Suka Atau Tidak, Perempuan Harus Menikah

  • Bagikan

Oleh : Kavya Atmaranti

 Apakah perempuan akan selalu menjadi yang paling tersakiti?

“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik Kang, kalau cuma pekerjaan rumah dan momong Ethes saja masih bisa!” Tegasnya saat suaminya menawarkan asisten rumah tangga untuk membantunya.

Pekerjaan mulia menurut Santi adalah perempuan yang bekerja di sebuah rumah tangga. Bekerja sebagai ibu rumah tangga, pagi-pagi sekali selepas subuh ia harus tetap terbangun menyiapkan sarapan, nyapu, nyuci baju kalau sempat. Menyiapkan baju kerja suami, belum lagi kalau anak nangis minta susu. Untung kalau masih dan mau susu formula, kalau tidak Santi harus menyusui di barengi pekerjaan pagi yang lumayan padat.

Kembang desa sekarang menjadi seorang nyonya atau tepatnya nyoya Aqil. Istri dari orang kaya, rumah mewah, menantu seorang dewan desa. Kalau dia mau, hidup Santi bisa seperti putri raja yang ditayangkan di televisi. Tapi, memang keinginian Santi, ia tak mau dibantu oleh asisten rumah tangga. Suaminya takut kecantikan Santi berkurang bila terlalu capek bekerja, ibu mertua kawatir tangan Santi akan kasar saat bersalaman dengan teman-teman arisan ibu mertua. Memang tidak seperti kebanyakan mertua pada umumnya yang semakin sayang pada menantu, jika bisa mengurus pekerjaan rumah. Tapi, Santi tetap ingin melakukan semua dengan tangannya, padahal banyak warga yang menawarkan diri untuk bekerja disana.

“Aku takut kau kecapean Dek, kau akan cepat keriput. Aku menjadikanmu istri bukan hanya untuk mengurusi rumah kita saja.”

“Dengar Kang, akupun masih sanggup untuk melayanimu. Kalau kau butuh aku bilang saja, toh tiap malam kamu bahagia besok pagi malas berangkat kerja”

“Baguslah kalau begitu, aku berangkat dulu. Nanti siang aku pulang makan siang di rumah!”

Suami Santi, Aqil adalah seorang camat. Menurut peraturan yang tertulis, seorang camat harus selalu ada di kantor desa saat jam kerja. Sebenarnya tanpa jadi camat pun hidup dari harta ayahnya sudah mencukupi. Tapi namanya juga orang kaya, apa saja bisa didapat. Dibalik uang berlimpah dan jabatannya banyak pula desas-desus dari warga.  Kata para warga kerjanya tak bagus-bagus amat, lambat, pejabat desa yang salah tapi marahnya kepada warga biasa. Tapi toh hidupnya enak-enak saja sampai sekarang. Bahagia!

***

            “Wajah gak ganteng, tapi istrinya kembaang desa. Orang tua kaya, kerjaan enak. Hidup kok mujur banget. Tapi Mbok ya yang ramah santun sama warga.”

Baca juga  Ayah dan Sepatu yang Tak Terbeli

“Sejak pencurian Senja di kediaman Seno, dan si Heru itu di penjara. Hidupnya makin melangit, kayak lahirnya bukan di ranjang saja. Sombongnya itu lo..hemmmm apa dia lupa kalau istrinya itu bekas pacar sahabatnya” Komentar-komentar warga tak pernah dihiraukan oleh Aqil. Ia menganggap semua hanya orang yang sedang iri padanya.

Perbincangan dan gossip-gosip seperti itu cepat tersebar dari mulut-mutut warga yang duduk-duduk pagi di warung Mbok Darmi. Bukan hanya menikmati pisang goreng, mereka juga menikmati aib-aib atau sekadar mencari informasi terbaru dari orang desa paling kaya, yang semakin kaya setiap harinya. Gosip dari warung kopi yang sedikit reyot itu memang paling cepat tersebar.

“Apalagi semenjak pembangunan gedung-gedung baru di sawah kita itu mbok, kalau dilihat-lihat keluarga mereka hidupnya semakin mewah.”

“Loh yah, uang kita itukan belum sepenuhnya dibayar atas sawah-sawah yang katanya di bagun gedung-gedung agar warga semakin sejahtera. Lah kalau dilihat-lihat yang sejahtera ya cuma itu-itu saja bener toh?”

            “Saya kok jadi iri itu sama Santi, hidupnya ikut makmur.” Kata mbok Darmi mengikuti topik gosip pagi itu.

“Halah, Mbok ini sudah tua kok mau iri sama yang masih bahenol”

“Itu namanya nasib mbok, pacarnya Santi dipenjara. Dia menikah dengan orang kaya.”

***

Selama dua minggu setelah penangkapan mantan kekasihnya, karena pencurian, Heru. Santi tidak mau keluar rumah. Kembang desa ini sama seperti kebanyakan para gadis lain yang sedang putus cinta. Mukanya murung, tidak mau makan harus dipaksa. Sertiap hari kerjaannya cuma menangis, duduk di kamar memeluk bantal. Akhirnya seminggu ia jatuh sakit.

Santi heran dengan warga sekitar, Heru sampai dipenjara toh yang ia curi hanya Senja. Tapi, kenapa selama ini Seno dibiarkan saja berkeliaran. Padahal ia mencuri Senja milik semua orang. Bisa saja bukit-bukit kini tak elok tanpa adanya Senja, langit sore tak lagi cantik tanpa jingganya. Bukan kah Seno juga mencuri, ia mencuri senja milik Tuhan dan milik semesta.

Kenapa warga tak menuntutnya, apa karena Seno punya banyak lahan, orang tuanya juga memiliki jabatan yang terpandang. Sehingga ia bebas mencuri apa saja? Bebas berperilaku apa saja, dan bebas menikahi siapa saja. Beruntunglah Alina laki-laki seperti Seno terpenjara cintanya, dan Buntungnya Heru lelaki sebatang kara hidupnya biasa saja yang menginginkan pernikahan mewah tapi harus berakhir di penjara.

Baca juga  Impian Melisa

Sekarang apa yang bisa Santi lakukan, ia anak gadis yang dibesarkan di desa. Cita-citanya hanya menikah dengan kekasihnya. Hidup berumah tangga, membesarkan anak-anak dan hidup bahagia dengan suaminya, Heru. Kemudian kejadian malam itu membuat cita-cita serta mimpinya kandas. Selain air mata tak ada lagi yang bisa ia keluarkan. Mengeluh sama saja, orang di rumah tak mau menanggapi ocehanya.

Walah, Sudah nduk  jangan nangis terus. Lah wong Heru itu juga aneh inginnya mau menikah kok pakai acara mencuri, apalagi mencuri di rumah Seno. Apa dia ndak tau Seno itu siapa?” Kata Ibunya.

“Buk, Kang Heru itu mencuri karena aku yang memintanya mas kawin seperti Alina”

“Huss, hati-hati kalau bicara. Kamu ini mau membela si Heru. Lha wong dia sendiri yang mengaku pada polisi, kalau dia tidak disuruh siapa-siapa. Wes kamu jangan asal bicara”

“Buk, Santi ini serius. Sehari sebelum Kang Heru ditanggap di rumah Seno, Santi memintanya mencuri Senja untuk mas kawin. Kita sudah berencana menikah, dan aku yang mau mas kawin Senja seperti kekasih Seno. Kang Heru terpaksa mencuri!”

Wes..wes..wes.. Sekarang ini kamu pikirkan mau apa selanjutnya, Ibu gak setuju kalau kamu masih memikirkannya, apalagi menunggunya kemudian ndak nikah-nikah. Apa kata tetangga kalau anak perempuan sudah berumur tapi belum menikah, nanti dikatakan perawan tua. Jangan bikin malu keluarga!”

“Tapi buk, Santi maunya menikah sama Kang Heru. Hidup dan mati sama dia, kita sudah berjanji Buk”

Halah, lupakan saja janjimu itu nduk. Ibuk yakin, Heru juga akan merelakanmu menikah dengan laki-laki lain. Dia juga tidak akan setuju kalau kamu menjadi buah bibir warga desa”

***

Dimanakah nilai keistimewaan dari pernikahan, kalau kita tak bisa menikah dengan orang yang kita inginkan. Tuhan memang akan memberi yang hambanya butuhkan, mungkin kebutuhan uang dan menikah dengan orang yang lebih kaya adalah jalannya. Tapi hati Santi tetap tak mau mengerti. Hatinya telah mati, patah, atau mati suri sebab setengahnya dibawa Heru dibalik jeruji besi.

Lepas satu bulan, keluarganya melancarkan perjodohannya dengan Aqil. Aqil, sahabat satu-satunya Heru. Jika perjodohan itu lancar, pasti Santi tidak akan sanggup menemui Heru selepas ia bebas nanti. Tapi, apalah daya, dirinya yang sekarang adalah kembang desa yang telah layu, raga dan perasaanya milik bapak ibunya, apa-apa yang menjadi rencana hidupnya telah beralih menjadi rencara orangtuanya.

Baca juga  Perempuan Ojek Payung dan Segumpal Luka

Hasilnya, Santi hanya mengiyakan saja apa yang diminta oleh ibunya. Seperti menemui Aqil dan keluarga besarnya, menemani menyiapkan lamaran, hingga persiapan pernikahan. Begitulah perempuan desa, apalagi kekasihnya mendekam di penjara. Orang tua mana yang akan rela menikahkan putrinya dengan mantan narapidana.

Hari pernikahan tiba, setelah mengurung diri Santi tetaplah kembang desa yang harum dan mekar. Santi benar-benar masih tetap menjadi rupawan sampai sekarang. Kembang yang benar-benar baru mekar setalah daun-daunnya gugur, ia mulai bersemi kembali. Senyum merah merekah, dengan riasan adat yang membuatnya menawan. Tubuhnya yang molek sedikit lebih kurus, tapi masih cukup berisi untuk mempercantik kebaya yang ia kenakan. Tapi, apakah hatinya juga mekar?

Sebelum hari pernikahanya, Santi berkeinginan mengunjungi Heru. Tapi tak diperbolehkan orang tuanya, kabarnya Aqil yang pergi kesana. Santi membayangkan perasaan Heru saat mendengar kabar pernikahannya, Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Acara pernikahan berjalan dengan lancar, sesuai rencana keluarga. Aqil terlihat bahagia, keluarga besarpun demikian. Tak masalah jika Santi adalah bekas pacar sahabatnya, toh sekarang ia sudah menjadi istrinya. Yang lebih penting ia tetap cantik, sama cantiknya ketika ia berpacaran dengan Heru. Setelah mendapat izin dari Heru ia semakin mantap untuk menikahi Santi. Betapa bahagianya Aqil sekarang. Menikah dengan kembang desa, dan isunya lagi ia akan diangkat menjadi camat.

“Kau cantik sekali Dek”

“Makasih Kang” jawab singkat Santi.

Mereka masih berada di acara dan sedang menjamu tamu-tamu undangan dari keluarga-keluarga terpandang, kolega-kolega sang ayah, atau kini ayah mertua Santi.

“Menantumu sungguh cantik Mas!”

“Dia memang kembang desa disini, beruntunglah anakku menikahinya.”

“Kau sudah berumur Mas, cepatlah minta cucu darinya” sahut tamu undangan di barengi tawa yang menggelegar seisi ruangan menjadi riuh.

Hati santi mungkin juga riuh, kini raganya telah sah menjadi milik Aqil. Tapi bagaimana dengan setengah hatinya yang masih begitu resah, rasa bersalah akan selalu menghantui tidur Santi. Satu kesalahan yang belum mampu ia selesaikan, kini ia menambah satu kesalahan lagi.    “Kang Heru, semoga kelak kau bahagia. Aku memang tak pantas untuk mendampingi dan hidup dalam kebaikanmu” ucap Santi dalam hati, diiringi senyum merekah pada tamu dan suaminya.

 

*Kavya Atmaranti

(Penulis merupakan Penggiat Sastra dan Penulis Buku Puisi Kardiovaskular)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan