oleh

Tanah Halimunda

Senyap berkali merayap, menyesaki rumahku. Yang lebih nyaring justru derik jangkrik diredam tangan embun.  Di halaman Bungan-bunga alamanda diam demi sebentuk wangin segar untuk ditabur tiap menjelang dini hari. Sementara yang kupandang terus-menerus, pendar bulan dari balik jendela sempurna mengusir gelap. Ini malam yang barangkali ditunggu seseorang yang sudah beristri, sama sepertiku. Sekian banyak nama hari-malam tidak pernah membuatku tertarik, kecuali nama malam yang satu ini. Ya, kau mungkin mengerti atau pun tidak. Tapi itu bukan urusanku, sama sekali tidak ada urusannya dengan cerita-ceritaku. Aku hanya menyampaikan, urusan mengerti itu bagianmu. Sama dengan banyak guru di zaman ini; memberi banyak porsi teori, terlepas dari murid mengerti atau tidak. Lantas bagaimana dengan ceritaku? Sekali lagi, itu urusanmu, bagianmu.

Kakek pernah berkata pada waktu perkawinan paman—tepat aku masih kecil dan tak mengerti apa-apa

“jika kau melakukannya di malam jum’at. Maka setara dengan pahala membunuh empat puluh orang kafir” ucap kakek sambil menepuk pundak paman disertai senyum ringan. Sekarang aku mengerti dan sebenar-benarnya mengerti. Berjihad tidak perlu demo besar-besaran di kantor bawaslu atau berkali-kali meledakkan bom  bunuh diri dengan alasan ingin mendapat jatah bidadri. Berjihad sesederhana bergerakkan pinggul di ranjang melawan selangkangan.

Kata itu masih segar dalam kepala, seperti membangun sarang di dalamnya. Kebetulan malam ini bertepatan dengan lima puluh tahun usia perkawinanku dengan Mariyah. Kami yang sudah sama-sama tua, persis tuanya dengan ranjang yang kami tiduri saat ini.

“apakah kau akan melakukannya untuk kali kesekian setelah lamanya penantian” tanya Mariyah penuh harap

“tulang punggungku sudah cukup tua, berderak-derak seperti minta lepas” jawabku lesu

“tapi aku ingin seperti du_”

Kupotong saja sebelum Mariyah selesai berbicara “aku mengerti, tapi usia tidak pernah bisa dibohongi”

“tapi, Mas, aku hanya ingin sehangat dulu, tidak lebih” ia tampak memelas

***

Baiklah akan kuceriatakan padamu dari mana segalanya berasal dari mana tiba-tiba Mariyah masuk pada kehidupanku dan diam lebih lama di dalamnya!

Pada sebuah Agustus yang sudah basah, setelah kemarau benar-benar menyergap penjuru desa dan mengusir kekeringan. Tidak ada yang membahagiakan di sini, berpetak-petak sawah sudah menjadi milik koloni, dan aku yang tetap begitu kuat mempertahankan hak kami sebagai manusia seutuhnya. Diam-diam aku membangun gerakan bawah tanah bersama teman sebaya, mula-mulanya tersembunyi tapi akhirnya gerakan kami tertangkap basah. Itu terjadi tepat di gardu tak jauh dari rumahku, saat kami sedang asyik membicarakan hal-hal untuk merebut kemerdekaan.

“tanah ini milik kita seutuhnya, apa pun alasanya tidak boleh ada yang merampas cuma-cuma” bicaraku dengan nada setengah meninggi guna memancing emosional para teman-temanku.

“betul itu , lebih baik mati bekalang tanah daripada harus menyerah pada penjajah” seloroh Sukari dari pojok utara gardu.

Tiba-tiba tanpa diduga kami sudah siap digrebek oleh penjajah, desing peluru berlesatan di atas kepala. Sekian teman-temanku tewas sia-sia, beruntung aku bisa cfepat melarikan diri ke membelakangi gardu dan sekarang arahku menuju belantara berkabut jauh di selatan rumah. Sepertinya tidak ada yang mebuntutiku sehingga aku bisa dengan santai lari tanpa harus terengah-engah dikejar nafas sendiri. Hanya ucapan terakhir yang kudengar dari tentara-tentara Jepang itu hanay bertanya, siapa pelopor dari gerakan ini? Dan sama sekali tidak ada yang menjawab hingga itu yang menyebabakan mereka seperti tewas sia-sia. Meski sebenarya tidak ada yang sia-sia dalam membela negara, sekecil apa pun itu.

Aku berfikir menuduh diriku pecundang meninggalkan teman-teman seperjuangan, tapi aku juga tidak mau mati konyol sebab peluang kabur dari kemelut itu begitu memungkinkan. Akirnya kini aku sendirian dalam hutan tanpa berbekal apa pun. Setengah bulan di sini, beruntung hutan ini cukup banyak memiliki buah-buahan sebagai pengganjal lapar. Dan aku makan seadanya, lebih sering makan pisang yang masih muda sekadar membuatku bertahan hidup. Aku berinisiatif kembali setelah kiranya keadaan aman tanpa masalah apa pun. Meski pun di masa koloni ini tidak ada yang aman bagi warga pribumi.

Dan aku benar-benar memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di sana tidak ada yang berubah cuma pintu depan yang ambruk seperti diterjang badai besar. Di dalam perabot peninggalan ayah dan ibu sudah pecah dan berhamburan di tanah. Seperti ada seseorang yang sengaja merusak atau mencari sesuatu yang barangkali itu berharga. Tapi beruntung mereka tidak smapai merobohkan rumah ini, selain rumah ini sangat kumuh bentuknya juga tak ada barang berharga di dalamnya.

Kini yang kuinginkan hanya merdeka dan hidup tentram di tanah tumpah darah. Sepertinya itu sulit diwujudkan, penjajah terlalu kuat untuk kutaklukkan, apalagi aku tidak banyak memilik banyak teman. Bukan tidak banyak, tetapi untuk membuat mereka bersatu cukup sulit bagi satu orang sepertiku. Tetapi setidaknya aku sudah pernah melakukan perlawanan meski skalnya kecil. Mestinya orang-orang yang hidup setelah aku bersyukur hidup tanpa desing peluru dan dentum bom di kiri kanan. Beribadah dengan tenang tanpa gangguan apa pun.

Satu-satunya temanku yang tertinggal dan satu pergerakan adalah Sukari yang sama-sama meletup semangatnya denganku, ingin negeri ini bebabs dari penjajah bagaimana pun caranya. Tapi sekali lagi kau tahu itu sangat sulit, sungguh!

“tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan berdoa untuk membangun kembali gerakan bawah tanah kita” rayu Sukari

“bukannya belakangan ini tuhan begitu tuli dan tidak pernah mendengar jerit orang-orang pribumi”

Sukari diam ia mungkin tertegun dengan ucapanku yang diselingi amarah. Tapi bukan Sukari namanya kalau patah semangat.

“tidak ada salahnya mencoba, Man!”

“baik lah kita mulai dari awal lagi” bisikku sedikit ragu

Rencana yang kita kawal sangat sederhana, yaitu meyakinkan orang kampung untuk terus melawan pada penjajah dalam bentuk apa pun. Semisal tidak mau melakukan penghormatan dengan cara membungkuk dalam-dalam sampai melewati pinggang bertepatan saat para komandan tentara Jepang mengucapak keirei! Dan ini justru memancing berang para petinggi Jepang. Akhirnya mau tidak mau seluruh prajurit dikerahkan untuk menangkapku dan Sukari. Setidaknya itulah kabar burung terakhir yang aku dengan dari desas-desus orang-orang yang mau membungkukkan badan melebihi pinggang sebagai penghormatan pada tantara Jepang.

Dan aku akui mereka memang menang di atasku, mereka mampu menaklukkanku dengan cara cukup mudah. Entah mereka terlalu jenius memasang taktik atau aku sendiri yang cukup bodoh untuk hal semacam ini. Mereka mampu menangkapku saat aku larut dalam kantuk. Aneh sekali dan begitu ceroboh, di masa-masa berkecamuk perang dan situasi kurang aman justru aku lebih memanjakan mata. Maka yang datang terakhir adalah penyesalan. Seharusnya aku tidak tidur malam itu, seharusnya aku selalu siap siaga, gumam batinku. Tapi lima belas orang itu justru yang mempu menangkapku bertepatan dengan dengkur paling dahsyat.

Tapi yang justru sedikit mengganjal bagiku bagaimana mereka tahu tempat persembunyianku. Sebab selama kecamuk perang aku tidak pernah tidur di rumah, melainkan di sebuah gua yang cukup kecil dan hanya mampu manampung sedikit orang. Aku semakin terheran-heran setelah dari mereka dengan lantang berteriak di dekat telinga kiriku

“jadi kamu biang dari orang desa sini tidak melakukan penghormatan pada tentara-tentara kami” ucapnya lugas dengan bahasa Melayu. Sepertinya ia adalah petinggi dari empat belas orang lainnya yang juga ikut menyergapku. Tubuhnya cukup kekar, andai saja ia membantingku sudah pasti remuk tubuh ini.

Kemudian aku diseret menuju sebuah rumah yang kutahu itu markas para penjajah Jepang. Di halaman dipenuhi bendera-bendera Jepang dan tulisan dalam bahasa yang sama. Aku benar-benar dituntun menuju jalan setengah gelap dengan tangan terborgol sampai pada suatu ruangan tapi bukan jeruji besi. Semacam gudang tapi lebih buruk. Mataku terbelalak setelah di dalam kulihat Sukari dengan santai bersama seorang perempuan yang cukup langsing. Perempuan itu dipenuhi lebam di bagian pipi dan matanya, persis orang yang baru kena hantaman hangat.

“bagaimana kabarmu, Man?” tanya Sukari seperti meledek. Dan sepertinya ia benar-benar meledek.

“tidak ada yang buruk” jawabku singkat

“kenapa bisa di sini?” tanyaku disertai penasaran paling puncak

“bukannya mereka aku yang memberikan petunjuk untuk menangkapmu!” disertai senyum

“jadi ka_”

“ya aku bagian dari mereka” lekas Sukari memotong

“biadab, kejam!”

“siapa yang kejam?”

“yang ikut merencanakan kematianku di depan mata meraka”.

Sukari diam lagi-lagi bungkam.

Mereka meninggalkan aku di ruangan setengah gelap ini bersama seorang perempuan yang kusebut tadi. Aku mencoba mendekat.

“bagaiamana kau bisa ada di sini?” aku langsung melemparkan pertnayaan pada gadis seusiaku itu

“ayahku termasuk orang yang menentang penjajah, hingga mereka tidak terima dan menjadikan aku tawanan. Dan akan melepasku jika ayah siap tunduk di hadapan mereka” matanya berkaca-kaca seperti musim hujan yang baru tandang

“ayahmu bagaimana?”

“ia tetap tidak mau tunduk, akhirnya ayah mati tertembak lima peluru sekaligus” tangisnya pecah.

“siapa namamu?”

“Mariyah”

Kami berdua di sini berbulan-bulan hingga Belanda berhasil menjatuhkan bom di Hirosima dan Nagazaki. Dan tentara Jepang mampu di taklukkan dengan mudah oleh Belanda. Aku terbebas dan keluar bersama Mariyah. Kami kemudian tinggal di sebuah hutan yang cukup aman dari para tentara Belanda. Sebab situasi tidak beda, Jepang hanya berganti nama pada Belanda.

Bertahun-tahun di dalam hutan hingga Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan. Kami keluar dan pulang dari hutan Halimunda ke bekas rumah Mariyah dan tinggal di sana. Aku dengannya tidak pernah menikah, kami hanya kawin sebagaimana yang telah kuceritan di awal. Hanya kawin. Tidak ada akad resmi, kami hanya selalu bercinta di atas ranjang terlepas dari apa itu dosa atau tidak.

***

Itu sudah terjadi beberapa abad silam, kini aku kembali dipaksa oleh Mariyah untuk melakukan hal yang sama. Dengan penuh keyakinan aku memulainya dalam sebuah selimut yang berukuran sedang. Kami bercinta kurang lebih satu jam hingga klimaks.

Tiba-tiba Mariyah bertanya setelah selangkanganku basah

“seperti bau sesuatu di selangkanganmu” wajahnya berkerut memikirkan sesuatu

“semacam bau yang tak asing bagiku” jawabku

“tanah Halimunda” tambah Mariyah

Kepalaku berputar pada ingatan 65 tahun silam saat aku dan Mariyah dipaksa mencium kaki Jendral Belanda. Bertepatan setelah gerimis. Dan yang kami rasakan ruap tanah Halimunda dilacuri hujan pertama. Ya, Halimunda!

Gapura, 2019

 

*Rofqil Junior penikmat sastra. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media massa. Berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA.Nasy’atulMuta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Hidayah Bancamara Giliyang. Tempatnya memulai berproses menulis. Puisinya juga termaktub dalam antologi Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan;2018), Antolgi Dwibahasa Banjarbaru Festival Literary (2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Sua Raya(Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-laba (Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Saat ini sudah menulis puisi di berbagai media cetak dan online antara lain Harian Rakyat Sultra, Dinamika News, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Malang Post,Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Radar Jombang, Rakyat Sumbar,Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews,Litera.id.co, Galeri Buku Jakarta dll. Tahun ini berkesempatan hadir pada acara Seminar Internasional Sastra Indonesia(SISI) di Provinsi Bali. Bisa dihubungi via email: rofqiljunior@gmail.com atau anaksastrapesantren@gmail.com fb/IG: Rofqiel Junior

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed