibu yang semakin rentah.

Kemurunganku semakin menjadi-jadi tatkala ibu sudah meninggal. Sebelum ibu meninggal, ia memberitahuku, bahwa ibulah Sri Ayu Ningrum yang sering ia ceritakan padaku.

 

Kutub, Yogyakarta, 9-Januari-2019

Biodata Penulis

Khairul Fatah lahir di Sumenep, 02-Februari-1998. Sekarang tinggal di PPM Hasyim Asyiari, Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Kelas Menulis Cerpen Kutub (KMCK). Cerpennya pernah dimuat diberbagai media, diantaranya, Cendana. New, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Fajar makasar dan berbagai media lainnya.

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *