Tetap Hargai PPKM Darurat namun Takmir Menolak Tutup Masjid

  • Whatsapp
(FOTO: KM/Imam Mahdi) YAKIN AMAN: Kendati PPKM darurat Covid-19, takmir masjid menyatakan menolak jika harus menutup masjid dari jamaah salat.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Covid-19, 3 hingga 20 Juli 2021, semua pelaksanaan kegiatan yang mengundang kerumunan dibatasi, termasuk pelaksanaan ibadah berjamaah.

Pelaksanaan salat Jumat berjamaah di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan di masa PPKM darurat dipastikan tetap tergelar. Namun Ketua Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Bidang Pendidikan Fadli Ghazali menyebut, protokol kesehatan (protkes) tetap dijalankan.

Sebelum memasuki serambi masjid, seluruh jamaah salat Jumat akan diperiksa suhu tubuhnya, diharuskan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan, wajib mengenakan masker dan menjaga jarak dengan mengosongkan satu saf. Bagi jamaah yang tidak mengenakan masker diminta pulang. Pihak takmir juga menyediakan masker untuk jamaah.

Untuk menghindari kerumunan, disediakan kantong plastik untuk tempat sandal. Kantong tersebut dibawa ke dalam masjid, agar tidak berkerumun saat keluar masjid. Selain itu, pelaksanaan dzikir setelah salat diperpendek .

“Yang biasanya dzikir setiap bacaan 30 kali, kami cukupkan tiga kali. Doanya dipercepat dan diperpendek,” ucap ketua Badan Amil Zakat Nasional (Banzas) Pamekasan itu.

Jamaah salat Jumat juga dibatasi 30 persen dari total kapasitas masjid. Dari total kapasitas Masjid Agung Asy-Syuhada sekitar 5 ribu jamaah, jadi sekitar 300 sampai 400 jamaah. Untuk pelaksanaan salat lima waktu, pihaknya mengimbau agar warga salat di rumah.

Sedangkan Ketua Takmir Masjid Agung Bangkalan Syafi’ Rofi’i memastikan tidak akan menutup Masjid Agung Bangkalan dan tetap memperbolehkan jamaah untuk beribadah, salah satunya ibadah salat Jumat.

“Kami tidak mungkin menutup, karena ini akan mengganggu kepercayaan masyarakat,” ungkap mantan wakil bupati Bangkalan itu, Kamis (8/7/2021).

Tetapi aturan pembatasan tetap harus diberlakukan, utamanya mengenai jumlah jamaah. Meski begitu, pihaknya juga tidak melarang jika masyarakat berkenan mengganti salat jum’at dengan salat wajib di rumah masing-masing.

“Ini hukumnya kan boleh, karena sesuai juga dengan fatwa MUI,” tegasnya.

Sikap serupa juga dilakukan takmir masjid di Sumenep. Kendati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengimbau warganya untuk salat di rumah masing-masing, takmir masjid tidak menutup masjid dan mempersilahkan salat Jumat di masjid, salah satunya di Masjid Jamik Sumenep.

Ketua Takmir Masjid Jami’ Sumenep Husen Satriawan menegaskan, meski ada pemberlakuan PPKM darurat, salat Jumat di semua masjid wajib dilakukan.

Sebab, mantan anggota TNI itu memastikan, semua alat kelengkapan, termasuk masyarakat yang tidak membawa masker, akan disediakan di Masjid Jamik Sumenep. Sekaligus menerapkan protokol kesehatan (protkes).

“Kami akan buka lebar untuk yang akan melaksanakan salat Jumat,” katanya, Kamis (8/7/2021).

Sementara menurut Pengurus Masjid Rominah Attaubah, Kedungdung, Sampang, Suhaimi Baghdad, segala kebijakan pemerintah demi menjaga keselamatan rakyatnya akan didukung, terlebih kebijakannya tidak dilakukan semena-mena dan diyakini telah diketahui para ulama dan umara.

Namun, pemerintah diminta mempertinbangkan terkait peniadaan ibadah di masjid. Artinya, penerapannya harus disesuaikan dengan zona. Jika zona tersebut membahayakan bagi keselamatan masyarakat, kebijakan itu harus ditegaskan. Kemudian, di pedesaan jangkauan dari petugas sangat minim, sehingga hal itu juga perlu dipikirkan.

“Protokol kesehatan di masjid sudah kami terapkan, tetapi untuk peniadaan salat berjemaah tidak bisa dilakukan, karena untuk wilayah saya masih ada di zona aman. Kalau membahayakan, harus diterapkan dan petugas harus pantau itu,” ujar Suhaimi. (ali/hel/mal/imd/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *