oleh

Sumenep Kekurangan SDM Guru Bahasa Madura

Kabarmadura.id/SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terhambat sumber daya manusia (SDM) di bidang pendidikan formal Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebab, tak satu pun guru SMA di Kota Keris yang sesuai bidangnya. Sehingga, gelar S1 Bahasa Madura sangat sulit disandang guru.

Kepala Cabang Disdik Jatim Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso menyampaikan, sebanyak 165 SMA/SMK di Sumenep yang berijazah jurusan bahasa Madura sangat sulit disandang guru pengampu. Sulitnya bakat dan minat Bahasa Madura menjadi salah satu penyebab tidak adanya guru yang sesuai bidangnya.

“Di Kabupaten Sumenep tak sutupun guru yang bergelar S1 Bahasa Madura,” ungkapnya, Senin (21/10).

Selain itu, sulitnya perguruan tinggi juga menjadi salah satu penyebab tidak adanya guru Bahasa Madura. Bahkan menurutnya, perguruan tinggi yang membuka jurusan Bahasa Madura hanya di daerah Jawa. Salah satunya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Seluruh perguruan tinggi di Madura tak satupun yang membuka jurusan bahasa Madura,” tegasnya.

Dijelaskan, guru Bahasa Madura saat ini hanya dibekali kursus untuk memenuhi ilmu pengetahuan. Sehingga, pengetahuan atau skill guru tidak bisa diandalkan di sejumlah SMA/SMK Sumenep.

“Bukan hanya di SMA, di tingkat SD-SMP juga sangat sulit ada guru yang mengajar di luar bidangnya,” paparnya.

Dia menambahkan, pemerintah mengeluarkan bahasa lokal berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 19 Tahun 2014. Di dalamnya memuat penegasan bahasa daerah diwajibkan di masing-masing sekolah tingkat SD sampai SMA sederajat.

“Waktu pelajaran bahasa yakni 2 jam. Itu berdasarkan pergub,” paparnya.

Dia berharap, kampus di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep bisa membuka jurusan bahasa lokal yakni Bahasa Madura. Supaya calon mahasiswa atau guru nantinya bisa kuliah di daerahnya. Dengan demikian, pengembangan skill Bahasa Madura dapat diaplikasikan di sekolah masing-masing.

Sementara itu, Wakil DPRD Kabupaten Sumenep Indra Wahyudi mengutarakan, guru Bahasa Madura harus benar-benar diperhatikan. Setidaknya guru yang mengajar Bahasa Madura punya dasar kebahasaan itu sendiri.

“Kredibilitas guru juga menentukan kualitas murid nantinya,” ucapnya.

Menurutnya, jumlah sekolah yang ada harus sebanding dengan jumlah guru bahasa daerah yang sudah bergelar S 1 atau sesuai bidangnya. Tentu harus ada kebijakan dari pemerintah, karena akan membawa dampak yang tidak baik jika tidak segera diperbaiki. (imd/nam)

 

Komentar

News Feed