Sungai Watch Temukan Indikasi Kesengajaan dalam Memerahnya Sungai di Pamekasan

News, Headline129 views

KABARMADURA.ID | PAMEKASANTercemarnya Sungai Klampar, yang berubah warna merah, masih jadi tanda tanya. Hingga tiga hari setelah peristiwa pada Senin (10/7/2023) lalu, belum ada titik terang mengenai apa penyebabnya. Kondisi itu kian menjadi sorotan publik, termasuk pengamat lingkungan.

Salah satu sorotan datang dari aktivis Sungai Watch Pamekasan (SWP). Mereka menuntut masalah tersebut segera diungkap, baik penyebabnya maupun siapa yang terlibat dalam tindakan yang mencemari air sungai itu.

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Seperti yang disampaikan juru bicara (jubir) SWP Miftahol Adzkiyah, pihak terkait harus segera membongkar masalah itu hingga tuntas. Selain Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan, saat ini, tercemarnya air sungai yang mengalir hingga Kota Pamekasan itu sedang diselidiki Polres Pamekasan.

Dengan begitu, Miftahol juga meminta segera ada pencabutan pernyataan yang diduga dari Intel Polsek Proppo. Sebelumnya, terdapat pernyataan yang dimuat dalam sebuah media massa menyebut bahwa penyebab berubahnya warna air menjadi merah di Sungai Klampar karena fenomena alam biasa.

Baca Juga:  DLH Pamekasan Ungkap Pengadaan Sarpras Persampahan Kembali Tersandung Ketersediaan Anggaran

“Informasi dari Intel Polsek Proppo di salah satu media itu terburu-buru dan menyesatkan, dia mengatakan bahwa ini fenomena alam karena pergantian cuaca dan lumut, sementara kami duga kuat ini fenomena yang disengaja, ada pelakunya,” terang Miftahol Adzkiyah, Rabu (12/7/2023) sebagaimana dilansir dair Mediajatim.com.

Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa merahnya warna air sungai itu karena luapan limbah produksi batik dari penampungannya. Kemudian dikuatkan adanya beberapa perajin batik yang berproduksi di sekitar sungai tersebut.  

SWP juga menyelidiki pemanfaatan air sungai tersebut. Di sepanjang sungai tersebut, diketahui bahwa tidak banyak masyarakat yang mengonsumsi airnya. Namun terdapat sebagian warga yang memancing ikan di sungai tersebut untuk dikonsumsi. Sejauh ini, kata Miftahol, belum ada pernyataan resmi mengenai bahaya dan tidaknya kandungan air yang tercemar itu.

Untuk itu, dia meminta agar DLH Pamekasan segera membuka hasil laboratoriumnya. Terlebih, sampel airnya sudah dikirim pada hari pertama kejadian ke sebuah laboratorium di Sumenep.  

Baca Juga:  Perda Ripparkab Disahkan, Pengajuan Anggaran Pariwisata Bisa Lebih Besar

Hasil penelusuran SWP juga menemukan sumur warga yang ikut terdampak pencemaran.

“Ada beberapa sumur terkena imbas karena sejumlah sumur warga ini resapan, nah, yang kena imbas ini juga harus diperhatikan,” tegas Miftahol.

Sementara itu, terkait kecurigaan peristiwa itu akibat limbah batik, Polres Pamekasan memanggil enam orang perajin batik, Selasa (11/7/2023). Mereka yang diperiksa dengan status saksi itu berasal dari Dusun Banyumas, Desa Klampar, Proppo, Pamekasan.

Kasi Humas Polres Pamekasan Iptu Sri Sugiarto mengatakan, enam orang yang diperiksa ini adalah perajin batik yang home industry-nya dekat dengan Sungai Klampar.

“Enam orang ini diperiksa sebagai saksi, identitas belum bisa kami buka. Hasilnya masih didalami,” ungkapnya, Rabu (12/7/2023).

Sumber: Mediajatim.com

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *