oleh

Tidak Semua Pemulasaran Pasien Covid-19 Meninggal Gunakan Protkes

KABARMADURA.ID – Secara akumulatif, Satuan Tugas penanganan Covid-19 Jawa Timur mengkonfirmasi jumlah warga Madura yang meninggal terpapar Covid-19 sebanyak 154 orang dengan sebaran terbanyak, Bangkalan mencapai 68 orang, disusul Sumenep (36), Pamekasan (32) dan Sampang (18).

Namun, tidak seluruh warga meninggal dengan status terpapar Covid-19 pemulasaran jenazah dilaksanakan dengan protokol Covid-19.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan dr. Syaiful Hidayat mengungkapkan, sejak awal menyebarnya Covid-19 hingga saat ini terdapat 28 orang meninggal dunia akibat Covid-19 di RSUD Smart.

Namun hanya 13 jenazah yang pemulasarannya dilakukan menggunakan protkes Covid-19. Penyebabnya, ulas Syaiful, karena keluarga korban menolak jika jenazah dirawat dengan protkes Covid-19 yang dilatarbelakangi tidak percaya terhadap Covid-19.

Sejatinya, pemerintah sudah menyediakan perlengkapan untuk pemulasaran jenazah dengan protkes Covid-19.  Termasuk, diantaranya adalah menyediakan peti mati sebagai salah satu prosedur penanganan jenazah terinfeksi Covid-19.

“Meski banyak yang meninggal karena Covid, tidak semuanya menggunakan peti mati. Dan untuk peti,sebenarnya langsung disediakan oleh rumah sakit, jadi kami ini hanya memfasilitasi saja dan menerima klaim,” ucap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Anang Djoenaidi melalui Bendaharanya, Iis Happy.

Jumlah warga Sampang yang  pemulasaran  jenazahnya  dilaksanakan dengan  protkes Covid-19 mencapai 51 orang. Namun, jumlah terbesar korban yang ditangani dengan protkes Covid-19 ditangani oleh rumah sakit di luar Sampang.

Palang Merah Indonesia (PMI) Sampang menguraikan bahw aenazah terpapar Covid-19 sudah mencapai 51 orang. Tercatat dari Mei 2020 ada 21 jenazah, Juni 17 jenazah, Juli 2 jenazah, Agustus 4 Jenazah, September 3, Oktober 3 dan November 1 Jenazah. Adapun untuk bulan April masih belum ada laporan, baik dari PMI dan rumah sakit. (tim)

Sumenep           

Meningggal                                        36

Pemulasaran Protkes Covid 19   16  orang

Pamekasan        

Meningggal                                        32 orang

Pemulasaran Protkes Covid 19   13  orang

Sampang            

Meningggal                                        18

Pemulasaran Protkes Covid 19   17  orang

Bangkalan          

Meningggal                                        68

(Sumber: Satgas Covid-19 Jawa Timur per 10 November)

 

 Dinkes dan Rumah Sakit Bangkalan Saling Lempar Tanpa Buka Data

Berdasar data Satgas Covid-19 Jawa Timur, terdapat sebanyak 68 korban meninggal dengan status terinfeksi Covid-19. Namun, baik Dinas Kesehatan Bangkalan dan RSUD Syamrabu Bangkalan, sama-sama enggan menyampaikan data jumlah korban yang pemulasaran jenazah dilakukan dengan protokol Covid-19.

Dirut RSUD Syamrabu Bangkalan, Nunuk Kristiani mengungkapkan bahwa akumulasi pasien meninggal yang pemulasaran jenazah menggunakan protkes Covid-19 sudah diserahkan ke pihak Dinkes Bangkalan.

Sayangnya, Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Bangkalan Siska menguraikan  bahwa data jumlah korban meninggal yang  pemulasaran jenazah  dilakukan dengan Protkes Covid-19, berada pada RSUD Syamrabu. Sebab, pihak Dinkes hanya melakukan pendampingan saja.

Dalam penanganan Covid-19, RSUD Syamrabu mendapat alokasi anggaran dari bantuan tidak terduga (BTT) sebesar Rp19 miliar. Anggaran tersebut dibagi untuk penanganan, perawatan, keperluan alat kesehatan Covid-19 dan pemulasaran jenazah pasien Covid-19.

Namun, total untuk pemulasaran jenazah selama ini pihaknya mengaku belum melakukan perincian.

Untuk pemakaman jenazah pasien Covid-19, wajib menggunakan protkes dan menggunakan peti mati. Sejauh ini, kata dia, tidak ada lokasi atau wilayah khusus untuk pemakaman jenazah pasien covid-19.

“Kami tidak menerapkan harus dimakamkan di lokasi tertentu. Boleh saja dimakamkan di area rumah atau pemakaman umum,” ungkapnya.

Diperbolehkannya jenazah pasien Covid-19 di pemakaman umum, kata Siska, asal harus memenuhi syarat tertentu yang telah ditetapkan pihak Dinkes. Salah satunya yakni jauh dari sumber air dan pemukiman warga.

“Dari awal kasus pasien Covid-19 yang pemakaman menggunakan protkes, kami tidak memilah, hanya berdasarkan status pasien,” terangnya.

Dia menjelaskan, jika pasien memiliki portable atau hasil lab menunjukkan ada infeksi Covid-19 kemudian meninggal dengan status hasil swab belum keluar, wajib menggunakan protkes.

“Kalau masih suspek tidak perlu menggunakan protkes,” tandasnya.

Diketahui, serapan anggaran untuk pemakaman jenazah pasien Covid-19 pada 31 Agustus 2020 lalu, sudah terserap Rp600 juta. Sedangkan untuk pemulasaran jenazah sendiri, pihak rumah sakit sendiri sebelumnya, mengaku akan disamakan dengan SE Kemenkes.

Direktur RSUD Syamrabu Nunuk Kristiani menyampaikan, sebab selama ini anggaran pemulasaran jenazah langsung diakumulasikan dengan biaya perawatan pasien selama di rumah sakit. Berapa biaya per pasien, Nunuk menyampaikan, berbeda-beda tergantung kondisi dan lamanya pasien dirawat.

“Jadi kami penghitungannya bukan per-jenazah ya, tapi kami hitung mulai dari pasien masuk hingga dinyatakan meninggal,” tuturnya, Selasa (10/11/2020).

Totalnya, dia memprediksi ada sekitar 93 pasien Covid-19 yang meninggal dengan pemulasaraan jenazah menggunakan protokol kesehatan (protkes) Covid-19. Sedangkan proses pemakamannya sendiri menggunakan peti mati. Pihaknya kini juga menyediakan 11 peti mati.

“Semuanya kami lakukan dengan protkes termasuk pemakaman menggunakan peti mati,” tuturnya.

Lanjutnya, untuk anggaran BTT sudah terserap 80 persen dari Rp19 miliar. Memasuki bulan-bulan terkahir tahun 2020, dia menjamin, anggaran yang tersedia mencukupi sampai akhir tahun.

“Saya rasa cukup sampai akhir tahun, baik untuk penanganan hingga pemulasaran jenazah Covid-19,” terangnya.

Sementara itu, biaya pemulasaran jenazah pasien covid-19 yang diakumulasikan dengan biaya perawatan pasien. Nunuk memastikan tidak ada perbedaan biaya antara jenazah pasien yang berdomisili di kota dan di pelosok.

“Yang jelas, kami tidak membebankan biaya apapun kepada pasien Covid-19,” tegasnya.(ina/bri)

 

Komentar

News Feed