oleh

Teori Bahagia Ala Jawa Modern

Abdullah Adhim*

Pada dewasa ini kita disibukkan dengan harapan dan cita-cita yang selalu digembor-gemborkan semenjak kecil. Pertanyaan-pertanyaan kamu mau jadi apa saat besar?, mau memiliki apa saat besar? Atau apa cita-citamu? Menjadi momok besar bagi sebagian manusia. Akhirnya, tak jarang banyak yang frustasi, bunuh diri atau minimalnya sedih akibat apa yang sudah dicanangkan gagal.

Kita juga sangat menginginkan status sosial yang bagus, kekayaan, rupa yang menawan, kekuasaan, pangkat yang tinggi dan lain-lain, padahal itu akan memunculkan rasa iri, sombong dan menganggu ketenangan diri. Kemudian kapan kita akan masuk pada taraf rasa yang adem ayem, tentram, damai dan taka da konflik dengan individu yang lain maupun diri?.

Perdamaian yang digaungkan semenjak bahuela takkan pernah selesai dibahas dan secara praktis takkan pernah hatam. Karena ketenangan diri secara person masih belum selesai teratasi oleh kita-walau kelihatan dari luar kita damai. Bangun tidur gelisah, makan kepikiran, bekerja kebawa beban dan masih banyak lagi hantu-hantu yang merusak kedamaian jiwa.

Afthonul Afif, mengingatkan sebuah teori psikologi dari nenek moyang kita; Ki Ageng Suryomentaraman yaitu teori kebahagian ala jawa modern. Afif mengantarkan kita dalam bukunya Psikologi Suryomentaraman mengenal teori K.A Suryomentaraman secara utuh dan tidak berbelit-belit. Sekaligus, membuat tamparan yang menyadarkan bagi kita yang terlalu ambisius tentang masa depan, seperti dibawah ini.

“Ketika keinginan orang untuk memiliki jabatan tercapai, dia kemudian merasa memiliki kuasa, lalu lupa menyembah, yang terjadi justru ingin disembah, disembah oleh keinginan-keinginan yang tidak terlaksana yang juga terdapat dalam diri orang bersangkutan. Ketika dia berkuasa dia merasa menjadi Tuhan, sementara ketika celaka merasa menjadi hamba” Hal. 133.

Teori Ki Ageng ini biasa dikenal dengan NEMSA (6-SA) sebagai sumber kebahagian. Dalam buku ini kita diseret untuk berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan. Apakah kita sudah bahagia? Atau malah kita celaka? Kemudian diformulasikan dengan pemikiran Ki Ageng tentang sumber kebahagian.

Kita yang merasa gagal dalam melangkah, kalah saat permainan, dan menjadi pecundang digelanggang. Dihidupkan kembali semangat berkarya beserta kebahagian hidup oleh teori beliau. Sederhana namun mengena didada, mungkin itu kata yang pas menggambarkan teori Ki Ageng kita ini.

Seandainya kita gambarkan, kita bangun dari tidur, melakukan ibadah, bekerja disawah, dapat kiriman, tertawa bersama sejawat lalu sore kembali ke rumah berkumpul dengan keluarga tanpa beban dan keinginan yang menggebu tentang masa depan. Ah, sungguh nikmat disela-sela itu merokok seperti tanpa ada beban yang berat.

Buku ini menyajikan teori Suryomentaraman yang rasional dan tanpa meninggalkan kekhasan-bahkan dalam beberapa literatur Ki Ageng disebut filosof karena teorinya ini. Sungguh sangat pas dengan keadaan kita dewasa ini yang di kuasai oleh keinginan semat, drajat dan kramat. Dengan menyajikan standar-standar keinginan kita, contoh-contoh yang sederhana, Lalu NEMSA (6-SA)nya. Dan saat kita boleh mengkhayal tanpa menggebu-gebu, dimana kita semua menganut teori Ki Ageng. Sungguh, damai jiwa, raga dan negara.

Wallahu A’lam

*Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN SUKA Yogyakarta, Anggota Komoenitas Maos Boemi (KMB). Bisa dijumpai di Abadapafh@gmail.com

 

Judul buku         : Psikologi Suryomentaraman

Penulis               : Afthonul Afif

Penerbit             : IRCiSoD

Cetakan             : Pertama, Maret 2020

Tebal halaman : 238 halaman

 

Komentar

News Feed