Stoper Madura United Ini Main Bola Lantaran Sang Ayah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ SYAHID MUJTAHIDY) TALENTA MUDA: Stoper Madura United U18 Danny Iswara Kasih yang rela jauh bersama keluarga demi meniti karir sebagai pemain sepak bola.

Kabarmadura.id-Beraneka ragam punggawa Madura United U18 mendapatkan inspirasi untuk menekuni sepak bola. Salah satunya hadir dari stoper tim berjuluk Laskar Sape Kerrab Ngodeh Danny Iswara Kasih.

Pasalnya, Danny bermain sepak bola bukan terinspirasi dari bintang besar dunia. Akan tetapi, dia tergugah hatinya untuk bermain bola lantaran sang ayah Winedy Purwito.

Bacaan Lainnya

Pecinta sepak bola nasional terutama Bonek Mania bakal mengingat nama Winedy yang berjasa mengantarkan Persebaya Surabaya merenggut gelar juara Piala Utama tahun 1990, setelah menundukkan Pelita Jaya dua gol tanpa balas.

Kiprah Winedy tak terhenti sebagai atlet sepak bola, namun dia sukses menduduki bangku kepelatihan mengantarkan Persepam Madura United ke kasta tertinggi kompetisi domestik Indonesia. Saat ini, dia menjabat sebagai Direktur Teknik Madura United Football Academy (MUFA).

Tak ayal, bek Madura United U18 ini menyimpan asa bisa menapaki jejak sang ayah yang sukses di dunia sepak bola.

“Ayahku (Winedy Purwito) pemain sepak bola. Jadi, aku dari kecil sudah dikenalkan sama sepak bola. Dari situ, aku suka main sepak bola ingin jadi seperti ayahku,” curhat Danny kepada Kabar Madura, Senin (4/5/2020) pagi.

Sebelum bermain untuk Madura United U18, talenta muda kelahiran 21 September 2003 itu juga masuk sebagai komposisi Madura United U16. Di dua kelompok usia tersebut, kata Danny, mampu mengembangkan kualitasnya mengolah si kulit bundar.

“Banyak banget,  membahagiakan bisa bergabung bersama keluarga besar Madura United; banyak pelajaran yang diambil saat bersama Madura United. Saya juga banyak kesempatan untuk mengembangkan prestasi dan karir saya bersama Madura United,” terangnya.

Pemain asal Jalan Joyoboyo Surabaya itu menuturkan tidak mudah meniti karir sebagai sepakbola. Dia harus terpisah jauh dengan sang ibu Nunuk Supraptiyah. Sebab, dia harus tinggal di Kabupaten Pamekasan sebagai basis Elito Pro Academy (EPA) Madura United.

“(Mengorbankan) tenaga, pikiran, dan mental yang selalu ingin menjadi lebih baik terus ke depannya. Saya rela meninggalkan pelajaran untuk main bola, rela jauh dari keluarga,” tutup Danny. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *