oleh

Sungai Patemmon

Karya; Helmy Khan

Satiha kembali meneteskan air mata. Sekeranjang bungaia taburkan di sungai Patemmon, mengalirkan duka air matanya yang tak pernah reda. Kerap matanya pejam dengan bibir terkatup dan dada teriris ia mengaminkan doa-doa kematian Surahmat.

Derai hujan dipipinya mengalir deras. Satiha bingung. Semenjak kematianSurahmat ia kerap berbagi kesah dengan sepi. Menatapcelurit yang tergantung sungsangdi dinding dengan tatapan mata tajam, seolah ia sedang berada di medan carok.

“Cong[1], besar nanti kau yang akan menggantikan ayahmu.” Ucap Satiha pada Hasan.

Ia kembali isak dengan tangisnya. Bibirnya terkatup. Dengan hati teriris ia berkisah tentang Surahmat. Matanyapejam, ia menuntaskan kesedihannya di pinggir sungai Patemmon.

***

“Ayahmu dulutewas di sini, Cong.” Kata Satiha dengan air mata tumpah.

“Kenapa, Bu?”Tanya Hasan, beriringan dengan daun jati yang jatuh di sungai Patemon. Air mengalir tenang, ia resapi setiap riak-riakgelombang sungai Patemmon. Sesekali membayangkan bagaimana ayahnya menghembuskan nafas terakhir setelah kalah dalam carok.

“Ayahmu tewas di tangan Zakip, Cong.” Jawab Satiha beberapa saat.

Hasan mengelus dadanya, berucap istighfar berulang kali. Ia masih belum mengerti mengapa setiap orang yang kalah dalam carok selalu dibuang ke sungai Patemmon. Ia pun masih belum paham mengapa para lelaki di desanya selalu menyelesaikan masalah dengan carok. Apa tak ada jalan lain? ia kembali diam. Air mengalir pelan, beberapa lembar daun hanyut di atasnya. Sekejap hilang di bawah akar pohon jati.

Adzan menggema di langit Bannaju. Senja di ufuk barat telah berganti petang. Seperti biasa setiap malam Jumat Hasan menemaniibunya memandikan celurit. Laiknya pusaka keramat, celurit itu dimandikan dengan rendaman air kembang yang di dalamnya turut tedapat tulisan huruf-huruf hijaiyah yang tak pernah ia tahu bacaannya.

Asap kemenyan menyuruak dalam kamar. Seingat Hasan semenjak umur tujuh tahun ibunya selalu mengajari bagaimana merawat celurit. Suatu ketika ibunya berkata, hanya orang sombong yang tak menyimpan celurit di rumahnya. Bukan tanpa alasan, sebab, katanya, celurit dapat dijadikan sebagai penjaga rumah juga sebagai pelindung diri dari mara bahaya.

Meski iatak tahu seni menggunakan celurit Hasan tak pernah menyingkirkan celurit itu dari dinding rumahnya. Ia percaya bahwa kata ibunya ada ruh para leluhur dan kekeramatan para pandai yang turut menyatu dalam celurit.

“Ke sini, Cong. Basuhlah celurit ini.” Pinta Satiha pada anaknya.

Hasan kaget. Tak seperti biasanya ibunya menyuruh memandikan celurit itu. Mengapa sekarang harus dia? Tanya Hasan dalam hatinya.Tanpa ragu ia mulai memandikan celurit itu membasuhnya dengan rendaman air kembang. Mengelapnya dengan selembar kain, mengasapi celurit itu dengan kemenyan dan merapal mantra seperti yang tertulis di selembar kertas di atas meja.

“Sekarang umurmu sudah dua puluh dua tahun. Ibu rasa sudah saatnya kamu yang menjadituan baru celurit ini.”Ucap Satiha pada Hasan. Angin berdesir pelan, api di sumbu lampu teplok meliuk-liuk. Bayangan Hasan bergerak-gerak. Satiha menunggu jawaban.

“Sudahlah. Cukup ayah yang menjadi tuan celurit ini.” Jawab Hasan lirih.

“Mengapa, Cong. Apa kamu tidak mau meneruskan ayahmu?”

Bulan serupa celurit menggantung di atas rumah. Bunyi jangkrik beradu dengan gesekan bambu seakan membelahsunyi malam itu. Hingga beberapa saat Hasan tak memberi jawaban. Ia terkungkung dalam keraguan.

“Aku tak tahu apa-apa soal celurit, Bu. Biar aku yang merawat celurit itu tanpa dipertuankan padaku.” Jawab Hasan ragu.

Mendengar itu Satiha mengelus dadanya. Ia tak habis pikir mengapa anak semata wayangnya tak mau menjadi penerus celurit peninggalan suaminya. Apakah dia rela membiarkan kematian ayahnya terhenti di sana. Satiha menunduk ke pangkuan bumi, meneteskan air mata kesedihan.

“Ingat, Cong. Uang dibayar uang, nyawa dibayar nyawa.” Ucap Satiha dengan nada kecewa.

Dari kerutan wajahnya, Hasan mengerti bahwa ibunya tak pernah rela mengikhlaskan kematian ayahnya. Hasan tak habis pikir  mengapa ibunya punya pikiran seperti itu? Apakah semua orang yang kalah dalam carok harus dibalaskan dendamnya. Jika demikian, apakah itu  tak merusak citra keluarga dan masa depan anaknya. Hasan kembali menunduk.

“Andai ibu punya buah zakar sebesar cabai rawit ibu sendiriyang akan membalas kematian ayahmu.”Satiha menuntaskan kesedihannya di bawah celurit yang digantung sungsang di paku payung.

***

“Cong, kamu jaga diri baik-baik.”Ucap Satiha di depan pintu kamarnya.

“Ibu mau kemana?” Tanya Hasan penasaran.

Satiha melangkah menjangkau celurit yang digantung di atas dinding. Tatapannya tajam menukik setiap lekukan mata celurit itu. Dengan suara serak Satiha berkata.“Ibu sudah buat keputusan malam ini ibu akan membalas kematian ayahmu.”

PandanganHasan jatuh ke bumi. Mengelus dadanya pelan sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok. Terdengar lirih nafas ibunya beradu dengan bunyi engsel pintu yang tertiup angin. Hasan mendongak ke atas serasa kepalanya pening. Ia harus mengambil keputusan.

“Biar aku saja, Bu.” Ucap Hasan bangkit  dari duduknya.

“Apa ibu tak salah dengar?”Hasan menggeleng. Seuntai senyum mengambang di bibir Satiha. Sekejap memeluk Hasan.

“Pergilah demi kematian ayahmu.” Satiha melepaskan pelukannya.

BajuSurahmat waktu carok dulu melekat sempurna di tubuh Hasan. Ikat kepala bermotif loreng-loreng turutmelingkar di kepala anaknya. Satiha mencabut beberapa helai rambut dari kepalanya dan meletakkannya dalam ikat pinggang Hasan. Matanya pejam merapal mantra seraya meniup ubun-ubun Hasan.

“Kembalilah dengan selamat, Cong.” Satiha meneteskan air mata.

***

Langkah Hasan terhenti di sungai Patemmon. Beberapa meter lagi ia akan sampai di tegalan tempat orang bercarok. Diambilnya celurit dari pinggang kirinya. Sekejap diletakkan kembali.

“Sedang apa kau di sini, Hasan.” Hasan memasang telinga baik-baik mencari dari mana asal suara itu. Terdengar derap kaki di belakangnya. Perlahan wajah itu nampak.Tak lagi asing baginya.

“Kau sediri sedang apa di sini.” Tanya Hasan pada Zainal.

“Aku sedang menjalankan tugas dari ayahku.” Jawabnya singkat.

“Tugas apa? Apa kau kesini untuk memancing ikan.”

Zainal  tak menjawab. Sinar rembulan jatuh di pohon siwalan. Bayangan langit penuh bintang memantul di atas sungai  Patemmon. Keciplak air sungai mengalir deras membentur bebatuan.

“Aku disuruh ayahku menemui lawan caroknya.”

Jantung Hasan seperti jatuh dari tangkainya. Betapa kagetnya, ternyata pembunuh ayahnya adalah orang tua teman karibya sendiri. Terbesit kata-kata ibunya bahwa nyawa harus dibalas nyawa.

“Aku lawanmu, Nal. Dua puluh satu tahun lalu ayahku tewas di tangan ayahmu.”

Tak sempat Zainal berucap celurit Hasan melesat kencang di sampingnya. Untunglah ia sigap menghindar. Jika tidak robeklah bahu kirinya. Keduanya memasang kuda-kuda. Beberapa sabetan mereka sama-sama meleset. Zainal mundur beberapa langkah. Kuda-kudanya diperkuat. Sementara Hasan bersiap menyerang. Matanya pejam, menatap Zainal seolah sedang menyayat leher pembunuh ayahnya. Celurit mereka beradu kencang sesekali percikan api keluar dari mata celurit itu. Serangan mereka tak menembus pertahanan satu sama lain.

“Bagaimana, apa kita akan meneruskan carok ini,” tanya Hasan. Giginya bergemeratuk menahan amarah.

“Tak usah, Nal. Cepat habisi aku. Aku tak akan melawan.” Zainal melempar celuritnya ke tanah. Matanya pejam bersiap menerima sabetan celurit Hasan.

Hasan kembali memasang kuda-kuda. Jari tangannya mencengkeram kuat gagang celurit. Hasan berdiri bersiap menebas leher Zainal.

Prak! Hasan lunglai, celuritnya lepas dari genggamannya.

“Aku tak tega menghabisi teman karibku sendiri,” ucap Hasan dengan bibir gemetar.

Di ujung tegalan suara burung hantu bersahutan, gemerisik air sungai Patemmon mengalir tenang. Zainal kebingungan.

“Kenapa begitu, apa kau ikhlas atas kematian ayahmu. Apa yang akan kau katakan nanti pada ibumu jika bertanya.”

“Tak usah pikirkan itu, ini demi masa depan anak cucu kita. Biar dendam ini tak berkepanjangan cukup orang tua kita yang mengenal carok.” Hasan kembali memasang sarung celurit itu

Mata mereka saling pandang. Tatapan mereka saling bertemu. Api dendam dalam hati Hasan perlahan padam. Bulan bergeser ke arah barat beriringan dengan awan tipis di atas langit. Dengan kesepakatan bersama mereka melempar celurit itu ke sungai Patemmon.

 

Karya: Helmy Khan. Penulis tercatat sebagai mahasiswa Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep. Aktif di LPM Dialektika & FLP Sumenep.

[1]Sebutan kepada anak laki-laki

Komentar

News Feed