Sunat Rp50 Ribu Insentif Guru Ngaji dan Madin di Bangkalan, Pelaku Mengaku Penyuluh Agama

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MENUNGGU: Para guru ngaji dan guru madrasah diniyah (madin) di Bangkalan menganggap potongan insentif ketika melakukan pencairan sudah lumrah.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN  – Insentif guru ngaji dan madrasah diniyah (madin) diduga kuat tidak utuh. Penerima yang seharusnya mendapatkan Rp600 ribu selama dua bulan untuk satu kali pencairan, saat ini di beberapa kecamatan insentif itu diminta kembali sebesar Rp50 ribu. Sehingga, guru ngaji dan madin hanya menerima Rp550 ribu.

Salah satu penerima insentif guru ngaji di Kecamatan Kamal MR (inisial) mengaku, sudah terdata menjadi penerima insentif sejak awal tahun 2021 lalu. Bahkan, sejak awal menerima memang diminta oleh salah satu oknum MU (insial) yang mengaku sebagai Penyuluh Agama di Kecamatan Kamal,  agar menyisihkan uang insentif itu untuk ustadz yang sudah membantunya agar mendapatkan bantuan.

“Setiap pencairan, memang saya berikan kepada ustadz tersebut sebesar Rp50 ribu,” ujarnya, Rabu (11/8/2021).

Tetapi, pada pencairan di bulan Agustus, MR memang sedang membutuhkan uang tambahan. Sebab, anaknya akan berangkat ke pondok pesantren (ponpes). Sehingga, MR dengan sengaja memang tidak memberikan jatah pada ustadz yang biasa menunggu di depan lokasi pencairan. “Saya dan beberapa teman memang tidak memberikan, karena memang butuh, dan juga karena dirasa cukup, karena sekitar 4 kali pencairan saya memberikannya,” paparnya.

Namun, setelah beberapa hari pencairan MU mendatangi rumah MR untuk meminta uang terimakasih Rp50 ribu itu. Kedatangan MU disebutkan sebagai utusan dari ustadz yang merupakan salah satu petugas Penyuluh Agama di Kecamatan Kamal. “Karena diminta ke rumah, saya berikan, dia juga hanya jadi utusan, jadi saya merasa tidak nyaman jika masih tidak memberikan” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Agama Kabupaten Bangkalan Zakariya menyebutkan, diantara 144 Penyuluh Agama, tidak menemukan penyuluh atas nama MU. Sehingga, tidak mungkin yang melakukan indikasi pemotongan insentif guru ngaji adalah penyuluh dari Kementerian Agama ( Kemenag) Bangkalan. “Kalau MU, saya rasa tidak ada, karena saya ingat semua nama penyuluh di Bangkalan,” responnya.

Sedangkan mengenai indikasi pemotongan, Zakariya menyampaikan, bahwa kemungkinan berhubungan dengan empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dulu pernah diminta menjadi tim verifikasi validasi (verval) untuk pengajuan insentif guru ngaji tersebut. Seperti LSM Gerbang Salam, Surya Langit, FKDT, dan juga GBK NU. “Dulu memang empat LSM ini pernah ditugaskan menjadi tim verval, mungkin jasa terimakasih atas itu,” paparnya.

Tetapi, karena tim verval hanya diberikan SK selama satu minggu, maka setelah data sudah selesai dan kebutuhan verifikasi sudah selesai, tim verval ini dibubarkan. Setelah itu, tidak lagi ada komunikasi, bahkan kemungkinan beberapa LSM itu sudah membubarkan diri. “Mungkin yang tersisa hanya anggotanya, sehingga kami pun juga tidak tahu pasti,” pungkasnya. (hel/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *