Tangisan Penjual Nasi Goreng asal Madura di Klaten

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ SYAHID MUJTAHIDY) KISAH PILU: Perantau Madura di Klaten Abd. Syakur bersama keluarganya belum mendapatkan bantuan.

Kabarmadura.id – Salah satu kebiasaan masyarakat Madura ialah mengais rezeki di tanah rantau, baik di Indonesia atau hingga ke luar negeri. Hal itu juga yang tengah dijalani warga Desa/Kecamatan Sreseh, Sampang Abd. Syakur.

Syakur, sapaan familiarnya, sedang mencoba keberuntungan di Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah. Dia menjadi penjual nasi goreng yang bernama ‘Nasi Goreng Suramadu 99’ sejak tahun 2005. Di Klaten, Syakur bersama keluarganya.

Bacaan Lainnya

Wabah Covid-19 ini memberikan dampak signifikan terhadap penghasilannya. Seperti yang disampaikan kepada Kabar Madura, penghasilannya berkurang hingga 75 persen.

“Pendapatan sejak terdampak Covid-19 Rp150 ribu-an/hari. Sekarang sangat jauh sekali turunnya sampai 75 persen,” ujar Syakur melalui telepon seluler, Senin (11/5/2020) sore.

Lebih lanjut, pecinta Madura United ini menceritakan, terdapat pembatasan waktu di Klaten untuk berdagang, yakni hingga pukul 21.00 WIB.

Di samping itu, harapan sebagai penjual ingin ramai pembeli harus tersandung terhadap pembatasan mobilitas. Lantaran, ketika ramai pembeli bakal dibubarkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Klaten.

“Kerja sangat sulit, sepi di sini. Ini jualan dibatasi hanya bisa hingga pukul 21.00 WIB. Setelah itu, harus tutup semuanya sejak ada Covid-19. Serba salah, kerja ingin ramai, ingin mencukupi kebutuhan keluarga. Ketika ramai, ada Satpol PP, orang yang beli diminta tidak berkumpul,” terangnya.

Sejatinya, Syakur bersama keluarganya ingin pulang kampung ke Sreseh, Sampang. Akan tetapi, penerapan pebatasan sosial berskala besar (PSBB) di tiga daerah, Surabaya, Gresik, dan SIdoarjo menjadi hambatan tersendiri.

Selain itu, Syakur menceritakan, Kepala Desa Sreseh juga meminta untuk tidak kembali ke Sampang, guna mengantisipasi bakal berstatus sebagai pembawa wabah di perjalanan.

“Ingin ke Madura, kami tidak bisa. Oleh Kepala Desa Sreseh diimbau jangan mudik dulu, takut membawa wabah di perjalanan. Iya, pasrah saja kepada Tuhan, semoga cobaan ini segera berlalu. Amiin,” curhat Syakur.

Di tengah maraknya bantuan bagi warga yang didampak Covid-19, Syakur menjelaskan tidak mendapatkan sama sekali, baik dari pemerintah desa, kabupaten, provinsi, ataupun pusat.

“Belum mendapatkan bantuan sama sekali,” pungkasnya. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *