oleh

Tambang Galian C di Seluruh Sumenep Tidak Berizin, Penambangan Tetap Berlanjut

Kabarmadura.id/Sumenep– Bagian Energi Sumber Daya Alam (ESDA) Sekretariat Kabupaten Sumenep mengakui, tambang galian C yang berada di Sumenep masih belum mengantongi izin operasional. Kepala Bagian (Kabag) ESDA Moh Sahlan menuturkan, ada sekitar kurang lebih 30 titik di setiap kecamatan di Sumenep yang tetap melangsungkan kegiatan galian C meskipun sampai saat masih belum bisa dipastikan keamanan dan kenyamanan bagi kelestarian lingkungan.

“Kalau yang pakai singgot (eskavator,red) atau alat penggalian tanah itu ada sepuluh tempat, tetapi yang banyak itu yang manual yang pakai tangan. Padahal resikonya sangat tinggi, semuanya belum ada izinnya sampai saat ini,” katanya, Senin (17/2).

Sahlan menuturkan, yang menjadi kendala legalitas selama ini adalah adanya revisi peraturan tata ruang dan tata wilayah yang lumrah dikenal dengan istilah RTRW yang sudah tidak kontekstual dengan kondisi alam di kabupaten berlambang kuda terbang ini.

Sedangkan proses revisi itu baru digarap 2019 kemarin. Ia menyebut, prosesnya sangat panjang, harus diajukan ke pemerintah provinsi setelah itu dilanjutkan ke pusat dan baru masuk ke tahapan peraturan daerah (Perda) sebelum diterapkan di Sumenep ini.

“Sementara sampai saat ini kan masih dibahas di sini masih, sehingga akibatnya sebelum RTRW itu selesai para penggiat penggalian itu tidak bisa mendapatkan izin, makanya meskipun tidak ada izin mereka tetap bekerja,” imbuhnya.

Akan tetapi meskipun tidak ada sanksi bahkan tidak berhak melakukan teguran, sejauh ini sebagai upaya melindungi kelestarian lingkungan di Sumenep pihaknya aktif melakukan kegiatan pembinaan yang terus dilakukan. Langkah tersebut sebagai bentuk upaya penertiban dari pemerintah agar SDA yang berada di Kota Keris ini tetap terjaga dan dapat digunakan dalam kurun waktu yang panjang.

Karena penggalian tanah atau tambang tersebut saat ini sudah mulai terasa efek negatifnya, hal itu terbukti ketika musim kemarau kemarin yang mana daerah Sumenep mulai mengalami kekeringan yang lebih parah dari musim sebelumnya.

“Kami tidak bisa menegur sejauh ini. Tetapi hanya disampaikan saja bahwa hal itu dapat merusak ekosistem lingkungan dan itu  berdampak pada stabilitas lingkungan di Sumenep ke depan. Jadi kalau sudah terjadi gempa dan sebagainya kan kita terimbas semua,” pungkasnya. (ara/pai)

Komentar

News Feed