oleh

Tetapkah Bersekolah di Zona Merah?

Buka Pintu New Normal Pendidikan

Kabarmadura.id-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menyampaikan, terdapat sebanyak 429 kota/kabupaten di Indonesia yang dilarang membuka sekolah untuk kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di tengah masa pandemi Covid-19.

Kota/kabupaten yang dilarang tersebut, ucap Nadiem Makarim, karena berstatus zona merah, orange, dan kuning yang merujuk data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terbaru per tanggal 15 Juni 2020.

Berdasar data yang dimiliki Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), terdapat 94 persen dari seluruh peserta didik di Indonesia yang tidak diperkenankan melaksanakan KBM secara tatap muka langsung, atau hanya hanya sebanyak 6 persen  saja yang boleh menggelar  KBM secara tatap muka.

“Untuk zona merah, kuning, dan orange ini merepresentasikan pada saat ini 94 persen daripada peserta didik di pendidikan usia dini, dan menengah. 94 persen dari peserta didik kita tidak diperkenankan pembelajaran tatap muka karena masih ada resiko penyebaran Covid-19,” kata Nadiem dalam pengumuman Panduan Penyelenggaraan Belajar Mengajar di Masa Pandemi melalui video telekonferensi, Senin (15/6/2020).

Bagaimana dengan  empat Kabupaten di  Madura? Hingga saat ini, tidak ada satupun  kabupaten di Madura yang berstatus zona hijau.  Namun, meski  berada di zona merah, berbagai persiapan untuk penyelenggaraan pendidikan tahun ajaran 2020  sudah mulai direncanakan oleh seluruh pemangku kebijakan pendidikan di semua kabupaten. (bri/waw)

Diwarnai Beragam Kebijakan Teknis KBM

Terhadap pelaksanaan KBM dengan tetap menjalankan protokol kesehatan penanggulangan Covid-19 tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan saat ini sedang menyusun panduan yang diserahkan kepada pihak sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan Akhmad Zainimengatakan, panduan tersebut perlu disusun untuk perencanaan kegiatan belajar mengajar(KBM) secara tatap muka secara terbatas. Selain itu, Disdik Pamekasan juga sedang berupaya memfasilitasi sarana dan prasana sekolah dalam melaksanaan KBM dengan protokol Covid-19.

“Kami masih penyiapan sarana dan prasarana disekolah-sekolah, mulai dari tempat cuci tangan, pengadaan barang, hand sanitizer, masker, dan penyemprotan dispektan, karena harus disiapkan semua, sarprasnya, kesiapan masyarakatnya juga,”ulas Zaini. (rul/bri)

Disdik Sampang Tunggu Lahirnya Perbup

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Sampang Nor Alam menguraikan, pihaknya saat ini masih menunggu panduan pelaksanaan KBM dari Kemendikbud. Namun untuk mempersiapkan pelaksanaan KBM di masa new normal mendatang, kata Nor Alam,akan diatur dengan rigit melalui peraturan bupati (perbup) Sampang.

Perbup tersebut, tegas Nor Alam, diantaranya akan mengatur tentang penyiapan fasilitas sekolah dalam pelaksanaan KBM dengan protokol Covid-19 yang  sumber pendanaannya bisa digunakan dari bantuan operasional sekolah (BOS).

“Semuanya akan diatur di perbup, termasuk juga apa yang harus dilakukan siswa dikelas, sebelum masuk, saat pulang, juga bagaimana tugas guru dan penjagaan disekolah, semuanya diatur dalam perbup itu. Kami masih menunggu panduan dari Kemendikbud untuk memastikannya,” ungkapnya, Senin (15/6/2020).

Sementara untuk pengawasan terhadap kinerja guru-guru di lingkungan Disdik Sampang, pihaknya akan terus memantau secara virtual, termasuk juga dengan materi sekolah. (mal/bri)

Matangkan Rencana Bersama DPKS

Pelaksanaan KBM di Sumenep di masa new normal sudah mulai disosialisasikan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep.

Kepala Disdik Sumenep, Ir. Carto mengakuibahwa pihaknya sudah menyampaikan  secara detail tentang protokol kesehatan terhadap pelaksanaan KBM  di tahun ajaran 2020 ini.

Diantara bahan sosialisasinya itu, adalah protokol kesehatan umum sekolah, protokol kesehatan sarana dan prasarana sekolah serta protokol kesehatan berangkat dari rumah menuju sekolah.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pemberlakuan protokol kesehatan selama siswa di sekolah.Protokol kesehatan untuk guru dan tenaga pendidikan maupun protokol kesehatan pulang dari sekolah ke rumah.

“Jadi penerapan protokol kesehatan itu dilaksanakan saat hendak ke sekolah, saat berada di sekolah hingga nanti pulang sekolah. Jadi semua ada ketentuan yang harus dipatuhi,” ujar Carto.

Selain Disdik Sumenep, Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep juga ikut ambil bagian dalam upaya merancang pelaksanaan pendidikan, utamanya KBM selama masa wabah Covid-19.

DPKS yang tercatat sebagai dewan pendidikan paling aktif di Madura itu, Senin (15/6) menggelar focus grup discusion (FGD)untuk melahirkan modul pengajaran selama masa new normal.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) Syaiful A’la mengatakan, pembelajaran di masa Covid-19 dengan new normal saat ini, perlu adanya keterlibatan guru, wali kelas, wali siswa dan keluarga besar di lingkungan sosial siswa.

Hal itulah yang saat ini sedang dibahas untuk bisa dijadikan modul. Namun hasil diskusi bersama semua stakeholder itu sudah dihimpun. Tetapi belum dapat dipublikasikan dengan alasan belum final.

“Nantinya ada modul khusus mengenai penerapan new normal tersebut . Tetapi, saat ini saat ini belum selesai,” ungkapnya.(imd/bri)

Cabdin Disdik Jatim Bangkalan Tidak Ingin Bertaruh

Rencana KBM dengan new normal di tingkat  SMA/SMA, disikapi hati-hati oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Bangkalan melalui Kasi SMA dan Pendidikan Khusus  Pendidikan Layanan Khusus (KPLK) Cabang Dinas Cabang Bangkalan Moh Fausi.

Fausi mengaku tidak bisa serta merta memerintahkan sekolah dibawah koordinasinya di Bangkalan untuk melaksanakan sistem pendidikan tatap muka dengan protokol kesehatan Covid-19. Utamanya dalam membagi rombongan belajar dengan menetapkan 50 persen sebagaimana  surat edaran sebelumnya.

“Karena tidak mungkin di satu sekolah masuk bareng, sebab dalam teknisnya dalam 1 kelas yang berjumlah 36 siswa maka sekolah tersebut akan menjadi sebauh masalah, sesuai dengan aturan protokol kesehatan normalnya antara 16 siswa sampai 20 siswa,” jelas Fausi.

Namun, mengingat kondisi penyebaran Covid-19 di Bangkalan yang masih tinggi dengan tingkat penyebaran hampir merata di seluruh Bangkalan, Fauzi mengungkapkan, ada kemungkinan akan terus dilaksanakan KBM secara daring hingga akhir tahun 2020. (sae/bri)

Kebijakan Teknis KBM Masih Saling Tunggu

Sejak pertama kali diumumkan darurat wabah Covid-19 di Jawa Timur pada 18 Maret lalu, sistem pengajaran di beberapa lembaga pendidikan semua tingkatan dilaksanakan secara  jarak jauh.

Meski sebagian ada yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka, utamanya untuk pelaksanaan ujian akhir tahun, namun persiapan saat ini sudah mengarah pada pelaksanaan tahun ajaran baru.

Secara kalender pendidikan, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim sudah menegaskan bahwa tahun ajaran baru akan dimulai 13 Juli mendatang.

Namun, dalam rencana pelaksanaan KBM di tahun ajaran baru hingga saling mencari format terbaik. Utamanya, dalam upaya KBM tetap berlangsung dan pelaku pendidikan, baik siswa maupun guru dan karyawan sekolah  aman dari ancaman Covid-19.

“Secara formalnya, kami belum mendapatkan secara tertulis dari Dinas Pendikan Jatim. Tetapi new normal ini harus dilakukan tahapan,” ungkap Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Jatim Pamekasan Slamet Goestiantoko melalui Kepala Sub Bagian TU Agus Mulyono (15/6/2020).

Sosialisasi untuk pelaksanaan KBM dengan New Normal adalah tetap menjalankan protokol kesehatan Covid-19.Sementara untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA/SMK di Sampang, sebagaimana disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sampang, Assyari, akan digelar secara daring.

“Mereka daftar sendiri dirumahnya, tetapi bagi anak yang kesulitan itu didampingi oleh guru,” imbuhnya.

Namun,jika nantinya terdapat kebijakan baru yang mengaharuskan KBM secara tatap muka dengan ketentuan khusus, Assyari menyampaikan bahwa bahwa kepala sekolah negeri atau swasta harus bersedia terkait kebijakan dari kementerian.

“Tahun ajaran baru itu bukan berarti masuk sekolah, tetapi pembelajarannya yang dimulai. Skenario pembelajaran sistem daring itu banyak macam, jadi itu bukan sesuatu yang asing,” ulas Assyari.

Meski pelaksanaan pendidikan KBM dengan tatap muka masih belum sepenuhnya dijadikan keputusan, Cabdin Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Bangkalan, sebagaimana disampaikan Kasi SMA dan Pendidikan Khusus  Pendidikan Layanan Khusus (KPLK) Moh Fausi, secara prinsip pihak sekolah sudah mulai mempersiapkan dari sisi sarana dan prasana.

“Saya rasa, setiap sekolah sudah mulai menyiapkan sarana dan prasarana untuk melaksanakan KBM dengan protokol Covid19. Di depan kelas akan disediakan tempat untuk cuci tangan, serta setiap sekolah akan diperiksa kesehatan tubuhnya,” ulas Fausi sambil menguraikan jika nantinya oeserta didik akan diminta surat keterangan sehat dari wali murid.

Sedangkan Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep Syamsul Arifin mengatakan, saat ini sudah ada tiga skenario mengenai penerapan new normal.

Pertama, jika Covid-19 berkahir Juli maka tahun ajaran baru dimulai 13 Juli. Kedua, Jika Covid-19 berakhir September, maka tahun ajaran baru tetapa 13 Juli. Tetapi, siswa dan siswi selama 3 bulan, yakni Juli, Agustus, September, belajar dirumah.

Ketiga, jika Covid-19 berakhir November atau Desember maka tahun ajaran baru tetap 13 Juli. Tetapi, siswa dan siswi tetap belajar dirumah.

“Kami sudah siap New Normal. Sebab, semuanya sudah diatur dalam rangka pencegahan Covid-19,” katanya, Senin (15/6/2020).

Namun sekolah wajib menyediakan hand sanitizer, mulai dari pintu masuk kelas dan tempat tertentu. Teknisnya diserahkan pada semua kepala sekolah.

“Siswa wajib memakai masker. Bagi yang tidak mampu maka sekolah wajib menyediakan masker dari dana BOS atau dari BPOPP,” ujar dia. (sae/mal/rul/imd/bri/waw)

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed