Terkendala Sinyal dan Sarana Prasarana, Disdik Bangkalan Sebut Pembelajaran Daring Tidak Efektif

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) BAMBANG BUDI MUSTIKA: Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan.

Kabarmadura.id/Bangkalan– Pembelajaran daring sudah terlaksana 2 bulan lebih. Namun, pembelajaran tersebut tetap tidak efektif bagi guru dan peserta didik, khususnya untuk yang ada di desa atau pelosok.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Bambang Budi Mustika. Pihaknya sendiri merencanakan kegiatan pembelajaran secara normal akan dilaksanakan tanggal 2 Juni nanti, jika wabah Covid-19 semakin berkurang.

Bacaan Lainnya

“Kalau wabah ini reda setelah lebaran, kemungkinan 2 Juni masuk kembali,” katanya.

Dia menyampaikan, proses pembelajaran secara daring terkendala dengan sinyal, sarana dan prasarana, baik milik guru maupun siswa. Terkendalanya jaringan atau sinyal dalam proses daring ini, kata Bambang, terjadi di daerah pelosok atau desa.

“Kalau kota sudah bisa menerapkan pembelajaran menggunakan daring ini. Yang di desa yang kesulitan, mereka (guru, red) banyak mengeluhkan tidak ada sinyal,” ujarnya.

Masih menurut Bambang, untuk sementara pada bulan Ramadan ini pelajaran agama difokuskan pada penghafalan Al-Qur’an juz 30. Untuk yang tidak bisa menggelar pembelajaran daring, diharapkan tetap dilaksanakan penyampaian materi.

“Kalau Kota, kegiatan pembelajaran daring normal, sudah bagus. Sedangkan di daerah seperti Kecamatan Geger tidak ada sinyal sama sekali,” paparnya.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, untuk mengatasi hal tersebut, ia berharap, ada kerja ekstra dari guru untuk belajar. Kegiatannya, katanya, bisa dilakukan dengan rombongan belajar. Pihaknya juga mengintruksikan untuk tidak memberikan nilai terhadap kegiatan pembelajaran daring.

“Cukup diberikan pujian, karena tidak mempengaruhi kelulusan atau kenaikan siswa,” terangnya.

Pihaknya hanya meminta agar guru mengimbau kepada siswa agar tetap tinggal di rumah. Mengenai pembelajaran daring ini, Bambang menuturkan, tidak ada insentif bagi guru. Untuk masalah itu, katanya, tergantung masing-masing kebijakan dari sekolah.

“Tergantung sekolah untuk insentif guru seperti paket data. Kalau di kota sudah ada insentif, kalau di desa karena tidak efektif, jadi tidak ada. Karena memang tidak efektif pembelajarannya,” tukasnya. (ina/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *