Tafsir Politik Pergantian Kapolres Pamekasan

Headline, Opini302 views

Oleh: Hairul Anam*)

Kala itu, saya menghadiri undangan Kantor Bea Cukai Madura. AKBP Satria Permana juga hadir. Dia sebagai Kapolres Pamekasan, sementara saya diundang sebagai Ketua PWI Pamekasan. PWI ini singkatan dari Persatuan Wartawan Indonesia, bukan Partai Wartawan Indonesia!

Tidak sekadar pajang wajah, tapi Satria juga memanfaatkan waktu untuk menyampaikan arahan. Dia mengetengahkan pesan moral atas masih merebaknya rokok bodong dan minuman keras di Kota Gerbang Salam.

Meskipun acara itu berkaitan dengan pemusnahan rokok bodong dan minuman keras, Satria tampak tidak menotonkan arahannya pada barang haram tersebut. Satria juga terlihat tegas mendengungkan integritas aparat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Mencermati rangkaian kalimat dalam arahannya, tampaknya Satria tidak akan segan-segan menindak anggotanya bila kedapatan mengabaikan netralitas, apalagi jadi pemantik ketidaknetralan dalam Pemilu 2024. Baginya, netralitas adalah harga mati.

Malam harinya, saya mendapatkan bocoran dari seorang teman jurnalis di Jakarta bahwa Satria Permana dimutasi ke Magetan. Terasa begitu cepat. Bayangan wajah serius Satria saat berkobar-kobar mendengungkan netralitas dalam Pemilu 2024, masih terasa kuat di pikiran. Dia tidak sampai setahun menjadi Kapolres Pamekasan. Kurang 16 hari.

Kemudian saya diskusi dengan beberapa jurnalis senior. Dugaan sementara; Satria dimutasi karena diprediksi sulit “tegak lurus” ke Jokowi yang sedang mengorbitkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai Cawapres dari Prabowo Subianto. Dugaan ini muncul karena mutasi bergulir jelang Pemilu 2024 yang kurang dari dua bulan lagi.

Diskusi berlanjut ke dugaan awal mula Satria Permana jadi Kapolres Pamekasan, sejatinya guna “memerahkan” Kabupaten Pamekasan. Ya, beberapa tahun terakhir, PDI-P memang tidak punya kursi di DPRD Pamekasan, sehingga butuh “tangan dingin” kekuasaan. Tapi persepsi ini terasa kurang kuat ketika mencermati sepak terjang Satria Permana selama menjadi Kapolres Pamekasan. Dia terlihat bergerak secara profesional, nyaris tidak terpapar nuansa politis. Netral!

Baca Juga:  Hairul Anam: Kabar Madura adalah Etalase Informasi Mengawal Madura 

Sertijab yang Keren

Lupakan sejenak Satria Permana. Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Pamekasan kini punya nakhoda baru. AKBP Jazuli Dani Irawan, namanya. Masih muda, sedang menjalani umur kerasulan: 40 tahun.

Serah terima jabatan (sertijab) pada Senin (18/12/2023) pagi berlangsung khidmat. Sertijab kali ini terbilang keren. Sebab, ada konferensi persnya yang melibatkan langsung AKBP Satria dan AKBP Dani. Kedua-duanya tampil meyakinkan saat diwawancarai para wartawan.

Saya diundang dalam acara sertijab itu. Saya memilih tidak hadir. Sebab, undangannya terasa kurang niat: dikirim setengah jam sebelum acara sertijab. Itu pun via chat WhatsApp oleh Kasi Humas Polres Pamekasan Iptu Sri Sugiarto.

Pilihan tidak hadir sertijab, tidak saya lakukan sepihak. Itu hasil konsultasi ke Dewan Etik PWI Pamekasan. Tujuh jurnalis senior yang jadi Penasihat PWI Pamekasan, memberikan opsi untuk tidak hadir, tetapi tetap jalin komunikasi positif dengan Kapolres Pamekasan yang baru.

Meski tidak hadir, saya mendapatkan rekaman wawancara AKBP Dani dan AKBP Satria usai sertijab. Saya putar berkali-kali. Saya cermati dan bandingkan narasi yang dibangun antara Kapolres Pamekasan yang lama dengan Kapolres Pamekasan yang baru.

Meragukan Netralitas AKBP Jazuli Dani Irawan

Sebelum sertijab, sejatinya saya sudah bertemu dengan Kapolres Pamekasan yang baru. AKBP Dani tampak lebih terbuka dengan wartawan dibanding AKBP Satria. Bahkan, dia menyatakan secara blak-blakan kepada saya bahwa dirinya suka berteman dengan siapa pun. Apalagi dengan wartawan yang punya banyak wawasan, teman, dan pengalaman di lapangan.

Insya Allah, saya akan menulis esai khusus terkait pertemuan dengan AKBP Dani itu. Banyak hal yang kami diskusikan. Termasuk cerita unik dan menegangkan selama AKBP Dani dan pasukannya berjuang di antara hidup dan mati selama di lautan.

Baca Juga:  Bawaslu Pamekasan Plenokan Dugaan Pelanggaran Gus Miftah Bagi-Bagi Uang

Kita kembali ke sertijab.

Saat diwawancarai wartawan usai sertijab, AKBP Dani tampil duluan. Dia menyatakan akan melanjutkan program-program yang sudah dijalankan AKBP Satria sebelumnya. Segala kebaikan yang sudah ditorehkan AKBP Satria, dengan penuh kesadaran akan dirawatnya secara baik.

Mantan Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Jawa Timur ini berbicara tingginya kriminalitas di Pamekasan. Dia pun bertekad mengasah program yang mengarah kepada keamanan dan ketertiban masyarakat. AKBP Dani juga menyinggung pentingnya berkolaborasi dengan wartawan dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Menyambung pernyataan AKBP Dani, AKBP Satria tampak lebih fokus membicarakan netralitas jelang Pemilu 2024. Polisi wajib netral! Itulah poin yang disampaikan AKBP Satria Permana yang tampaknya dijadikan atensi buat AKBP Dani.

Usai menyimak hasil konferensi pers, saya jadi teringat diskusi dengan jurnalis senior yang sedikit saya ulas di awal tulisan ini. Ya, dalam konferensi pers itu, AKBP Dani tampak tidak menyinggung netralitas aparat menjelang Pemilu 2024. Hal itu justru diketengahkan oleh AKBP Satria. Apakah ini sinyal bahwa kehadiran AKBP Dani memang diliputi kepentingan politis dari penguasa?

Apakah AKBP Dani yang menggeser AKBP Satria memang punya tugas khusus untuk kepentingan penguasa pada Pemilu 2024? Dia tidak membahas netralitas, justru mengulas kriminalitas. Saat saya bersua dengannya sebelum sertijab, juga tidak ada pembicaraan netralitas menjelang Pemilu 2024.

Kami sedang ragu dengan integritas Kapolres Pamekasan AKBP Dani. Itu memang tugas kami. Tugas AKBP Dani adalah mengubah keraguan kami menjadi keyakinan; sebuah keyakinan bahwa kehadirannya adalah oase di tengah kekhawatiran publik terhadap gersangnya netralitas aparat di negeri ini.

*) Ketua PWI Pamekasan; Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah dan Pascasarjana IAIN Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *