oleh

Tentang Hujan

Haznah merindukan dongeng laki-laki berwajah sejuk dengan jenggot tipis di bawah bibirnya. Ia merindukan dongeng itu sebesar ia menyukai teh hangat kala kegelapan rintik hujan datang menyergam. Dongeng itu sampai di hari kemarin. Ia selalu menceritakan dongeng itu kepada dirinya sendiri kala duduk di belakang jendela sambil menyaksikan huru-hara rintik hujan.

Ia berada jelas di depan wajah laki-laki itu ketika harum tanah menyerbu napasnya. Adukan  air hujan dan tanah mengingatkan semuanya. Walau laki-laki itu tak menghampirinya kala itu. Namun, bau tubuhnya terdengar menurut hujan deras yang juga terkadang mendadak kabur dalam ingatan.

Namun sesuatu terjadi, tiba-tiba petir menyambar. Bunyinya menghilangkan ingatan. Seketika Haznah terbangun dari kursinya. Ia coba bersikap tenang lalu meneguk teh hangat butannya sendiri. Lalu ia duduk kembali.

Waktu itu Haznah tidak tau betul apa ia benar-benar menyukainya. Tapi ia sangat menyukainya ketika cara ibu menceritakan bapak waktu muda. Haznah terkadang takut untuk mendengarkan cerita ibu. Kalau ia mau jujur bapak adalah sosok laki-laki ringan tangan terhadap ibu. Meskipun begitu ayah sangat  mencintai ibunya. Dan Haznah tau itu. Ketakutan itu terkadang menjadinya hal penasaran. Seolah-olah menjadikan suatu ketakutan itu akan datang  namun membahagiakan kala kasih sayang keduanya. Ia tidak mau tahu bapak ibunya menyukai teh hangat kala kegelapan rintik hujan datang menyergam.

Haznah selalu mengigit manis bibirnya kala mengingat laki-laki berwajah sejuk berjenggot tipis. Walaupun ia tidak tahu apakah laki-laki berwajah sejuk itu juga mengaguminya. Ia tak menemukan cara untuk melampiaskan kekagumannya. Batinnya berkata rasa bahagia apa ini. Mengapa aku menyukai bau tanah kala hujan datang mengaduk tanah. Dirinya selalu senyum-senyum sendiri.

Yang dia tahu laki-laki itu bersikap biasa saja. Tak ada benih cinta yang menjadi sinyal. Haznah semakin mengaguminya.

Rupanya Haznah mendengar ada sosok bidadari di hati laki-laki yang ia sukai itu. Ia mendengarnya dari beberapa perbincangan teman-teman dan perasaan yang laki-laki itu ungkapkan pada buku pribadinya. Meskipun begitu laki-laki berwajah sejuk itu mencintai dalam diam.

Haznah selalu ingin tahu tentang Dia. Tak sengaja ia bertemu dengan bidadari itu. Ketika melihatnya Haznah lemas. Selera laki-laki yang ia kaguminya berparas indah nan cantik pintar sepertinya religius juga. Bagaimana kalau bidadari itu menjadi jodohnya ?. sejak mengetahui itu kepalanya bertambah berat karena terus berpikir. Batinnya gelisah.

Ia sekarang menjadi teringat bidadari. Berkali-kali Haznah menghadirkan ulang laki-laki berjenggot tipis namun yang muncul selalu bidadari. Haznah berpikir mengapa dia lebih dari aku ?

Sekarang dongeng laki-laki itu tinggal sepotong ingatan saja. Harum bau tanah tak lagi mengingatkan pada sosok laki-laki sejuk. Rona kesedihan yang tampak kala hujan kembali turun. Air mata Haznah kadang lalu keluar. Tak jelas memang dia siapamu ?

Haznah bangkit dari tempat duduknya menganggap ada yang tidak beres dengannya. Apa yang telah aku lakukan ? tak ada gunanya. Aku harus mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Ujar Haznah seolah-olah melakukan pembenaran agar hatinya tidak terlampau galau.

Bidadari mulai terbang melesat jauh. Keduanya tidak ingin dia ingatkan lagi. Haznah ingin mengusir bidadari dan laki-laki berjenggot tipis itu pada tempatnya tanpa harus menunda-nunda lagi. Ia tidak ingin lebih lama keduanya hinggap riuh dikepalanya yang makin mengganggu. Di kepalanya terjadi kekeliruan yang ditimbulkan dari kepicikan sebuah kenyataan.

Haznah menarik badannya dari kursi dingin. Ia pikir lebih baik mengasah kemampuan dari pada mengasah ingatan kosong tak berguna. Dirinya hanya diam tidak melakukan apa-apa. Bahkan hanya sekedar meringankan beban ibu tidak bisa ia lakukan. Ia membiarkan genangan air di halaman rumahnya menggenang hingga menimbulkan lumut menghijau. Nenek dan kakeknya bisa saja jatuh oleh tarian lumut itu. Dirinya hanya mendongengkan dirinya dan lalu menceritakan dongeng itu kepada dirinya sendiri.

Ia bangkit dengan tubuh sempoyangan, ia berpikir untuk cepat melenyapkan kedua manusia dalam dongennya. Badannya mulai tegap. Siap mengambil sapu lidi. Dengan tangan halusnya ia mulai menyingkirkan genangan air hujan. Tangannya merah akibat tekanan yang ia berikan pada sapu lidi. Membuatnya tak biasa dengan ini semua.

Haznah seketika mengalami ketenangan yang luar biasa. Bidadari itu sepertinya masih melihatnya. Bidadari itu hendak turun ke kayangan kepala Haznah, tapi ia tak merasakan apa-apa lagi selain perasaan damai. Ibu tampak memandangi dari kejauhan  rona bahagia anak perumpuannya mulai membatunya.

Haznah mulai berjalan membuka pintu kamar. Merapikan tempat tidur yang berantakan. Dirinya membuka jendela. Dilihatnya sekilas langit tampak gelap. Biasanya gelap ini akan hilang setelah datang hujan. Aneh pikirnya sambil tersenyum. Apakah hujan akan dantang lagi ?. langit hari ini benar-benar gelap. Batinnya merasa bahagia dan mengabaikan keganjilan itu.

Ia semakin bahagia. Ia tidak merasakan lagi aktivitas laki-laki berwajah sejuk dan bidadari di kepalanya. Mereka berdua diam menyaksikan Haznah memperbaiki jalan dongeng yang dirangkai. Ia dongengkan dirinya sendiri di sepertiga malam sebelum memaksa dirinya sendiri karena harus berangkat kuliah jam tujuh pagi.

Biodata penulis

Nama : Malihatun Nikmah

Pekerjaan : Mahasiswi, Tadris Bahasa Indonesia , IAIN MADURA.

 

Komentar

News Feed