Tambak Udang Menjamur, Limbahnya Cemari Lingkungan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/SUBHAN) ANCAMAN: Menjamurnya usaha budi daya tambak udang di Kabupaten Sampang menjadi ancaman sumber penyebaran pencemaran lingkungan, karena limbah belum terkelola maksimal.

Kabarmadura.id/Sampang-Belakangan ini, pertumbuhan usaha budi daya tambak udang di Kabupaten Sampang, khusunya di wilayah pantai utara (pantura) semakin menjamur.Banyak masyarakat yang menggandrungi usaha tersebut, karena dinilai menjanjikan dan bisa menjadi sumber pendapatan baru.

Sayangnya, keberadaan tambak udang itu tidak hanya membawa dampak positif, yakni mendorong perekonomian masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan,tetapi juga menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungan sekitar, yang disebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, mengingat mayoritas limbah tambak udang itu, belum terkelola maksimal dan ditengarai minim pengawasan.

Bacaan Lainnya

Anggota Komisi IV DPRD Sampang Moh. Iqbal Fatoni mengungkapkan, belakangan ini masyarakat di wilayah pantura khususnya mulai banyak yang menjalankan usaha tambak udang. Namun, hal itu juga menimbulkan persoalan lingkungan, yakni limbah tambak udang yang belum terkelola maksimal, sehingga menyebabkan munculnya pencemaran lingkungan.

Untuk tambak udang yang berada di pinggir sungai dan pesisir pantai, sangat berpotensi dapat mencemari lingkungan. Sebab, kebanyakan para pelaku usaha kerap membuang limbahnya langsung ke sungai dan pantai.

Bahkan, dirinya mengaku kerap mendapat keluhan dan laporan dari warga sekitar tambak, bahwa mayoritas pemilik tambak itu tidak mengelola limbahnya dengan baik dan benar, sehingga menjadi ancaman bagi warga.

“Salah satu dampak yang dirasakan warga sekitar tambak yang limbahnya tidak dikelola dengan baik maksimal, yakni timbulnya bau yang menyengat, seperti di Kecamatan Banyuates dan Ketapang. Sehingga mengganggu warga. Tapi yang menjadi problem dalam pengolahan limbah ini hanya untuk tambak dengan luasnya di atas 5 hektare,” ujar pria yang akrab Bung Fafan itu.

Politisi muda dari Partai Persatuan Pembagunan (PPP) itu menjelaskan, salah satu penyebab timbulnya limbah tambak itu, karena sisa pakan dan menimbulkan bau menyengat, menganggu keseimbangan ekosistem sungai dan pantai serta pertumbuhan ikan dan hewan lainnya. Jika sungai dan pantai sudah tercemar limbah. Maka kelestarian alam terancam.

“Kami meminta pemkab melalui dinas terkait untuk terus meningkatkan upaya pengawasan dan pendampingan terhadap para pelaku tambak dalam mengelola limbah, sehingga limbah bisa teratasi, terkelola dengan maksimal sesuai standar yang berlaku,” desaknya.

Sambung dia, peningkatan pengawasan terhadap pengolahan limbah tambak udang tersebut, merupakan langkah konkrit dari pemerintah dalam megantisipasi timbulnya dampak negatif dan mengendalikan pertumbuhan tambak di wilayah berjuluk Kota Bahari ini.

Para pelaku tambak baik yang masih skala kecil atau tradisional serta yang sudah berskala besar harus diawasi secara ketat dan maksimal. Sehingga dampak nigatif akibat tambak itu dapat diminimalisir.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kabid Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Moh. Mahfud menjelaskan, bahwa instansinya terus galakkan program pembinaan kepada para pembudidaya udang dan ikan, meliputi tatacara berbudidaya sesuai standar dan sistem pengolahan limbah serta membantu akses pamasaran hasil produksi.

Di sisi lain, pihaknya mengaku sudah mewanti-wanti kepada semua pemilik tambak untuk mengolah limbah dengan baik dan benar. Kata dia, pengelohan limbah tambak yang ideal itu, pertama pembudidaya harus memiliki lokasi pembuangan yang jaraknya jauh dari kolam dan sumber air dan limbah tambak itu tidak boleh dibuang langsung ke sungai dan pantai di sekitar kolam.

“Kami sebenarnya sudah berupaya semaksimal mungkin agar pembudiya ini bisa mengelola limbahnya sesuai standart yang berlaku, tapi memang sampai saat ini masih banyak pembudidaya tidak melaksanakan anjuran itu dan tidak terawasi, karena belum mengantongi izin usaha, makanya kami minta kesadaran dari pelaku usaha segera mengurus izinnya,” tukas Mahfud. (sub/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *