oleh

Surokim: Demokrasi Bangkalan Banyak Dipengaruhi Gaya Kepemimpinan

Kabarmadura.id/Bangkalan-Hari demokrasi internasional diperingati setiap tanggal 15 September. Realisasi demokrasi tersebut berbeda-beda di setiap daerah. Menurut pengamat politik Bangkalan, Surokim Abdussalam, untuk wilayah Bangkalan, asas demokrasi masih dipengaruhi gaya kepemimpinan.

“Menurut saya ada pengaruhnya juga. Ada nuansa humanisnya,” ungkapnya.

Pada kepemimpinan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron ini, dia menilai, sudah mulai ada progres positif kendati pelan dan belum signifikan. Misalnya, dia menyebut, beberapa indikator khususnya menyangkut kebebasan sipil, hak politik dan penguatan lembaga demokrasi mulai ada geliat dan bergerak dinamis tidak stagnan.

“Memang tantangan masih banyak dan kendala di level kultur dan struktur,” ujarnya, Selasa (15/9/2020).

Namun katanya, ekspansi teknologi informasi membuat intervensi dan keswadayaan publik mulai terlihat bergerak ke arah positif. Hal tersebut dia lihat dari level society penguatan kelas menengah.

“Menurut saya tetap menjadi kunci untuk penguatan civil society,” imbuhnya.

Dia menuturkan, untuk sistem demokrasi, jalan masih panjang dan terjal untuk mengkonsolidasi iklim dan indeks demokrasi di Bangkalan. Katanya, harus ada optimisme wajib terus ditebarkan dan terus memperbaiki iklim demokrasi.

Khususnya menyangkut akses dan keswadayaan civil society atau hak sipil dalam kebebasan berpendapat harus terus dibuka secara alamiah tanpa adanya tekanan dan dominasi.

Selain itu, dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (Fisib) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini menilai, harus ada penguatan kelembagaan demokrasi lokal agar fungsional dan tidak sekadar menjadi hiasan dan lips service.

“Adanya sama dengan tidak adanya sudah waktunya struktur dan kelembagaan politik lokal kian dikuatkan dan direvitalisasi agar bisa menjalankan fungsinya secara alamiah,” tuturnya.

Secara umum, dia melihat, demokrasi terus tumbuh dan sedang mencari bentuk-bentuk keseimbangan baru sesuai konteks keindonesiaan dan perubahan sosial kekinian. Angka-angka kuantitatif, sejauh ini bisa menjadi petunjuk atas pertumbuhan demokrasi itu, namun tentu ada yang positif dan negatif.

Memang di sana sini, kata Surokim, masih ditemukan masalah dan tantangan. Namun hal itu disebut sebagai dinamikanya. Sesungguhnya, indek demokrasi selalu kontekstual dengan lingkungan sosial. Sehingga, dia melanjutkan tidak serta merta sesuai indeks negara barat.

“Menurut saya indeks demokrasi global sebagai indikator tetap penting dipacu sebagai kompas jalan perbaikan sesuai konteks keindonesiaan. Saya meyakini indeks demokrasi kita akan terus menuju positif sesuai karakter dan lingkungan sosial kita sepanjang kuasa dan daulat sipil terus didorong dan konsisten dijadikan orientasi utama,” tukasnya.

Daulat dan kuasa sipil, katanya, menyangkut kebebasan sipil untuk ikut serta dalam proses politik. Hal itu harus terus ditingkatkan agar daulat sipil dan suara arus bawah tumbuh sehat seiring dengan kompleksitas sosial saat ini.

Pada indeks demokrasi itu, dia mungkapkan, salah satunya akan terlihat melalui praktik pemilukada di era wabah covid-19 ini dan berharap pemilu bisa berjalan sesuai harapan sebagai basis peletakan nilai demikrasi lokal kian kuat. (ina/waw)

Komentar

News Feed