Suara Para Rektor Dukung Tol Madura

  • Whatsapp

Kabarmadura.id-Setelah terbit Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan, kini muncul usulan baru dari sejumlah tokoh masyarakat Madura, yakni Jalan Tol Lintas Madura.

Sementara, dalam perpres tersebut, pemerintah pusat sudah merancang anggaran sebesar Rp238 miliar untuk peningkatan dan pelebaran jalan Bangkalan-Pamekasan. Kemudian rencana membangun jalan raya Modung-Sreseh dengan perkiraan anggaran sebesar Rp300 miliar.

Selain itu, reaktivasi jalur kereta api Kamal-Sumenep. Rencana tersebut, juga masuk dalam Perpres 80/2019 yang estimasi anggarannya sekitar Rp3,3 triliun.

Jalur kereta api tersebut, pernah aktif sejak era Hindia Belanda dan berakhir pada tahun 1984 karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi.

Kini, wacana mengaktifkan transportasi umum itu kembali menguat. Namun, sebagian tokoh Madura juga menginginkan pembangunan jalan tol yang mampu dilintasi semua jenis kendaraan, baik pribadi, umum dan angkutan barang.

Usulan para tokoh yang mengatasnamakan Dewan Pembangunan Madua (DPM) tersebut, juga didukung kalangan akademisi, ulama dan politisi. Terdapat juga tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di setiap kabupaten di Madura. Bahkan empat rektor kampus ternama ikut membubuhkan tanda tangan dukungan.

Para pimpinan kampus tersebut antara lain, Rektor Universitas Trunojoyo (UTM) Muh. Syarif, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Mohammad Kosim, Rektor Universitas Madura (Unira) Rizqina dan Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Syaifurrachman.

Bahkan, Rektor UTM Moh. Syarif mengaku sudah membentuk tim perekonomian percepatan Bangkalan untuk merealisasikannya. Saat ini, menurutnya, tinggal pembentukan langkah strategis dari Pemkab Bangkalan, agar rencana tersebut bisa segera diwujudkan.

“Pada dasarnya saya sangat mendukung rencana ini dan kami sudah membuat tim untuk melakukan analisisnya. Kalau saya lihat pemkab juga harus membuat tim untuk pembangunan itu. Jika tidak, pembangunan ini kembali tidak akan terwujud,” paparnya.

Baca juga: Respon Ulama dan Budayawan soal Rencana Proyek Tol dan Kereta Api Madura

Baca Juga: Legislator Kompak Dukung Pembangunan Tol Madura

Menurutnya, pembangunan jalan tol tersebut sangat penting untuk dilakukan di Madura. Sebab, selama ini pembangunan jembatan Suramadu belum berdampak signifikan. Jika nantinya, klaimnya, akan berdampak pada naiknya pendapatan Bangkalan.

“Jika ini benar berjalan, perubahan Bangkalan akan begitu terasa sesuai dengan perkembangan yang ada,” paparnya.

Jika gagal, ujar Syarif, dampak lebih besar juga akan dirasakan Madura. Karena pemerintah pusat tidak akan lagi menganggarkan percepatan pembangunan di Madura dan tidak akan diberikan lagi proyek pembangunan yang mampu menunjang perekonomian Bangkalan.

“Saya yakin jika ini gagal, Madura, Bangkalan tidak akan ada proyek pembangunan dari pusat lagi. Jadi kita harus siapkan dan benar-benar harus siap. Baik regulasi dan ada kerja sama dengan tokoh-tokoh di Bangkalan. Ini kesempatan emas bagi Madura dan akan sangat sayang jika gagal,” tutupnya.

Sedangkan Rektor Unija Sumenep Sjaifurrachman menyetujui usulan pembangunan jalan tol Madura tersebut, karena berdasarkan hasil dialog dari sedikitnya 25 tokoh, akademisi, politisi, petinggi organisasi mahawiswa dan ulama di Madura.

“Kami para rektor, para kiai dan tokoh Madura ini, memang sepakat mengajukan kepada pak presiden terkait pentingnya sarana jalan tol untuk Sumenep sampai Bangkalan dan sebaliknya. Jembatan Suramadu belum cukup untuk mengembangkan Madura, terutama di sektor perekonomian,” tutur Rektor Unija Sjaifurrachman, Minggu (23/2/2020).

Sebagai akademisi, jelas Syaifur, dirasa sangat perlu untuk terlibat menyuarakan pembangunan di Madura. Alasannya, indeks pembangunan manusia (IPM) dan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan Madura masih terburuk di Jawa Timur.

Sehingga dengan fasilitas infrastruktur yang memadai, diharapkan bisa mendongkrak kemajuan dari berbagai sektor.

Pembangunan jalan tol disebut tidak ada kaitannya dengan wacana reaktivasi jalur rel kereta api Madura, karena keduanya berdiri di atas kebijakan yang berbeda. Namun jika keduanya terealisasi, maka ada pilihan fasilitas transportasi di Madura bagi masyarakat.

“Loh beda dengan wacana itu, rel kereta api itu kan kebijakan gubernur sedangkan jalan tol ini kan kami usulkan langsung ke Pak Jokowi dan kami yakin beliau sudah mendengar usulan kami,” tegasnya.

Sementara itu, IAIN Madura Mohammad Kosim yang ikut menandatangani usulan yang mengatasnamakan Dewan Pembangunan Madura itu, gagasan tol lintas Madura dan revitalisasi jalur kereta api, sangat dimungkinkan akan memajukan seluruh aspek dan bisa saling menguatkan. Alasanya, moda transportasi di Madura masih perlu dikembangkan.

“Jadi dua-duanya jalan untuk saling mendukung peningkatan, jika keduanya jalan, maka lintas ekonomi terutama sangat cepat, sehingga memudahkan masyarakat Madura untuk maju,”ungkapnya.

Kendati demikian, Kosim tidak memungkiri bahwa pembangunan infrastruktur juga berpotensi menimbulkan konflik agraria, apalagi Madura memiliki adat tidak menjual tanah sangkolan  atau tanah warisan. Namun sejauh pantauannya, setiap pembangunan perlu pendekatan persuasif kepada setiap warga.

“Tentu pemilik lahan harus berpikir untuk kepentingan umum, untuk kepentingan yang lebih besar kepada masyarakat Madura, saya rasa di mana-mana ada problem agraria itu, hampir semua wilayah yang kena pembangunan tol dan kereta api ada masalah dengan tanah, tapi rata-rata semua teratasi,” jelasnya.

Sedangkan Rektor Unira, Rizqina menilai, pembangunan tol lintas Madura sangat penting untuk menunjang mobilitas masyarakat yang punya kepentingan keluar Madura.

“Kami mendukung karena jalan di Madura terlalu sempit dan volume traffic kendaraan relatif tinggi,” ungkapnya.

Soal adanya rencana reaktivasi jalur kereta api, dia menilai akan sulit terealisasi. Sebab, lahan di bekas jalur kereta api itu, sudah banyak beralih fungsi jadi pemukiman, sehingga perlu usaha yang tinggi dari semua kalangan untuk mewujudkannya.

“Revitalisasi KA itu akan sulit karena jalur KA sudah ditempati rumah di hampir sepanjang jalan raya Pamekasan-Sampang,” pungkasnya. (ara/rul/ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *