oleh

Tiga Meja Kematian Keluarga Kerajaan Sumenep

Jadi Penanda Tidak Ada Keranda Seperti Zaman Kini

PENINGGALAN: Tiga meja yang berfungsi sebagai tempat pembaringan jenazah di masa keraton Sumenep pada masa pemerintahan Bindara Saod.

Kabarmadura.idTidak ada yang tahu kapan kematian itu datang. Namun yang pasti, di setiap agama mempunyai upacara kematiannya masing-masing, mulai dari yang sederhana sampai yang menghabiskan biaya jutaan rupiah. Prosesi pembumian jenazah yang khas juga terjadi di Keraton Songennep (sekarang Sumenep) dahulu kala.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Pusat Kadipaten Sumenep dahulu kala berpindah-pindah dari masa ke masa. Mulai dari daerah Kecamatan Batuputih pada pemimpinan Arya Wiraraja sampai di daerah Pajagalan semenjak kepemimpinan Bindara Saod atau Muhammad Saod.

Saat berkunjung ke Musium Keraton Sumenep di gedung dua musium tersebut, terdapat tiga meja yang tengahnya terbuat dari anyaman rotan. Di samping tiga meja tersebut, terdapat tiga gentong air.

Fungsi tiga meja tersebut adalah sebagai tempat pembaringan jasad keluarga kerajaan dan gentong itu sebagai tempat air. Benda-benda bersejarah tersebut merupakan peninggalan pemerintahan Bindara Saod.

Tiga meja (Madura:Lencak) tersebut mempunyai fungsi masing-masing. Meja pertama khusus bagi jenasah yang masih belum disucikan, meja kedua khusus saat menyucikan jenazah, dan meja yang terakhir khusus untuk jenasah yang sudah disucikan atau sudah dikafani. Sedangkan tiga gentong di sampingnya itu sebagai tempat air saat memandikan.

Ada tiga gentong air, untuk air yang tidak suci sampai air yang suci. Gentong tersebut terbuat dari porselen, tanah liat. Sebagian pembaringan itu dilengkapi dengan gading gajah.

“Kalau rotannya yang asli yang di tengah, kalau yang satu dan tiga sudah diperbaharui, kalau lainnya asli semua,” jelas petugas Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Slamet Riadi kepada Kabar Madura saat ditemui di musium, Kamis (7/2).

Merujuk kepada kebudayaan prosesi penguburan saat ini di Sumenep, terdapat keranda mayat untuk membawa jenazah ke kuburan. Dengan keberadaan tiga meja tersebut, terdapat tanda tanya, di mana keberadaan keranda itu pada masa kerajaan, mengapa hanya terdapat mejanya?

Ketua Musium Keraton Sumenep Muhammad Erfan mengungkapkan, pada masa itu tidak ada keranda mayat sebagaimana yang ada saat ini, karena waktu itu, apabila ada seseorang meninggal, cukup digotong dengan bambu secara terbuka.

“Dulu tidak pakai keranda, di mana dulu ada keranda. Dulu itu ya diikat, kalau seperti ceritanya Jokotole, dipikul pakai bambu saja. Terbuka, seperti orang-orang mati di Mekah itu. Keranda itu mah sekarang. Dulu zaman saya saja pakai kayu, sekarang pakai alumunium,” jelas kepala musium itu dengan tegas. (waw)

Komentar

News Feed