oleh

Stagnan, Polres Sampang Kesulitan Kembangkan Penyelidikan Kasus Ambruknya Gedung SDN

Kabarmadura.id/Sampang-Pasca Kepolisian Resor (Polres) Sampang menetapkan dua orang tersangka, yakni DCF selaku pelaksana proyek dan HL sebagai konsultan pengawas dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi ambruknya gedung SDN 2 Samaran, Kecamatan Tambelangan beberapa waktu. Hingga kini pengembangan kasus yang menyebabkan kerugian negara hingga ratusan juta itu berjalan stagnan.

Padahal sebelumnya, pihak Polres Sampang menyebut ada keterlibatan sejumlah pihak lain dalam kasus tersebut. Sayangnya, hingga kini dugaan itu belum ada terbukti. Padahal pihak penyidik sudah melakukan pemanggilan terhadap belasan saksi dari berbagai pihak yang diduga terlibat untuk dimintai keterangan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Sampang AKP Riki Donaire melalui penyidik Ipda Indarta mengatakan, untuk berkas dua tersangka DCF dan HL sempat P19 dan sudah dipenuhi. Dalam waktu dekat pihaknya akan mengirim kembali berkas oti ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang.

Dirinya mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan bertambah ada keterlibatan pihak lain atau tersangka baru dalam kasus itu. Akan tetapi, untuk memastikan hal itu, pihaknya mengaku masih menunggu hasil penyidikan.

Tidak hanya itu, pihaknya mengaku masih kesulitan dalam melakukan pembuktian untuk kemudian menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi ambruknya gedung SDN 2 Samaran.

“Kami kesulitan untuk mencari konspirasinya, berbeda dengan penanganan kasus SMPN 2 Ketapang itu,” ucap Indarta, Selasa (21/4/2020).

Lanjut dia, untuk saksi yang sudah dilakukan pemeriksaan dan dimintai keterangan, yakni pihak kepala sekolah, PA, PPK, dan PPTK, serta pihak-pihak lain yang dinilai terlibat dalam proses pembangunan tersebut, termasuk tim perencana, ahli dan juga auditor.

Namun demikian, hingga kini kasus itu masih dilakukan pendalaman dan pengembangan. Saat ini terang dia, hanya dua orang yang sudah jelas melakukan pelanggaran hukum, yakni pihak pelaksana yang terbukti tidak melaksanakan sesuai dengan kontrak. Kemudian, pengawas yang secara sengaja membiarkan pelaksana tidak melaksanakan sesuai dengan kontraknya.

“Saksi yang sudah diperiksa ada sekitar 15 orang dan ahlinya dua orang. Namun, dua orang tersangka ini sampai saat ini masih belum menyampaikan secara terus terang terkait keterlibatan pihak-pihak lain, hal ini yang menyulitkan penyidik untuk melakukan pembuktian terhadap pihak lain,” terangnya.

Sambung Indarta, pada prinsipnya Polres Sampang terus melakukan pengembangan kasus tersebut, khususnya terkait keterlibatan pihak-pihak lainnya, tidak terkecuali soal aliran dana yang digunakan.

Sebab menurutnya, berdasarkna hasil pemeriksaan oleh tenaga ahli, ditemukan beberapa pekerjaan yang terpasang tidak sesuai dengan RAB  dan gambar teknis yang telah ditetapkan dalam kontrak.

“Akibat ambruknya gedung itu, negara mengalami kerugian sekitar Rp133 juta,” tukasnya. (sub/pin)

 

Komentar

News Feed