Tentang Jenderal Tua dan Kucing Belang

  • Whatsapp

Oleh: Hafis Azhari*)

Pada umumnya, setiap karya sastra yang baik seakan mampu melihat bagaimana cara kerja dunia, yang semula dianggap tak lazim dalam pandangan masyarakat awam. Sama halnya ketika seorang tokoh menatap wajah orang yang dicintainya. Pandangannya menembus masuk ke relung-relung kalbu, seakan tak nampak dalam sudut pandang orang banyak. Namun sebaliknya, ketika sang tokoh menatap penuh amarah dan kebencian, tatapannya juga seakan tak lazim, meskipun ia berusaha untuk menutupinya.

Berbagai ulasan mengenai novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang” (selanjutnya ditulis JTKB), yang juga disinggung dalam opini www.kompas.id, tertanggal 14 November 2021, berjudul “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”. Pada prinsipnya, novel JTKB, mencoba menelaah dan menelusuri problem kekinian manusia Indonesia, yang semoga mudah ditangkap oleh pembaca yang terampil mengasah hati nurani dan akal sehatnya. Novel itu menggambarkan kehidupan seorang jenderal militer yang berusaha keras ingin meloloskan diri dari tanggung jawab masa lalunya, pada tahun-tahun pasca peristiwa politik 1965. Di situ terbersit, bahwa memori sang jenderal tetap hidup, meskipun menampik urusannya pada masalah-masalah kemanusiaan.

Tetapi, dapatkah ia menghindari konflik dan rivalitas yang tak terbantahkan, justru oleh keberadaan kucing belang yang hidup di rumah megah hasil sitaannya.

Kucing belang itu dianggap ngabetin, ngerecokin, bahkan merintangi segala obsesi dan ambisinya. Ia sudah meraih segala-galanya, prestise, kekuasaan bahkan kekayaan. Tetapi, akankah semua capaian itu berjalan mulus, manakala seekor kucing misterius tiba-tiba datang dan serta-merta merintangi jalan hidupnya? Melalui novel JTKB, saya berusaha membuka kembali gulungan pita beruntai ganda yang mengandung semua informasi genetik yang diperlukan untuk pertumbuhan manusia Indonesia ke depan. Bagi saya, semua sel hidup di planet ini memiliki satu versi dari pita gulungan sejarah dan memori hidupnya. Ia membawa pesan moral tersendiri, dari sekian miliar karakter umat manusia dalam perjalanan berbangsa dan bernegara.

Novel JTKB menyingkap gambaran perihal sel-sel yang mengatur diri dalam pola yang menciptakan setiap individu manusia. Ia membentangkan memori kolektif manusia Indonesia, sebagai bagian dari sejarah dunia, serta membuka kedok bahwa mereka yang telah mengubah batas-batas kesadaran, kini telah sampai pada emansipasi kesadaran baru yang menuntut pertanggungjawaban moral di depan meja hijau pengadilan sejarah.

Novel itu membahas batas-batas primordialisme yang menganggap orang lain sebagai liyan, yang seakan di luar kewenangan dan urusan pribadinya. Bagi saya, dengan cara memaparkannya lewat karya sastra, niscaya akan terhempas segala dogma dan doktrin agama yang membabi buta. Dalam wacana yang mengandung unsur religiositas tinggi, niscaya segala kepura-puraan dan kesalehan palsu akan terkuliti dan terkelupas keasliannya.

Tak ada yang istimewa sebenarnya. Melalui JTKB, saya mencoba bersandar pada hukum universal untuk memahami dunia secara obyektif. Suatu dimensi yang mengendalikan hubungan antara alam yang bersifat materi dan immateri (alam ruh). Plot-plot yang terbangun, memang menampilkan karakteristik para tokoh secara lugas dan gamblang, betapa materialisme ilmiah dan debat-debat politik para pendukung kandidat presiden, begitu menjemukan dan menjengkelkan. Juga tak dapat diandalkan bagi pemekaran peradaban bangsa ini.

Kehidupan yang ditelaah ribuan penyair dan sastrawan, yang dianggap irasional, berusaha untuk saya gali dalam pola tersendiri. Kalaupun ada tokoh yang tampil secara irasional, maka bersiap-siaplah, bahwa di masa yang akan datang alam semesta akan membalas dengan kekuatan yang sama irasionalnya. Kini, setiap agama dan ideologi apapun sudah mencapai pintu gerbang kearifannya. Jika seorang jenderal militer menghindar dari sebuah tantangan, maka tantangan itu akan datang lagi dalam bentuk berbeda. Ya, kodrat manusia akan selalu menarik ke arah dirinya.

Maka berhati-hatilah, karena kucing belang itu tiba-tiba muncul lagi, yakni suatu makhluk lemah yang hanya seberat dua kilogram, tetapi oleh karena ulah perbuatan sang tokoh, yang membuat kucing mungil itu menjelma sebagai monster raksasa yang mengerikan.

Di era milenial ini, banyak orang yang berlomba meraih kekayaan dan kekuasaan duniawi. Melalui JTKB, saya mengajak semua pihak agar sampai pada kesadaran bahwa menjadi kaya bukanlah pilihan yang tanpa risiko. Saya masih ingat film garapan Ridley Scott, “All the Money in the World”  (2017), ketika seorang tokoh yang bergelimang harta kekayaan berkata: Ketahuilah, terlanjur menjadi kaya itu ibarat kita berdiri bersama keluarga di tepian jurang yang teramat curam dan terjal. Kalaupun bukan saya yang terjerumus, jurang itu boleh jadi akan merenggut anak, cucu, istri, bahkan saudara-kerabat saya sendiri!

Karena itu, pesan moral yang ingin dicapai dalam JTKB juga mengajak semua pihak – termasuk diri saya – bahwa niat-niat baik seseorang, jika tanpa dirawat dan dipupuk secara konsisten (istikAmah), ia akan mudah melenceng dari jalur yang semestinya. Sebuah keyakinan yang tulus, dalam perjalanan ruang dan waktu, dapat mengubah seseorang pada kondisi yang di luar kehendaknya. Dan untuk bertahan pada apa yang dicintai, setiap orang harus sanggup berkorban, bahkan berani mengubah apa-apa yang sudah menjadi tekad dan keyakinannya.

Melalui JTKB, diupayakan terjalin pertukaran kecerdasan dan kearifan yang boleh jadi memaksa kita agar menyarungkan egoisme dan keangkuhan intelektual selama ini. Boleh jadi akan dianggap “malapetaka” bagi mereka yang menganggap diri sebagai pemegang tunggal kebenaran. Perspektif tunggal yang diwariskan pemerintah Orde Baru diharap agar mengalah untuk senantiasa berpikir mendasar , alami dan sewajarnya: Siapakah diri kita ini sebenarnya? Dari mana kita berasal, dan ke mana tujuan hidup kita? Mengapa manusia Indonesia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan berbeda-beda bahasa dan agama? Apa yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa politik 1965? Sudahkah kita mengabdikan diri untuk menelusuri kebenarannya, demi perbaikan dan kemajuan peradaban bangsa ini? Lalu, siapakah yang lebih mulia di mata Tuhan? Apakah saya, anda, atau kita? Ataukah justru mereka yang menjadi penyintas pasca peristiwa 30 September 1965 itu?

Ada apa dengan pikiran, perasaan, dan memori kolektif bangsa ini? Suatu bangsa yang berpopulasi ratusan juta jiwa, namun hanya memunculkan satu orang penulis dan sastrawan yang berkiprah diakui dunia internasional, dan beberapa kali masuk nominasi nobel di bidang sastra? Bukankah hal yang riil dan kasatmata ini menunjukkan adanya masalah serius, yang sumbernya ada dalam diri kita sendiri? Lalu, untuk apa kita sibuk mempertengkarkan hal-hal yang di luar diri kita?

Novel JTKB menggambarkan betapa hidup manusia bukan semata-mata pergerakan otak dan logika murni. Seumumnya karya sastra, terkandung untaian panjang perjalanan rasa yang saling harmoni dan bersinambung. Ia seakan merancang bentuk kecerdasan dan kearifan lokal, menarik kembali nilai kebijaksanaan dari masa ribuan tahun silam. Diupayakan agar membuka kembali hati nurani dan akal budi, serta menolak jalan sejarah yang membeku dan membatu selama puluhan tahun kekuasaan rezim militerisme di negeri ini.

Dengan itu, saya ingin mengabarkan, bahwa memang ada sesuatu yang istimewa pada orang-orang Nusantara ini. Namun, tanpa kesadaran yang mumpuni, kehidupan akan sulit untuk berbaik hati. Sebab, Tuhan akan memosisikan diri dalam kerangka dan prasangka hamba-hamba-Nya. Saya mencoba menunjukkan, betapa teramat banyak jasa-jasa manusia di masa lalu. Betapa kebaikan hati dan hikmah kearifan itu mesti dihiasi dengan rasa syukur yang mendalam. Bukan dengan retorika-retorika politis yang mendangkalkan dan menumpulkan imajinasi kita.

Akal budi dan karya cipta para pendahulu terpahat dalam estetika seni yang terus mengalir, sekeras apapun orang-orang jahil berusaha membendung dan menghentikannya. Keindahan pikiran, perasaan, kesantunan laku, kejernihan hati nurani, tertoreh pada pahatan zaman di lembaran lontar, dinding gua, hingga pada kelezatan dan kenikmatan masakan Nusantara. Kekisruhan politik yang tergambar dalam JTKB, memang telah membuat bangsa beradab ini kehilangan banyak hal, tanpa disadari.

Untuk itu, melalui novel tersebut, saya mencoba menengahi, sedapat mungkin memberitahu apa-apa yang selama ini telah hilang dari diri kita. Saya ingin mengajak agar bangsa ini tak perlu bertikai di hamparan tanah yang sama dipijak dan dihuni. Tak perlu berebut sumber-sumber air yang sama diminum. Tak perlu bersengketa untuk udara yang sama dihirup. Juga tak perlu membakar api-api yang dipantik dengan dendam kesumat dan amarah. Untuk apa? *

*) Penulis Novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua 

       dan Kucing Belang

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *