oleh

Tidak Menjadi Diagnostik, Rapid Test Dianggap Menyesatkan

KABARMADURA.ID, Pamekasan –Pentingnya rapid test yang dilakukan oleh sejumlah instansi dalam upaya penanganan wabah Covid-19 di Kabupaten Pamekasan, dipersoalkan oleh ahli medis. Bahkan ada pihak yang mengatakan bahwa rapid test sia-sia dan informasinya menyesatkan.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Satgas Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo (RSUD SMart) Pamekasan dr. Syaiful Hidayat. Menurutnya, rapid test saat ini sudah tidak lagi menjadi indikator diagnostic Covid-19.

“Sebenarnya kan sudah dilarang oleh departemen kesehatan bukan sebagai alat diagnostic,” ungkapnya, Minggu (18/10/2020).

Bahkan menurutnya, informasi yang dihasilkan dari rapid test hanya menyesatkan masyarakat. Sebab setiap yang reaktif dalam pemeriksaan rapid test, belum tentu terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Sebaliknya, yang hasil rapid test non reaktif belum tentu bersih dari Covid-19.

Karena itu menurutnya indikator diagnostic dalam hal ini yaitu pemeriksaan swab bukan rapid test. Pria yang akrab dipanggil dokter Yayak ini menyebutkan, kegiatan rapid test yang dilakukan sejumlah instansi hanya menghabiskan sisa anggaran dan sisa stok alat rapid yang masih ada.

“Dia tidak membaca virus tetapi membaca antibody. Kalau kita kemasukan virus timbul antibodi dari tubuh,” terangnya.

Sementara itu, di lain pihak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan dr. Nanang Suyanto menjelaskan, rapid test tetap penting dalam upaya pelacakan.

Kendati begitu, dia tidak memungkiri bahwa hasil rapid test tidak seakurat hasil pemeriksaan swab dalam diagnostic Covid-19. Namun rapid test masih diperlukan dalam upaya pelacakan. Sebab, setiap yang reaktif dalam rapid berkemunkinan terinfeksi virus meski bukan covid-19.

“Maka untuk mengantisipasinya kami lakukan rapid test,” ujarnya.

Sehingga bagi yang reaktif serta memiliki gejala Covid-19, maka akan langsung diarahkan untuk melakukan pemeriksaans swab. Dan bagi yang reaktif namun tidak memiliki gejala, maka akan diarahkan untuk menjalani isolasi mandiri selama 14 hari.

Sebagai langkah preventif, pihaknya melakukan rapid test sebelum kemudian melakukan pemeriksaan swab. Menurutnya, tindakannya telah sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan kementerian kesehatan.

“Kami kan tidak tahu, kalau dia reaktif itu virus apa. Kalau itu wabah Covid-19 kan itu bisa menularkan ke orang lain,” ucapnya.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Khairul Anam menjelaskan, perbedaan pandangan mengenai pentingnya rapid test tersebut perlu dipertemukan dan disamakan agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat serta utuh.

Pihaknya berencana akan melakukan konfrontasi dengan sejumlah pihak demi menjamin informasi yang sampai ke publik mengenai rapid test. Tujuannya, agar tidak terjadi simpang siur dan informasi yang diberikan pada publik akurat.

“Kami akan panggil keduanya untuk menyamakan persepsi agar masyarakat tidak bingung,” tukasnya. (ali/pin)

 

 

Komentar

News Feed