Sulit Eksplorasi, Kinerja Balai Karantina Pertanian Lelet

  • Whatsapp
(FOTO: KM/DOKUMEN) MEMELIHARA: Salah satu peternak saat menunjukkan ternaknya di kandang di Desa Dlemer, Arosbaya, Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Balai Karantina Pertanian Bangkalan belum mengeksplorasi potensi alam yang ada di Bangkalan. Padahal, tahun sebelumnya, stasiun karantina pertanian itu menargetkan akan fokus mengembangkan potensi daun kelor dan kambing putih dari Arosbaya. Namun, hingga melewati pertengahan tahun 2021, upayanya tersebut belum terealisasi.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Bangkalan Agus Mugiyanto menyampaikan, bahwa ada banyak potensi yang bisa dikembangkan, salah satunya daun kelor. Menurutnya, daun kelor di Bangkalan sangat mudah ditemui tetapi jarang warga bisa memanfaatkannya. “Kelor ini sangat fleksibel dan bisa diolah menjadi berbagai jenis produk,” katanya.

Agus menambahkan, upaya pemanfaatan itu harusnya bisa dimaksimalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat umum. Baik secara manfaat, dan pengolahan, sehingga nantinya semua masyarakat bisa mengetahui cara pengolahannya. “Kami belum mencoba, karena kondisinya masih pandemi, juga karena masih menyiapkan lahan mandiri,” paparnya.

Selain daun kelor, ia juga merencanakan akan menjalin relasi bersama dengan dinas terkait seperti dinas pertanian, dan dinas peternakan. Sehingga melalui relasi kerjasama tersebut, diharapkan potensi lokal yang juga menjadi perhatian pemerintah setempat juga bisa dibantu. “Kami belum bisa memaksimalkan karena masih terbatas anggaran dan juga pegawai,” ulasnya.

Selain itu, Anggota Komisi B DPRD Bangkalan Fadhur Rosi menyampaikan, berbagai sektor sudah bergerak cepat untuk memberi keringanan pada pekerja atau pengusaha yang terdampak ekonomi. Sehingga inovasi dan pengembangan terus selalu diupayakan. “Yang kami butuhkan saat situasi yang seperti ini adalah inovasi, sehingga warga juga bisa mengadopsinya,” tegasnya.

Menurutnya, semua organisasi atau badan yang berada di bawah pemerintah seharusnya bisa bersinergi, sehingga kekurangan dan kebutuhan bisa lebih mudah dilengkapi. Salah satunya adalah inovasi di bidang olahan produk peternakan dan pertanian.

“Banyak warga yang mulai kesulitan, sehingga kerap kali hanya bisa mengharap bantuan, jadi tidak bisa lambat lagi kinerjanya,” pungkasnya. (hel/maf)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *