oleh

Terkait Dermaga Gili Iyang, Komisi D DPRD Jatim Sebut Dishub Tidak Transparan

Kabarmadura.id/Sumenep-Wakil Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Moh  Asyhari menyampaikan kembali hasil inspeksi mendadak (sidak) ke pembangunan Pelabuhan Gili Iyang yang menemui ada beberapa kejanggalan di dalamnya. Pembangunan yang direncanakan sejak tahun 2015 itu sampai saat ini tidak kunjung selesai bahkan pernah putus kontrak.

Selaku Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur (Jatim) dan berasal dari Dapil Madura, kegiatan sidak tersebut dilakukan untuk benar-benar memastikan terhadap kondisi atau fakta pembangunan tersebut di lapangan.

“Temuan pasti ada, misalnya cantolnya itu tidak dipasang oleh kontraktor. Mestinya itu dipasang terlebih dahulu, sehingga jika ada ombak yang cukup besar tidak akan ambruk kayak kemarin,” katanya, kemarin.

Politisi Partai Nasdem itu juga menyampaikan, dalam pembangunan dermaga itu sama sekali tidak ada transparansi dari pihak dinas terkait, sehingga kabar kondisi pembangunan tersebut sudah terselesaikan 70 persen tidak sesuai dengan keberadaan di lapangan.

Misalnya jika capaian itu sudah 70 persen, maka kondisi pembangunan tersebut dapat dipastikan kokoh dan tidak gampang ambruk. Dia juga mengkalkulasi berdasarkan hasil pantauan di lapangan, pekerjaan yang selesai hanya sekitar 40 persen.

Sehingga pelabuhan yang dianggarkan Rp17 miliar yang bersumber dari APBD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tersebut, masih harus diserahkan ke kontraktor lain untuk tahap penyelesaiannya.

“Termasuk kontraktor yang hanya dibayar 45 persen. Lalu dilelang ulang, nah dari sini tidak ada transparansi atau keterbukaan terkait pembangunan tersebut,” imbuhnya.

Rencananya, dermaga Gili Iyang diproyeksikan menjadi pelabuhan berstandar nasional. Mengingat, Pelabuhan Dungkek juga akan menjadi akses menuju Pulau Wisata Oksigen di Gili Iyang. Harapannya, pelabuhannya juga diusahakan mengacu pada standar yang ditentukan.

Selain itu, nanti juga akan dibangun penyeberangan khusus hewan. Selama ini, sapi yang akan diangkut biasanya berenang sebelum naik ke kapal. Pembangunan fasilitas khusus naik turun hewan ternak tersebut rencananya juga akan disediakan.

“Sehingga jika tahun ini pembangunan tersebut tidak kunjung selesai juga, maka anggaraan tersebut akan diminta untuk dikembalikan lagi,” pungkasnya. (ara/pai)

Komentar

News Feed