oleh

Tanah Pasar Batuan Bersengketa, Legislator Minta Pemkab Bertanggung Jawab

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dinilai cukup berani membeli tanah sengketa untuk pembangunan Pasar Batuan. Anggaran yang digelontorkan senilai Rp8,947 miliar, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Asli Daerah (ABPD) Tahun Anggaran (TA) 2018 lalu, saat ini menjadi polemik dan tengah digugat di Pengadilan Negeri (PN) Sumenep.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menegaskan, Pemkab harus bertanggung jawab atas pembelian tanah yang saat ini menjadi sengketa. Sebab, anggaran yang menelan Rp8,947 miliar itu cukup besar. Tetapi, kenyataan saat ini, menjadi sengketa.

“Pihak-pihak terkait, termasuk pemkab harus bertanggung jawab atas pembelian tanah itu,”katanya, Rabu, (10/2/2021).

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menyebutkan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, selaku eksekutif selaku motor rencana penganggaran semestinya dari awal sudah transparan. Sehingga  tidak ada masalah di kemudian hari.

“Jika terjadi sengketa saat ini siapa yang mau disalahkan. Sementara dewan hanya menyetujui dari rencana program itu,” tegasnya.

Juhari sangat geram atas pemkab yang seolah tidak bertanggung jawab atas pembelian tanah tersebut. Dia menyarankan, agar pembangunan Pasar Batuan tidak dilanjut, sebelum sengketa tanah selesai.

“Seandainya, eksekutif transparan dari sebelumnya tentu tidak disetujui pada saat penganggaran,” ucap mantan komisi III itu dengan suara lantang.

Dirinya menyarankan, harus duduk bersama dengan pihak-pihak terkait agar permasalahan cepat selesai. Apalagi saat ini sudah masuk ke ranah hukum. Berarti pemkab terkesan lepas tangan atas permasalahan tersebut.

“Ini pasti ada yang tidak beres dari salah satu pihak,”paparnya.

Politisi yang akrab disapa ustad itu, berjanji tidak akan pernah berhenti mengawal masalah tersebut. Sebab, dana yang digunakan merupakan dana rakyat yang harus dipertanggung jawabkan. Banyak sudah yang digelontorkan, termasuk pembangunan pagar di daerah tanah tersebut.

“Jika gagal terlaksana maka dana akan hangus terbuang sia-sia kan,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Sumenep Agus Dwi Saputra mengakui, tanah yang dibeli saat ini sedang sengketa. Sayangnya, dia seakan mengelak atas pembelian tanah sengketa. Menurutnya, tanah yang dibeli sebelum adanya sengketa.

“Siapa yang bilang sengketa wong pada saat membeli tidak ada sengketa,” tandasnya.

Pria yang familiar disapa Agus itu memaparkan, adanya sengketa karena ada orang yang mengklaim, yakni R. Soehartono, putra dari mantan Bupati Sumenep, R. Soemaroem.

“Kami tidak bersalah. Sebab, hanya membeli dan tidak tahu permasalahan sebelumnya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Sumenep Ardiansyah Ali Sochibi menyampaikan, pembelian tanah dilakukan pada tahun 2018 Senilai Rp8,947 miliar yang bersumber dari APBD.

Pada tahun 2019 dilakukan pembangunan pagar Pasar Batuan dianggarkan senilai Rp613 juta yang dikerjakan pada November 2019, dan saat itu  terjadilah sengketa di pertengahan pengerjaan.

“Sempat ada sengketa, dan berdampak pada pembangunan pagar hingga berhenti. Namun, dilanjut hingga selesai,” kata pria yang akrab disapa ardi itu.

Dia mengakui, saat ini pembangunan Pasar Batuan kembali digugat oleh Soehartono hingga dilakukan proses hukum ke Pengadilan Negeri (PN) Sumenep. Dengan demikian pembangunan tidak berlanjut hingga sengketa selesai.

” Seandainya tidak ada sengketa, kami akan melanjutkan pembangunan, padahal sudah mendapatkan jatah anggaran pendapatan dan Asli Nasional (APBN) senilai Rp4 miliar,” ucap ardi.

Sebelumnya, Pemilik tanah R. Soehartono mengatakan, tidak rela kalau tanahnya diserobot begitu saja oleh Pemkab. “Saya tidak terima tanah milikku diserobot tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, itu hak saya, sesuai surat tanah,” tukasnya. (imd/mam)

-Pembelian tanah pada tahun 2018

Senilai Rp8,947 M (Dana APBD).

-Luas Tanah 1,6 Hektare

-Pembangunan pagar Pasar Batuan Rp614 juta pekerjaan November 2019.

– Sengketa pada tahun 2019 hingga saat ini

Komentar

News Feed