oleh

Srikaya, Ikon Masyarakat Desa Langsar

Khas dan Tidak Dimiliki Daerah Lain

Sebelah utara Pasar Bluto, baik pagi maupun sore hari, akan terlihat banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan yang menjual buah Srikaya yang diwadahi klasah (anyaman bambu yang berbentu setengah bola). Buah yang unggul yang banyak ditemui di daerah daratan tinggi di Sumenep.

MOH TAMIMI, BLUTO

Buah srikaya merupakan buah unggulan bagi Sumenep, bahkan di Nusantara sendiri, buah ini banyak ditemui di daerah daratan tinggi. Meskipun banyak ditemui di daratan tinggi, khususnya di Sumenep, aroma, rasa, dan ke khasan Srikaya dari Desa Langsar, Kecamatan Bluto, adalah rajanya.

Apabila ada pasokan buah srikaya, maka yang akan ditanyakan oleh pedagang maupun pembeli pertama kali ada asal buah srikaya tersebut.

Seperti dikatakan petani sekaligus pedagang buah srikaya bernama Sahriyeni, nenek asal Desa Palongan Kecamatan Saronggi tersebut mengungkapkan bahwa ia hendak menjual maupun membeli melihat srikayanya dulu dari mana, karena terdapat perbedaan yang begitu mencolok di matanya, baik dari warna, bentuk kulit, dan rasanya sendiri.

“Tadi ada Srikaya satu pick up datang dari Raas (Pulau Raas, red) ke sini, tetapi tidak dibeli karena rasanya beda, kurang manis, dan kurang laku. Biasanya kalau orang yang membeli srikaya itu yang dipertanyakan pertama kali adalah Bhathllah (asalnya, red) dari mana?” ungkapnya saat diwawancarai Kabar Madura saat berjualan, Senin (11/3).

Menurut Sahriyeni, srikaya yang bagus memang dari Desa Langsar, dan terkenal. Sebab, warna kulit lebih hijau (Madura: Bhiru) dari Srikaya Langsar, rasanya juga lebih manis daripada Srikaya yang berasal dari Raas. Untuk membuktikan, dia menunjukkan tumpukan Srikaya yang berasal dari Raas di dalam tempat penyimpanannya dalam gubung bambu beratap seng.

Sementara itu, petani Srikaya asal Desa Langsar bernama Saona mengaku, kebanyakan warga desanya menanam srikaya di lahan dekat rumahnya (orang Madura menyebut Tabun), sehingga tidak mengganggu tanaman di tengah-tengah lahan. Sedangkan musim panen srikaya sama dengan musim tanam jagung.

Harga  dan ukuran klasahnya pun beragam, ada dua macam klasah yang digunakan, ukuran kecil dan ada besar. Ukuran besar bisa dibandrol dengan harga Rp80 ribu sampai Rp100 ribu, sedangkan klasah kecil seharga Rp40 ribu sampai Rp60 ribu. Bisa juga membeli satuan, atau jhinaan (sepuluh buah), atau angka’an (enam buah) dengan harga yang beragam sesuai ukuran dan kualitas Srikaya. (waw)

Komentar

News Feed