Tidak Percaya Data IPM dari BPS, Disdik Bangkalan Klaim Rata-Rata Lama Sekolah Tinggi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MENJELASKAN: Kepala Dinas Pendidikan (Disdik Bangkalan) saat menyampaikan aspirasi di halaman SMPN 2 Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan menyebutkan bahwa data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) tidak tepat. Korelasi antara angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) tidak sesuai. Disdik mengklaim angka rata-rata pendidikan di Bangkalan sudah tinggi, bahkan lebih tinggi dari target yang ditetapkan Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas Pendidikan Bangkalan Bambang Budi Mustika menyampaikan bahwa data mengenai data rendahnya IPM Bangkalan kurang tepat. Apalagi menurutnya, jika salah satu indikasinya adalah pendidikan.

Bacaan Lainnya

“Saya rasa tingkat pendidikan kita terus menerus membaik,” katanya.

Ia berpendapat, minat dan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan mulai meningkat. “Kami juga memotivasi mereka, dan nyatanya banyak yang berhasil,” ulasnya.

Bambang menilai, data antara RLS yang hanya 5,95 tahun dan HLS 11,6 tahun tidak berhubungan. Sebab, menurutnya, jika HLS tinggi,  RLS pasti tinggi. “Ini kan gak nyambung, harapannya sampai SMP, lalu hanya sekolah sampai SD,” terangnya.

Selain itu, Bambang juga menyebutkan bahwa tingkat HLS dan RLS di Bangkalan melebihi angka tersebut. Bahkan juga melewati target yang sudah ditetapkan Jawa Timur. Tetapi dirinya enggan menyampaikannya lebih jelas. “Yang jelas, kami sudah melebihi target rata-rata lama pendidikan di Provinsi,” ulasnya.

Di sisi lain, Kasi Neraca Wilayah dan Analisis Data Statistik BPS Bangkalan Yenny Arisanti menyampaikan, perolehan data itu berdasarkan survei langsung petugas BPS pusat. Sehingga data benar-benar bisa dipertanggung jawabkan. “Kami tidak asal mencantumkan nilai, karena data ini juga sudah dikaji sebelumnya,” paparnya.

Ia menegaskan, seharusnya pemerintah daerah mengetahui alasan kesenjangan antara HLS dan RLS cukup tinggi. “Mereka yang hanya bisa berharap kebanyakan tidak bisa merealisasikannya, karena berbagai halangan,” tuturnya.

Ia juga memaparkan, banyak siswa yang berharap bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA, bahkan sarjana. Namun, karena keterbatasan ekonomi, keinginan tersebut sulit dicapai. Sehingga para orangtua memilih untuk meminta anak-anaknya bekerja atau menikah.

“Kalau memang tinggi dan meningkat, tentu tidak mungkin ada di peringkat 37,” pungkasnya. (hel/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *