Tanggalkan Status Pegawai Saat Bersama Masyarakat

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/SUMENEP-Memiliki jabatan tinggi tidak berarti harus berjarak dengan masyarakat di sekitarnya. Didik Wahyudi contohnya. Meskipun ia menjadi kepala dinas, ia tidak segan berbaur dengan masyarakat, ikut serta menjaga keamanan lingkungannya.

MOH RAZIN KOTA

Didik lahir di Sumenep pada 5 Februari 1967. Ia tumbuh dewasa di ujung timur pulau Madura, tetapi sebelum Didik kecil mulai tertarik dengan pentingnya dunia pendidikan pada tahun 1979. Ia bersama teman-temannya menuju sekolah dasar (SD) Karangduak.

Pendidikan tertingginya dituntaskan di Surabaya yaitu S2 Wijaya Putra Surabaya. Sementara sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan gaelar S1-nya diselesaikan di tanah kelahiran.

Sebelum masuk di dunia pemerintahan Didik tumbuh sebagai remaja yang agamis. Hal itu terbukti dari dirinya terlibat dalam kepengurusan takmir masjid, bahkan itu tak mengenal periode karena sampai saat ini ia tetap aktif.

Tahun 2004 ia dinobatkan sebagai Plt. Kasi Penyuluhan dan Bimbingan Sosial di Dinas Sosial (Dinsos). Dua tahun kemudian Didik resmi diangkat sebagai Kasi Perlindungan dan Bina Panti Asuhan Dinsos. Pada tahun 2013 karirnya memulai berangsur naik, ia dinobatkan sebagai Kepala Bidang (Kabid) Bantuan Sosial Dinsosaun 2017 ia dimutasi ke Kabid Pengendalian dan Penyuluhan Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sumenep.

Perjalanan hidup tiada pernah indah jika tak diwarnai dengan beranekaragam prestasi. Selama mengabdi sebagai PNS, Didik telah telah mempersembahkan prestasi tersendiri. Di antaranya adalah penutupan cafe Simple 88 di sebelah terminal baru Arya Wiraraja pada tahun 2017 karena melakukan pelanggaran penylahgunaan izin, penyelesaian/Mediasi bentrok atau konflik antar nelayan Desa Tonduk dan Desa Guwa-Guwa, pembangunan PLTD dan penyambungan listrik bagi masyarakat Kecamata Raas, dan berbagai prestasi lainnya.

Didik merasa tidak cukup jika hanya mengabdi di pemerintahan saja, ia juga menularkan sari-sari intelektulnya dengan menjadi dosen di Wiraraja, bahkan 10 tahun ia menjabat sebagai dekan, juga banyak ivovasi-inovasi yang dituangkan di kampus tersebut.

Akhirnya tahun ini Didik sudah memetik proses perjuangan yang berkepanjangan, ia telah resmi dilantik menjadi pimpinan di DPMPTSP. Tetapi meskipun jabatan semakin melonjak ia tetap menjelma sebagai prindao yang memperjuangkan masyarakat.

“Di manapun kita berpijak, jangan pernah kita memperlihatkan bahwa kita pegawai,” imbuhnya.

Tetapi di luar waktu dinasnya ia tetap berbaur dengan masyarakat, tidak pernah mengandalkan materi dan jabatan yang ia sandang sekarang. Karena baginya kesederhanaan dan menjalin kebersamaan adalah cara terbaik dalam membagi menikmati kesahajaan hidupnya.

“Saya bisa bayar orang untuk piket, tetapi saya lebih memilih ikut piket ke pos kambling, bercanda gurau bersama sanak tetangga adalah kenikmatan yang luar biasa” pungkasnya. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *