oleh

Surat Kecil Dari Kondektur

Kamu tidak akan pernah mengerti, mengapa aku `berada di terminal ini. Yang terlihatsengaja memilih tempat duduk pada bus jurusan Situbondo – Jember. Seakan-akan kuat mengambil langkah tersulit di hari paling membutuhkanmu.

Pemberangkatan bus Situbondo –Jember menyadarkan bahwa kami akan segeramelakukan perjalanan masing-masing. Kupandangisekeliling; terlihat ibu-ibu sedang disibukkan oleh buah hatinya, remaja bersamasekardus harapannya, dan beberapa yang lain sedang menemani sudut pandang sopir.Kurang lebih begitulahsuasana di dalam bus pada saat itu.

Laju bus pun membawa kami semakin jauh. Sesekali bus harus terhenti untuk memenuhi keinginan penumpang. Namun pada kesempatan yang lain, lebih banyak permintaan mereka untuk masuk. Barangkali itulah sebab kami perlu berbagi tempat duduk dengan siapapun yang membutuhkannya. Meski pembayaranmenjadi transaksi kebebasan, tetapi berbagi tempat duduk merupakan seni belajar meluaskan hati disaat kondisi bus yang sedang sempit-sempitnya.

Setelah kesekian kali bus mempersilahkan permintaan masuk. Kali initerlihat seorang kakek ikut serta dalam kondisi yang tidak menghadirkan kursi kosonguntuk dirinya.Meski tidak ada kewajiban tertulis, ia harus mampu berdiri bersama orang-orang yang tidak lagi seusianya; dengan kepentingan yang berbeda, bahkan kekuatan yang tidak lagi sama. Hebatnya; tidak sedikitpunterlihat kecewa di wajahnya, selain bentuk pengertian seorang laki-laki tua.Barangkaliitu hal yang lumrah bagi sang kakek selama perjalanan hidupnya.

Akuadalah saksi yangtak bersaksi. Bahkan disaat kursi kosong menjadi kebutuhan sang kakek, kursiku tetap bersamaku. Bagiku,memberikannya memerlukankesanggupanuntuk berada diantara mereka yang kurang beruntung.Tidak hanya itu; yang tersulit adalah mampu menjaga pendirian selama perjalanan.

“Kenapa belum ada yang turun juga ya?” Pikirku sembari melihat sekeliling. Ibu-ibu yang sedang disibukkan oleh buah hatinya, remaja bersama sekardus harapannya, dan beberapa yang lain masihsetia menemani sudut pandang sopir.

“Ah, sudahlah.Mungkin kakek itu memang sedang kurang beruntung.” Gumamku, meski sesekali hati tergerak padanya.

Sejauh bus meninggalkan terminal Situbondo, tiba saatnyaremaja bersama sekardus harapannyadi sebuah perempatan jalan yang penuh tanda tanya; ke arah manakah ia akan memilih jalan selanjutnya? Beranjaklah remaja itu dari tempat duduk yang berada tepat didepanku dengan sangat berhati-hati membawa sekardus harapannya. Dalam hitungan detik,kondekturmengatakan remaja itu telah berlalu dengan baik, hingga pertanyaan yang ingin kuberikan padanya; mau tak mau ikut bersamaku.

Kemudian, bus yang kami tumpangi kembali melanjutkan perjalanan.Semakin cepat laju bus; siapacepat ia dapat.Meski terlihat ketidakberdayaan seorang kakek yang semakin sulit untukmenempatkan dirinya.Mereka yang berada lebih dekat, dengan segera mungkin mengambil alih kursi remaja bersama sekardus harapannya. Remaja itu memang tidak menitipkan pesan apapun, sehingga mudahlah bagi mereka yang sangat berupaya memenuhi kebutuhannya.

Namun beberapa menit setelahnya; terdengar seseorang yang berada disampingku memanggil sang kakek.

“Kek… Kakek, silahkan duduk di kursi ini, ya. Sebentar lagi, kami akan segera turun.” Ucapseorang ibu-ibu yang selalu disibukkan buah hatinya.Mendengar perkataan ibu-ibu yang selalu disibukkan oleh buah hatinya, seketika raut wajah laki-laki tua itu menjadi begitu melegakan.

“Silahkan duduk, Kek.” Ucapku, meneruskan amanah ibu-ibu yang selalu disibukkan oleh buah hatinya untuk mewariskan kursinya pada sang kakek.

“Terima kasih, Nak. Ku kira kau akan ikut bersamanya. Siapakah perempuan itu? Aku belum mengucapkan terima kasih padanya. Apakah kau mengenalnya?” Tanya kakek dengan penasaran sembari melihat ke arahibu-ibu yang selalu disibukkan oleh buah hatinya itu berlalu.

“Tidak, Kek. Kebetulan, kami hanya duduk bersama dan beliau telah sampai di tujuannya.” Jawabku.

“Oh, jadi begitu. Aku bersyukur sekali, kursi ini telah membuatku merasa lebih baik, Nak. Tentunyaberkat perempuan itu.” Ucap sang kakek dengan penuh syukur.

Perjalanan semakin jauh, masing-masing dari kami pun segera sampai di tujuan. Setelah melewati gapura yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KOTA JEMBER”, tiba-tiba sang kakek beranjak menuju kondektur yang sedang berdiri di dekat pintu keluar; bagian belakang.Kami cukup mengerti bahwa sang kakek akan segera menghentikan perjalanan bersama kami. Demikianlah dari segala yang terngiang; ketika seseorang mampu melihat kebaikan sekecil apapun, semudah itu; orang lainmenjadi bermakna bagi dirinya. Setidaknya, hal itulah yang dapat ku lihat dari seorang laki-laki tua yang akan segera berlalu.

Sedangkan, untuk melawan pandangan orang lain;sulit bagiku mengatakan surat kecil dari kondektur tidak dapat menjadi jaminan, kecuali ada orang yang mau berbaik hati memberikan kedudukannya; hingganasib dan keberuntungan ada bersamanya. Terlepas dari itu semua; sepanjang perjalanan Situbondo – Jember, aku menjadi penumpang yang tersisa bersama beberapa orang lainnya.Entah di bagian mana kami akan segera berpisah, segalanya menjadi isi pikiran masing-masing. Bahkan, kami tidak membuat kesepakatan satu sama lain, sebab apapun bisa terjadi. Barangkali tujuan yang sama; yang telah menahan kami dalam bus, hingga tibalah di terminal Arjasa, Kab. Jember.

Situbondo, 02 Oktober 2020.

Rofiatul Adawiyah. Seorang anak perempuan yang terlahir dari kecil di Situbondo, 18 Agustus 1998. Saat ini, ia sedang menempuh S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember. Pemilik blog Jalanpikiran (@rrofiatul.blogspot.com/) ini bisa dihubungi di facebook: Rofiatul, Instagram: @rofiatul_18 atau telepon: 0859191781878. Nomor rekening BTN cabang Jember 00030-01-61-004823-1 atas nama Rofiatul Adawiyah.

Komentar

News Feed