oleh

Tajul Tegaskan Tidak Ada Paksaanuntuk Kembali ke Sunni

“Saya tidak ingin punya utang pada mereka. Seandainya mereka tidak ikut saya, saya tetap kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah. Dan ini urusan akhirat, jadi tidak ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun,” Tajul Muluk atau Ali Murtadho

KABARMADURA.ID, Sampang -Pelaksanaan ikrar penganut aliran Syi’ah untuk kembali ke Sunni berjalan sukses. Para pengikut Tajul Muluk atau Ali Murtadho itu membaca ikrar di Pendopo Trunojoyo,Sampang, Kamis (5/11/2020).

Prosesi pembacaan ikrar itu juga dihadiri perwakilan Staf Kepresidenan RI, Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang diwakili Kepala Bakesbangpol Jatim Jonathan, kapolda Jatim, kepala Kanwil Kemenag Jatim Ahmad Zayadi, ketua MUI Jatim, PBNU, PCNU Sampang serta ulama se-Madura.

Pantauan Kabar Madura, ratusan penganut aliran Syi’ah itu tiba di Sampang sekitar pukul 07.30. Mereka berangkat dari pengungsian di Rusun Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo sekitar pukul 05.00 pagi. Kemudian dilakukan pembacaan ikrar pada pukul 08.30 pagi.

Prosesi pembacaan ikrar dilaksanakan dengan caradari pos-pos.Peserta ikrar dipanggil dua sampai empat oranguntuk kemudian membaca sumpah. Di pos tersebut ada dua ulama dan kiai yang menuntun pembacaan ikrar.

Salah satu penganut Syiah asal Desa Karang Gayam, Siyah menuturkan bahwa dirinya sudah lama ingin kembali ke ajaran alhu sunnah wal jama’ah, tetapi baru kali terkabulkan. Dia merasa tenang saat membaca ikrar, karena ada harapan untuk bersilatirahmi dengan kerabat yang ada di Sampang.

Namun dia belum mengetahui kepastian kepulangannya ke Sampang meski sudah diikrar kembali ke Sunni. Selain belum ada pemberitahuan, dia juga tidak punya rumah lagi untuk ditempati di Sampang.

“Kalau kembal, ingini, tapi rumah saya sudah gak ada, kebakar saat kejadian itu, dan kerabat ada,” ungkapnya, Kamis (5/11/2020).

Sedangkan mantan pimpinan aliran Syi’ah Sampang, Ustadz Tajul Muluk menuturkan, jumlah pengikutnya sudah mayoritas bersedia berikrar untuk kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga dirinya sudah bisa lepas dari tanggung jawab.

Karena dia menilai, ajaran yang benar itu adalah ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga dia meminta kepada pengikutnya untuk kembali pada ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Selain itu, agar silaturahmi yang putus kembali seperti sebelumnya.

Selain itu, yang menjadi dasar kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah,karena saat Tajul sudah bergabung dengan teman-teman ahlus sunnah wal jama’ah,kerap memadukan apa yang diketahui terkait aliran Syi’ah dan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah memang ada hal yang tidak cocok.

“Kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah ini karena memang ajaran yang benar, sehingga kami mengajak semua pengikut agar saya tidak punya tanggungan di akhirat nanti, selain itu agar silaturahmi tersambung kembali,” tuturnya.

Namun Tajul mengungkapkan,masih ada pengikutnya menolak saat diajak untuk kembali ke ahlus sunmnah wal jama’ah.Sehingga dirinya tidak bisa memaksa, karena mempunyai hak masing-masing. Namun, segala konsekuensi harus ditanggung sendiri.

Adapun yang menolak untuk diikrar tersebut jumlahnya 21 orang, dan untuk yang bersedia diikrar sebanyak 274 orang. Selain itu, dalam melaksanalan ikrar untuk kembali ke ajaran ahlus sunnah wal jama’ah, dipastikan sama sekali tidak ada paksaan dari pihak manapun. Semuanya murni atas kemauan sendiri.

“Saya tidak ingin punya utang pada mereka. Seandainya mereka tidak ikut saya, saya tetap kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah. Dan ini urusan akhirat, jadi tidak ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun,” imbuhnya

Kendati demikian,dia berharap, dengan kembali ke ahlus sunnah wal jama’ah, mereka bisa kembali ke kampung halamannya, walaupun untuk memulangkannya masih butuh proses. Selain itu, masih butuh koordinasi antara pemerintah daerah, provinsi dan pusat.

Tetapi Tajul tidak memperioritaskan untuk kembali pulang ke kampung halamannya, dia hanya ingin kembali kepada ajaran yang benar.

“Yang menolak itu ada 21 dan pernah saya ajak namun mereka tetap tidak mau, dan kami tidak bisa memaksa,” pungkasnya.

Sementara Bupati Sampang H. Slamet Junaidi menuturkan, Pemerintah Sampang hanya menfasilitasi prosesi ikrar saja. Sehingga untuk pulang ke kampung halamanya, sepenuhnya diserahkan kepada tokoh ulama untuk melakukan pembinaan.

Sementara ini belum ada rencanaproses pemulangan mereka. Tetapi jika mereka ingin pulang, dirinya tidak memproses.

“Sekarang mereka belum bisa pulang, kami hanya sebagai fasilitator dalam menyelenggarakan pembaiatan, bahkan katanya masih ingin tetap tinggal di Rusun Puspa Agro, Jemondu, Sidoarjo,” ucapnya.

Selain itu,dia berharap, bahwa kedepan semua masyarakat dua desa di Kecamatan Omben dan Karangpenang, bekas tempat tinggal mantan penganut Syiah itu, melahirkan kebersamaan hidup dalam menciptakan situasi keamanan dan ketertiban.

“Pelaksanaan sudah selesai, dan berjalan dengan sukses. Jadi, tinggal langkah kedepan yang kita pikirkan bersama,” ucapnya. (mal/waw)

 

 

Komentar

News Feed