Teknik Penulisan Berita dengan Struktur Penekanan Pola

  • Whatsapp
MENGANALISIS: Belajar struktur narasi dari “Hirosima” karya John Hersey.

Kabarmadura.id/JAKARTA-Tema pembahasan dalam forum kursus Jurnalisme Sastrawi hari keempat adalah struktur narasi, berdasarkan naskah “Hirosima” karya John Hersey, jurnalis Amerika Serikat yang mendapatkan penghargaan Pulitzer Prize pada 1928.

Andreas Harsono selaku pemateri, mengungkapkan bahwa dalam penulisan panjang model jurnalisme satrawi tidak seperti penulisan berita straightnews, indephtnews ataupun feature yang menggunakan struktur piramida terbalik, tetapi penekanannya lebih kepada pola, ia boleh dimulai dari mana saja.

Hersey, dalam menulis “Hirosima” tidak menulis dari awal sampai akhir peristiwa bom atom tersebut, tetapi menggarap bagian per bagian; satu bagian ditulis lalu pindah ke bagian lain seperti seseorang memahat patung.

Artikel dijadikan empat bagian, setiap bagian dipecah dalam enam sosok narasumber. Hersey memilih lima orang Jepang dan satu pastor Jerman untuk jadi tokoh cerita: Toshiko Sasaki (klerk), Hatsuyo Nakamura (penjahit), Masakuzu Fujii (dokter), Wilhelm Kleinsorge, Terufumi Sasaki (apoteker), dan Kiyoshi Tanimoto (pendeta).

Di beberapa sekuel, antarsosok itu bertemu dan bersimpangan, tapi semuanya tidak pernah berkumpul jadi satu.

“Tak ada jumlah korban, teknis persenjataan atau pesawat pengebom, pun tak ada keterangan tentang bom itu sendiri–meski Hersey sudah mengumpulkan semua data itu,” tambah Andreas, Rabu (17/7).

Struktur tulisan “Hirosima” adalah A Noiseless Flash, The Fire, Details are being Investigated, Panic Grass and Feverfew. Tulisan ini dimuat di majalah The New Yorker (31/8/1946), satu majalah full hanya diisi satu tulisan ini dan satu pengantar pendek.

“Karya ini menghentikan perdebatan antara politisi, agamawan, dan ilmuwan bom atom. Kesimpulannya, uji coba bom atom selayaknya dihentikan,” jelasnya. (mad/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *