oleh

Suaidi; Meskipun Jadi Dosen, Tetap Semangat Berwirausaha

Kabarmadura.id /Pamekasan-Riwayat hidup seseorang kadang tidak sama, ada yang menjadi guru, petani, pegawai dan lain-lain. Tapi perlu diketahui bahwa setiap orang pasti mempunyai keterampilan khusus. Sesederhana itu Suaidi memaknai kehidupan sosial.

PAMEKASAN, MUKHTARULLAH

Suaidi merupakan pria kelahiran Sumenep 2 Agustus 1985 lalu. Dia merupakan anak pertama dari tga bersaudara. Meski lahir di Sumenep, dia menghabiskan banyak masa remajanya di Kecematan Pakong, Kabupaten Pamekasan.

Setelah beberapa tahun di Pakong, Suaidi memilih menempa ilmu di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Sejak Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Annuqayah, Suaidi sudah dikenal sebagai seorang yang giat belajar, bahkan dia dikenal sebagai pembaca ulung. Tidak heran kemudian, kalau sekarang dia menjadi seorang penulis andal.

Karyanya pun banyak nongkrong di media ternama, bahkan sudah ada beberapa buku yang telah diterbitkan.

Tidak ingin melepaskan diri sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee, setelah lulus MTs 1 Annuqayah, dia masih ingin tetap melanjutkan studinya di tempat tersebut. Dia memilih menempa ilmu di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Annuqayah.

Sejak itulah Suaidi semakin terlihat potensinya sebagai seorang penulis muda, meski pada waktu itu karakter penulisannya lebih kepada sastra—puisi.

Bagi Suaidi, masa-masa di pesantren, puisi yang ditulis hanya untuk mengisi kehidupannya, karena baginya puisi tidak akan terlepas dari kehidupannya.

Setalah lulus dari MAK Annuqayah, Suaidi rupanya masih tidak ingin beranjak dari Annuqayah. Dia memilih untuk melanjutkan S1 di INSTIKA Guluk-guluk, Sumenep.

“Di INSTIKA saya bertemu dengan orang-orang hebat di beberapa organisasi kemahasiswaan yang tidak pernah di sangka sebelumnya,” ungkapnya, Senin (24/8/2020).

Demi mengembangkan potensi diri, dia mengikuti beberapa organisasi, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lainnnya. Dia tetap aktif di beberapa organisasi yang ada di kampusnya sampai lulus.

Tidak puas dengan keilmuan yang dimiliki, dengan pertimbangan yang sangat matang akhirnya dia melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di UIN Sunan Kalijaga dia mulai kehidupan akademisnya.

Setelah menyelesaikan S2, dia kembali lagi ke Ponpes Annuqayah dengan status sebagai dosen INSTIKA. Namun kali ini pengabdiannya tidak berlangsung lama. Karena dirinya harus memilih menjadi tenaga pendidik di IAIN Madura.

Meski menjadi dosen, menulis tetap menjadi kecintaannya. Di tengah kesibukannya, dia tetap tidak meninggalkan kehidupannya yang sangat mencintai kesusastraan.

Selain menjadi dosen, dia juga terjun di dunia kewirausahaan yang dia bangun dengan sederhana. Dari menjual madu asli Madura, dia memulai usahanya. Sekarang mulai beranjak dan merintis beberapa usaha dengan kemampuan yang dia miliki.

Dia juga menggerakkan beberapa orang di beberapa desa yang ada di Sumenep untuk membudidayakan batik sebagai warisan budaya lokal. Usaha ini dia bangun, agar masyarakat tidak kelimpungan demi mencapai satu penghidupan.

“Sampai sekarang membangun desa-desa adalah harapan saya, yang tidak mungkin berakhir,” pungkasnya. (pin)

Komentar

News Feed