Tangkal Berita Hoaks, Pecinta Literasi di Bangkalan Edukasi Sampai Pelosok Desa

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M) BELAJAR: Para pelajar di Kecamatan Konang mengikuti materi jurnalistik.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN- Maraknya informasi melalui media sosial yang menyebar di masyarakat terkadang tidak disaring kebenarannya. Kondisi itu menjadi perhatian sejumlah kalangan mahasiswa dan pecinta literasi dengan menggelar kegiatan Pesantren Ramadan Kreatif (PRK). Seperti halnya yang dilakukan Forum Komunikasi Mahasiswa Darussalam (FKMD) memberikan edukasi literasi kepada pelajar maupun mahasiswa di daerah pelosok. Mereka memberikan pemahaman tentang menjadi pembaca yang cerdas dan bisa menyaring informasi yang valid atau hoaks.

Irham Maulana mengatakan, kegiatan PRK sudah berjalan empat kali setiap bulan Ramadan. Awalnya, dia menceritakan, dimulai tahun 2017 dengan berbagai kegiatan terkait edukasi literasi. Di mana konsentrasi mereka mengambil peserta secara umum baik pelajar hingga mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Empat lokasi sekolah yang pernah diajarkannya edukasi literasi yakni mulai di Desa Lerpak, Kecamatan Geger, Desa Banda Soleh Kecamatan Kokop, Desa Kajjan Kecamatan Blega dan Desa Galis Dajah, Kecamatan Konang.

“Kami mengambil di daerah pelosok karena mereka itu lebih minim edukasi terkait informasi atau berita yang benar dan hoaks. Khususnya mereka tidak mempunyai kreativitas untuk menyalurkan bakat dan minat dalam bidang kepenulisan,” katanya, Selasa (4/5/2021).

Dia juga berharap, dengan adanya kegiatan tersebut bisa memberikan inspirasi pelajar di pelosok bagi yang menyukai dunia tulis menulis mempunyai wadah untuk mengembangkan kreativitas melalui tulisan. Sehingga, dengan kegiatan rutinnya itu bisa menjadi inspirasi anak-anak di pelosok desa.

“Konsepnya seperti pondok Ramadan, cuma kegiatan kami isi dengan mengasah dan mengembangkan kreativitas dalam hal menulis. Acara tahun ini dua malam satu hari,” terangnya.

Selain itu, dengan PRK dia berharap, pelajar di pelosok desa bisa menulis dan ada persiapan untuk masuk jenjang pendidikan selanjutnya seperti perguruan tinggi. Irham menambahkan, kreativitas menulis tidak hanya sekedar tau tulis menulis, tapi juga menjadi sebuah alat untuk membuat menggugah menyuarakan pendapat melalui tulisan.

“Apalagi anak desa kan nihil kalau masalah menyampaikan inspirasi dan aspirasi,” terangnya.

Maka, dengan proses kreativitas menulis dan bisa menyaring berita agar tidak menelan mentah-mentah sebuah informasi yang tersebar di masyarakat.

“Setidaknya kalau tidak bisa menulis, mereka bisa menyaring informasi atau berita secara benar,” tandasnya. (ina/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *