oleh

Tempuh Pendidikan di Tengah Semrawut Perang Timur Tengah

Perjuangan Muhammad Taufik, Lc., M.Sy., Ph.D (Cand.)

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Kandidat doktor muda ini lahir pada Jumat, 31 Januari 1992 tepatnya di selatan kota Gerbang Salam, Pamekasan. Tak sempat mengenyam pendidikan TK, dia belajar mengaji al-Quran, baca tulis hitung kepada Ibundanya Hj. Mafrudah dan Ayahandanya, H. Abd. Hamid.

Taufiq merupakan alumni SDN Branta Pesisir 1, SMP Negeri 2 Pamekasan dan SMA Negeri 3 Pamekasan. Meskipun pendidikannya ditempuh secara formal dia sambil nyantri di Pesantren Al-Falah Tlanakan dan Pesantren Darul Lughah Seninan Akkor Pamekasan.

Setelah usianya 17 tahun, dan mengembara ke Negeri Balqis, Yaman untuk melanjutkan kuliah S-1 dengan beasiswa di Al-Ahgaff University, lulus pada tahun 2014. Kemudian melanjutkan Pascasarjana di Universitas Sunan Giri Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Kementerian Agama RI.

Dia merupakan lulusan terbaik dan tercepat Magister Syariah, Ia mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI pada tahun 2016, dan memulai kuliah PhD in Islamic Revealed Knowledge and Human Science dengan konsentrasi kajian Islamic Jurisprudence di International Islamic University Malaysia pada Januari 2017.

Menempuh pendidikan di negara konflik membuatnya harus mampu bertahan. Harga sejumlah komoditas melambung tinggi dan BBM menjadi langka. Bahkan di tempatnya kerap mati lampu akibat perang. Beruntung dia berada di Hadramaut yang terbilang cukup aman.

“Kalau keluar Hadramaut perang dan di sana sipil boleh pegang senjata, jadi sangat riskan bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Selain kuliah, dia aktif di berbagai organisasi, seperti: Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman. Aktivitasnya di PPI Yaman tersebut, pada 2016, ia menjadi delegasi pada International Symposium, di Al-Azhar University, Kairo-Mesir.

Selain dunia akademik, Taufiq juga aktif dalam promosi Indonesia melalui sepakbola. Tahun 2010, bersama mahasiswa asal Madura lainnya mendirikan komunitas Madura United. Komunitas tersebut sangat aktif mengikuti pertandingan antar mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Menariknya, tim yang dipimpin Taufiq kerap memenangkan kompetisi sepak bola antar negara. Sepak terjangnya tersebut menjadikan timnya mendapat hadiah kostum madura United dari Presiden Klub Madura United Achsanul Qosasi.

“Kami pernah juara, pernah juga bertanding dengan negara-negara Afrika, Negara Arab dan yang lain. ada kejuaraan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI),” ucapnya.

Selama di Yaman dia aktif sebagai Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Yaman, dan Wakil Ketua PCI NU Malaysia (2017-2019), Ketua Forum Kandidat Doktor Nahdlatul Ulama (FKD NU) Malaysia (2018-2019).

Pernikahannya dengan Neng Nur Faizah dikaruniai dua anak, yaitu Fathimah dan Husain Muhammad. Bapak dua anak itu menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional, misalnya: The 1st Biennial International Conference di Vrije University, Amsterdam-Belanda (2017), International Conference on ASEAN Studies di Universidad Autonoma de Madrid-Spanyol (2018), 6th International Prophetic Heritage Conference, di International University for Renewal, Istanbul-Turki (2018). Saat ini, ia sedang menyelesaikan disertasi dengan judul “Nahdlatul Ulama’s Fatwas on Politics in Indonesia, a Maqâșid Evaluative Study”.

Setelah berpetualang di sembilan negara, tiga benua, dia kembali ke tanah kelahirannya, Pamekasan untuk mengabdi sebagai Dosen Filsafat Hukum Islam, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura. (ali/bri)

 

 

Komentar

News Feed