Terpaksa Gunakan Air Keruh untuk Mandi

  • Bagikan
KM/SUBHAN MEMBAYAKAN: Sejumlah masyarakat di Kabupaten Sampang, utamanya warga Desa Torjunan, Kecamatan Robatal, memanfaatkan air keruh sisa aliran sungai untuk mandi dan cuci pakaian.

Kabarmadura.id/Sampang-Bencana kekeringan di Kabupaten Sampang belum teratasi secara maksimal. Indikasinya, masih banyak warga yang memanfaatkan sisa genangan air sungai yang keruh untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian.

Hal tersebut terpaksa dilakukan warga, karena bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, tidak mampu membantu memenuhi kebutuhan warga secara menyeluruh. Salah satunya, seperti yang terjadi di Desa Torjunan, Kecamatan Robatal, Sampang.

“Jika musim kemarau, Desa Torjunan ini selalu mengalami krisis air bersih, karena sumur-sumur milik warga mongering, untuk bisa memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, mayoritas warga harus membeli air tangki sedangkan untuk mandi dan mencuci memanfaatkan sisa air gubangan sungai yang sudah keruh,” ungkap Aisyah (32) salah satu warga desa Torjunan, Minggu (1/9).

Aisyah menceritakan, kelangkaan air di desanya itu, sudah terjadi beberapa bulan terakhir, tepatnya sebelum hari raya Idul Adha. Meski demikian, bantuan berupa droping air dari pemerintah sangat terbatas, mayoritas warga untuk memenuhi kebutuhan minum dan masak dengan membeli kepada para penyedia air bersih.

“Untuk mendapatkan air bersih, saya membeli Rp300 ribu per tangki dengan kapasitas 5 ribu liter. Jika sudah tidak punya uang untuk beli air, maka kami terpaksa mandi dan mencuci dengan memanfaatkan  air sungai yang sudah keruh dan kotor ini,” bebernya.

Untuk itu, Aisyah berharap, Pemkab Sampang dapat memberikan bantuan air bersih dan meningkatkan perhatian terhadap warga di desa terdampak kekeringan, khususnya saat musim kemarau.

Sebab, tidak semua warga mampu membeli air tangki secara terus menerus. Terlebih, bencana kekeringan ini sudah menjadi bencana rutin tahunan yang tak kunjung teratasi secara maksimal.

“Saya berharap bantuan droping air bersih ini dapat ditingkatkan, karena setahu saya, bantuan dari BPBD tersebut hanya sekali saat musim kemarau, meskipun bencana kekeringan ini sudah terus berlanjut,”harapnya.

Baca juga  Penghuni Rutan Melebihi Kapasitas

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Anang Djoenaidi berujar, jumlah desa yang terdampak kekeringan tahun ini bertambah menjadi 67 desa dari sebelumnya 42 desa yang tersebar di 12 kecamatan.

Ia menjelaskan, program droping air bersih ke desa yang mengalami kekeringan sudah dilakukan. Pihaknya mendistribusikan  6-12 tangki air ke masing-masing kecamatan.  Tiap desa dibantu tiga tangki air dengan besaran anggaran secara keseluruhan senilai Rp51 juta.

“Kami tidak menampik jika bantuan droping air bersih tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau. Karena jumlah personel dan armada sangat terbatas,” singkatnya. (sub/pin)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan