oleh

Tidak Hanya Krisis Guru, Disdik Sampang Juga Alami Kekosongan 107 Kepsek

Kabarmadura.id/Sampang-Krisis tenaga pendidik di Kabupaten Sampang, cukup memprihatinkan. Selain mengalami kekosongan pada 107 posisi kepala sekolah (kepsek), Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang juga alami krisis guru di 660 lembaga sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan status negeri.

Plt Kepala Disdik Sampang Nur Alam mengakui, upaya pengisian kekosongan kepsek terkendala dengan banyak persyaratan. Alhasil, ratusan lembaga masih dibiarkan dijabat pelaksana tugas (plt) tanpa kepsek definitif.

“Ada sekitar 107 yang alami kekosongan kepsek, rinciannya di SDN sebanyak 105 kepsek dan SMP 2,” ungkapnya, Rabu (5/2/2020).

Dirinya menjelaskan, sertifikasi pendidikan dan pelatihan (diklat) kepsek, menjadi salah satu syarat yang menghambat pengangkatan kepsek definitif dilakukan. Sebab, mayoritas tenaga pendidik di wilayahnya belum mengantongi persyaratan tersebut.

Diungkapkannya, ada dua jenis tes yang harus dilalui dalam diklat calon kepsek itu. Pertama, uji subtansi, dengan persyaratan minimal harus sudah lulus strata satu, pangkat golongan harus III C. Kemudian yang kedua uji kompetensi pribadi, yakni di wawancara langsung dan dinilai oleh tim dari LPPKS Solo.

Dirinya melanjutkan, pada tahun 2019 lalu, pihaknya sudah mengadakan uji substansi terhadap calon kepsek yang sudah memenuhi persyaratan, mulai jenjang taman kanak-kanak (TK), SD dan SMP, dengan jumlah peserta 54 orang, akan tetapi yang lulus hanya sekitar 72 persen atau sebanyak 39 orang.

Lanjut Nur Alam, kekurangan kepsek belum bisa teratasi, lantaran dari jumlah kekurangan kepsek, peserta yang mengikuti diklat calon kepsek hanya sekitar 73 orang. Sementara kebutuhannya mencapai 107 orang.

“Meskipun nanti yang sudah lulus diklat dan memiliki sertifikat ini diangkat menjadi kepsek dan disebar luas ke sejumlah lembaga, kami masih kurang sekitar 31 lembaga yang tanpa kepsek definitif,” ujarnya.

Tidak hanya mengalami krisis pada posisi kepsek, Disdik Sampang juga kelimpungan untuk mengatasi krisis guru di 660 lembaga yang dinaungi. Jumlah guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di 660 SD dan SMP di wilayah itu, diakui tidak ideal.

Kepala Seksi (Kasi) Promosi dan Mutasi Disdik Sampang Badrut Tamam mengatakan, total jumlah guru ASN di wilayahnya hanya 2.880 orang, dengan rincian 2.256 guru SD dan 624 guru SMP.

Jumlah itu diakui tidak ideal jika dibandingkan dengan jumlah lembaga. Diungkapkannya, saat ini setiap sekolah rata-rata diisi 3-5 guru ASN, padahal menurutnya, idealnya jumlah guru ASN di masing-masing sekolah sebanyak 9 guru ASN. Hal itu diakui tidak  jumlah ideal rombongan belajar (rombel).

Lanjut Badrut, untuk menutupi celah krisis guru yang dialami, pihaknya terpaksa memberdayakan tenaga honorer di seluruh lembaga yang dinaungi.

“Idealnya di sekolahan itu ada 9 ASN. 6 untuk guru kelas, dan 2 untuk guru mata pelajaran (mapel), satunya lagi untuk posisi kepala sekolah. Jadi idealnya memang harus 9 ASN,” pungkasnya. (sub/mal/pin)

 

Komentar

News Feed