Takmir Masjid Jamik Sumenep Kesulitan Terapkan SE Menag

  • Whatsapp
(FOTO: KM/DOKUMEN) SARAT SEJARAH: Gerabang depan masjid Jamik Sumenep tampak mempesona.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Menjelang Ramadan, untuk menekan angka penyebaran Convid-19, Menteri (Menag) Agama Republik Indonesia (RI) menerbitkan surat edaran (SE) tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri.

Dalam SE tersebut, memuat sejumlah aturan-aturan baru. Itu menyangkut ketentuan-ketentuan masyarakat dalam menjalankan ibadah Ramadan dan Idul Fitri di masa pandemi, seperti, salat fardu 5 waktu, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan i’tikaf.

Bacaan Lainnya

Salah satu poin yang paling penting dalam SE yang dikeluarkan oleh Menag ini, seluruh rangkaian ibadah di bulan puasa, kehadirannya dibatasi tidak boleh lebih dari 50 persen atas kapasitas masjid atau/dan mushalla.

Sebagaimana tahun lalu, SE ini juga tetap menekankan penerapan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman 1 meter atar jama’ah dan mengimbau kepada para jamaah untuk membawa seperangkat alat shalat masing-masing.

SE ini, tentu saja, ditujukan kepada masjid-masjid di berbagai daerah. Termasuk di Sumenep. Namun sayangnya, tidak semua para pengurus takmir masjid yang siap menerapkan aturan tersebut. Tak terkecualikan para pengurus takmir Masjid Jamik Sumenep.

“Di Masjid Jamik Sumenep ini sebenarnya sudah sejak tahun lalu, waktu dahsyat-dahsyatnya pandemi, kita memang tidak menerapkan protokol kesehatan seperti itu. Artinya, kita tetap melaksanaan ibadah seperti biasa. Karena sebenarnya kita terserah kepada jamaah. Sudah kami lakukan imbauan. Bahkan, kami sudah pasang banner soal protokol kesehatan ini. Namun tetap tidak bisa. Jadi kita sudah atur, tapi jamaah tetap tidak mau,” ungkap Ust. Muhammad Suyuti, Bendara Takmir Masjid Jamik Sumenep.

Pihaknya mengaku bukan tidak mengupayakan penerapan protokol kesehatan. Namun alhasil, kata Suyuti, justru memang para jamaah itu yang tidak mau.

“Bahkan dulu saat lebaran, ada dari kesehatan untuk bertugas menge-cek suhu tiap jamaah, pada akhirnya tidak berhasil juga, karena terlalu banyaknya jamaah,” pungkasnya. (km62/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *