Telan Anggaran Rp7 M, Pertanian Tetap Stagnan

  • Whatsapp
TIDAK OPTIMAL: Dana Rp7 miliar yang dikelola Dispertan Sampang untuk peningkatan produksi pertanian kurang berdampak, karena tingkat produksi cenderung stagnan.

Kabarmadura.id/Sampang-Setiap tahun, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Sampang gelontorkan anggaran besar untuk peningkatan produksi pertanian. Sayangnya, anggaran jumbo itu tidak terbukti, mengingat produksi pertanian beberapa dekade terakhir cenderung stagnan.

Pada tahun 2018, Dispertan Sampang gelontorkan anggaran peningkatan pertanian sebesar Rp6.624.050.000, tahun ini anggaran itu kembali naik mencapai Rp7.167.019.000. (Perincian lihat grafik). Sayangnya, ketersedian dana yang besar tersebut kurang berdampak dalam peningkatkan produksi pertanian.

Data Dispertan Sampang menunjukkan, luas lahan pertanian di Sampang mencapai 98.950 hektar. Rinciannya, sawah tadah hujan seluas 15.770 hektar, sawah pengairan seluas 5.512 hektar, dan lahan tegal sekitar 78.150 hektar. Rata rata per tahun, hasil produksi pertanian komoditi padi sebanyak 281.986 ton, jagung 90.946 ton dan kedelai 22.528.

Sementara, target luas tanam di lahan sawah untuk komoditi padi seluas 64 ribu hektar, untuk komoditi jagung 56 ribu hektar. Sedangkan untuk target produksi pertanian untuk komoditi padi sekitar 300 ribu ton, jagung 90.600 ton dan kedelai 34.950 ton.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertan Sampang Suyono mengatakan, hasil produksi pertanian setiap tahun sudah ada peningkatan, kendati peningkatannya tidak signifikan. Semua program peningkatan pertanian sudah terealisasi dengan maksimal. Namun problem dalam meningkatan produksi itu, banyak faktor dan kendala.

Kata Suyono, salah satu kendala dan hambatan dalam mendorong peningkatan produksi pertanian, semisal untuk komuditi padi, mayoritas petani tidak menggunakan benih atau bibit tanaman yang bersertifikat, juga diakibatkan rekayasa penggunaan pupuk yang tidak berimbang.

”Kalau peningkatan produksinya jelas ada, tapi memang jumlahnya tidak banyak, karena problemnya sangat kompleks, sedangkan program peningkatan produksi ini sudah berjalan maksimal,”kelitnya, kemarin (12/3).

Untuk itu, petani didorong menggunakan pupuk berimbang, artinya tidak hanya menggunakan pupuk pabrikan, tetapi juga menggunakan pupuk kandang.

Di sisi lain, produksi pertanian itu, tidak ditentukan oleh ketersedian lahan dan luas tanam. Namun, sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya tanam yang baik, anomali cuaca dan maksimalisasi tehnologi pertanian.

“Petani kita ini, yang menggunakan pupuk berimbang antara organik dan nonorganik, hanya sebagian kecil, makanya produksi sulit ditingkatkan, padahal rekayasa pupuk ini sangat penting sekali untuk maksimalisasi produksi pertanian,”jelasnya.

Sementara itu, Anggota komisi II DPRD Sampang Sahid meminta dispertan menggalakkan program peningkatan pertanian, kemudian penggunaan alsintan yang canggih dan aktif, serta melakukan pembinaan dan pelatihan pemanfaatkan alsintan, sehingga biaya produksi bisa ditekan.

“Kelompok tani di berbagai wilayah, harus didampingi dan didorong untuk memaksimalkan program dan berinovasi, manakala semua ini sudah jalan, dengan sendirinya produksi meningkat,”ungkapnya. (sub/waw) 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *