oleh

Teologi Antikorupsi ala Gus Sholah

Oleh: Muwaffiq Jufri

(Pengajar Hukum Tata Negara di Universitas Trunojoyo Madura dan Akademisi Antikorupsi Mitra KPK)

Kepergian KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) bukan saja kehilangan bagi kalangan pegiat kepesantrenan dan dunia keislaman, tapi juga bagi para pegiat pemberantasan korupsi di seantero negeri . Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP KPK), Yudi Purnomo, yang menyebut Gus Sholah sebagai negarawan yang gigih berjuang melawan korupsi.

Peran Gus Sholah dalam mendukung segala kegiatan pemberantasan korupsi memang tidak bisa dinafikan. Semangatnya dalam usaha memberantas korupsi tidak kalah membara dengan kakak kandungnya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga tidak pernah memberi ruang kompromi pada korupsi.

Genetika Antikorupsi

Bisa jadi, komitmennya untuk tidak tunduk pada korupsi merupakan warisan komitmen dari para leluhurnya sebagai pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini. Kakek Gus Sholah, KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh besar umat Islam yang mencetuskan resolusi jihad untuk membela kehormatan dan martabat bangsa. Sedang ayahnya, KH. Wachid Hasyim, adalah ulama’ yang sejak muda telah terlibat aktif dalam segala usaha pendirian bangsa (the founding father).

Baik kakek ataupun ayahandanya telah sama-sama ditetapkan sebagai pahlawan nasional, sebagai penghargaan negara atas jasa-jasanya dalam upaya mencapai kemerdekaan dan tercapainya kehidupan berbangsa yang maju dan berperadaban agung. Barangkali, akar genetika pejuang inilah yang membuat Gus Sholah tidak menginginkan bangsanya hancur karena korupsi.

Selain itu, akar genetika yang tidak kalah penting dalam membentuk pribadi Gus Sholah ialah lingkungan yang membesarkannya, yakni lingkungan Pesantren. Sebagaimana kita ketahui bersama,  pesantren adalah bentuk orisinal lembaga dan/atau sistem pendidikan di Indonesia, yang pada mulanya memang didesain untuk menciptakan sosok intelektual yang mumpuni di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Pesantren lahir dari masyarakat dan berjuang penuh untuk mencapai tatanan sosial yang mapan. Sejak masa-masa awal keberadaannya, pesantren telah menasbihkan dirinya sebagai basis pembentukan umat yang cerdas, berakhlak mulia, dan berkarakter nasionalis. Sebab itulah, pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, pesantren mampu menjadi motor utama perjuangan melawan kelaliman yang dipraktikkan oleh para penjajah negeri.

Kecintaan kaum pesantren (santri dan kiai) kepada negerinya tidak perlu diragukan, dan kecintaan ini bukanlah kecintaan yang sifatnya pragmatis pada kekuasaan, melainkan cinta yang dilandasi oleh semangat perjuangan dan adanya keinginan untuk tetap merawat cita kemerdekaan. Tidak heran slogan “NKRI Harga Mati” masih menggelora di kalangan kaum santri hingga menit ini.

Sebagai kelompok sosial yang sejak awal terlibat aktif dalam pendirian bangsa, kaum santri adalah kelompok yang tidak akan pernah rela jika negeri yang didirikan dengan penuh keringat perjuangan harus hancur akibat ulah para pejabatnya yang bermental korup. Paradigma demikian yang menyebabkan Gus Sholah tidak kenal lelah memperjuangan semangat antikorupsi, baik di lingkungan pesantren ataupun di lingkungan luar pesantren (publik).

Teologi Antikorupsi

Gus Sholah adalah pribadi Muslim yang taat menjalankan segala ajaran agama dan berupaya penuh menghindari segala larangannya. Salah-satu ciri orang taat beragama ialah sikapnya yang tidak mau tunduk pada segala praktik-praktik curang dalam kehidupan keseharianya, termasuk usaha untuk menjauh dari sikap koruptif.

Pendekatan yang dilakukan Gus Sholah dalam memasyarakatkan antikorupsi dalam tatanan sosial prespektif teologi keagamaan tercermin dalam beberapa tindakan konkret, antara lain: Pertama, menciptakan pemahaman publik dengan doktrin Islam antikorupsi. Islam sangat membenci korupsi dan Islam tidak pernah membenarkan korupsi.

Beberapa tulisan Gus Sholah berusaha menetralkan pandangan umat Islam terhadap anggapan bahwa korupsi dapat dikategorikan sebagai hadiah (sedekah). Menurut Gus Sholah, meskipun Islam sangat menganjurkan sedekah dan menjamin pahala yang berlipat atas amal ini, tetapi Islam juga memberikan rambu-rambu terhadapnya, bahkan beberapa bentuk sedekah dapat mengarah pada amal yang diharamkan.

Ini artinya sedekah yang dianjur dan dijamin oleh agama tetap memiliki standar baku dalam pengamalannya. Yakni sedekah yang terhindar dari maksud-maksud untuk mempengaruhi kebijakan pemerintahan, mengintervensi putusan pengadilan, dan yang paling penting tidak melanggar ketentuan syariat (KPK, 2007).

Kedua, membangun gerakan “Teologi Antikorupsi” berbasis tokoh lintas agama. Gerakan ini dimaksudkan untuk membangun kekompakan antar tokoh dan/atau pemuka agama dalam mendukukung pemberantasan korupsi. Usaha ini berhasil melahirkan kesepakatan bersama yang tertuang dalam “Deklarasi Tebuireng dan Lintas Agama Melawan Bahaya Korupsi (Tebuireng Online, 2017).

Posisi Gus Sholah sebagai tokoh sentral dalam gerakan ini merupakan keniscayaan, ditengah maraknya kegiatan modifikasi ayat dan dalil keagamaan untuk memuluskan nafsu serakah korupsi. Gus Sholah tentu tidak ingin kesakralan agama yang seharusnya menjadi teologi membangun negara, justru dimanipulasi untuk memenuhi hasrat dan nafsu korupsi.

Pada akhirnya, segala kegiatan membasmi korupsi berbasis gerakan keagamaan ini merupakan bentuk perjuangan Gus Sholah sebagai pribadi yang ingin menjaga kemurnian agama yang sempat ternoda akibat ulah para pelaku korupsi. Intinya agama hanya akan mengajarkan kebajikan dan menghindari segala yang merusak tatanan kehidupan.

Komentar

News Feed