oleh

Tampilan Warna Monumen Sampang Dipersoalkan

BERGANTI WARNA: Kebijakan Pemkab Sampang dalam melakukan perubahan warna cat monumen Sampang disebut melabrak perbup.

Kabarmadura.id/SAMPANG-Kebijakan Bupati Sampang H Slamet Junaidi dalam mengubah warna pada Monumen Tronojoyo disebut melabrak peraturan bupati (perbup) Sampang yang diterbitkan sekitar tahun 2004 silam.

Perubahan cat yang dimotari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang tersebut, awalnya akan dilakukan dengan memberi sentuhan warna khas yang didominasi warna emas. Namun saat ini, justru diubah dengan warna putih-biru.

Perubahan warna tugu Monumen Trunojoyo Sampang itu, menuai protes dari beberapa kalangan. Pasalnya, perubahan warna tersebut, dinilai dapat menghilangkan nilai filosofi dan sejarah. Dengan begitu, perubahan warna itu dianggap melanggar perbup.

Salah satu kalangan yang mempersoalkan perubahan warna itu, adalah Ketua Komunitas Perupa Sampang (KPS) Choiril Alwan. Dipaparkan, konsep bentuk dan warna Tugu Monumen Trunojoyo Sampang itu, mempunyai makna yang mendalam, yakni memberantas ketidakadilan.

Bahkan warna asli emas dan tembaga tersebut mempunyai filosofi berdasarkan masukan para tokoh dan ulama di Sampang. Menurut dia, Perubahan warna biru-putih pada tugu itu telah mencederai filosofi dan sejarah yang sudah ada. Pihaknya sangat kecewa, karena tidak ada koordinasi dengan berbagai pihak, seperti para pegiat dan pecinta seni.

“Kami kecewa dengan perubahan warna monumen yang menjadi ciri khas Sampang ini, Atas dasar apa merubah warna biru-putih itu, warna monumen ini asli emas yang memiliki filosofi dan makna yang sangat mendalam,” kesalnya.

Alwan menjelaskan, bentuk monumen itu seperti tombak yang terdapat tiga tombak mempunyai makna iman, Islam dan ihsan. Sedang pada rongga ketiganya, ada tombak yang sangat jelas ketika diberi cahaya lampu. Kemudian untuk warna emas pada ujung tombak keris itu. bermakna kemuliaan dan kesatriaan. Sedangkan pada demangan atau pegangannya berwarna tembaga, yang bermakna semangat yang membara memberantas ketidakadilan.

Lanjut, Alwan menceritakan, konsep bentuk dan warna tugu tersebut, sudah dikaji dan dibahas oleh semua tokoh bersama bupati di sekitar tahun 2003 dan kemudian disepakati bersama pada 2004.

Bentuk tombak tersebut, kata Alwan menggambarkan Kabupaten Sampang merupakan wilayah yang mempunyai nilai agamis yang tinggi. Sedangkan keris berbentuk tombak dengan demangan panjang tangkai dari pohon lamtoro itu merupakan simbolis senjata perjuangan Trunojoyo.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) DLH Sampang Faisol Ansori mengaku pengecatan ulang sudah dilakukan sekitar satu pekan lalu. Itu sesuai kebijakan bupati Sampang yang baru. Pihaknya mengakui banyak protes dari berbagai kalangan terkait perubahan warna tersebut, karena dinilai menghilangkan filosofi dan makna. Termasuk ditengarai menyalahi perbup.

Sayangnya, hingga saat ini, pihaknya belum mengetahui pasti terkait perbup itu. Faisol berencana koordinasi terlebih dahulu dengan Disporabudpar Sampang dan instansi terkait lainnya untuk mencari kebenarannya.

“Prinsipnya, kami hanya menjalankan kebijakan dari bupati, namun jika betul-betul menyalahi peraturan, yang jelas akan diubah kembali sesuai warna semula, yakni berwarna emas,” ucapnya.

Sementara Kepala Disporabudpar Sampang Aji Waluyo mengaku belum tahu pasti terkait perbup yang dimaksud itu. Saat ini, pihaknya juga masih berkoordinasi dengan bagian hukum, karena peraturan itu sudah dibuat pada tahun 2004 silam. Sedang dirinya belum ditugaskan di Disporabudpar.

“Sampai saat ini, kami belum tahu perbupnya, masih terus mencari informasi dari semua sumber, seperti kebagian hukum dan lainnya,”ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Sampang Abdus Salam mengaku sudah mempertemukan semua pihak terkait meliputi DLH, Disporabudpar dan KPS, untuk mengkaji dan mendiskusikan perubahan warna monumen itu.

“Setelah semua pihak dikumpulkan, ternyata warna monumen ini sudah diperbupkan, yang tentunya tidak boleh dilakukan perubahan, kemungkinan dalam waktu dekat warna monumen ini sudah dikembalikan kepada warna asal, sesuai dengan filosofinya,”pungkasnya. (sub/waw)

Komentar

News Feed