Tiga Tahun Sibuk Kembangkan Bangunan Kosong Tanpa Aktivitas

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) LAMBAT: Sudah habis Rp21 miliar, gedung kawasan industri kecil menengah (IKM) di akses Suramadu tidak kunjung selesai dan dimanfaatkan.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Sejak tiga tahun lalu, gedung sentra industri kecil menengah (IKM) yang berdiri di sekitar akses Suramadu, belum juga ada kegiatan yang produktif. Fisik gedung tersebut terus dikembangkan, namun tidak ada aktivitas di dalamnya. 

Sejauh ini, anggaran yang sudah terkuras untuk pembangunan gedung itu sudah lebih dari Rp21 miliar. Bahkan, tahun ini kembali disediakan anggaran, namun bukan untuk kegiatannya, melainkan untuk gedungnya lagi.

Ketua Komisi B DPRD Bangkalan Moh. Rokib, meminta pemerintah segera bergerak memanfaatkan berbagai fasilitas yang sudah dibangun untuk kepentingan wisata dan ekonomi tersebut. Rokib mendorong, ada kegiatan produktif sembari menyelesaikan pengembangan bangunan dan sarana.

“Ini kan sudah lama dibuat dan disiapkan lahannya, sudah ada bangunan juga, lalu masih menunggu apa,” katanya.

Menurut Rokib, jika bisa sambil lalu beroperasi, maka perekonomian para pengusaha akan mulai merambah naik. “Sambil lalu dimulai prosesnya, sambil lalu dikembangkan, ini kan juga bisa,” ujarnya.

Anehnya, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dispernaker) Bangkalan kembali menganggarkan dana untuk pengembangan sarana gedung itu. Tahun ini, ada anggaran sebesar Rp2,3 miliar yang dibelanjakan untuk pengadaan alat kantor dan bahan batik. Anggaran tersebut bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) APBD Bangkalan 2021. 

Sesuai rencana awal, gedung tersebut akan digunakan untuk sentra IKM batik. Di sentra itu, diproyeksikan ada produksi batik Bangkalan sekaligus pemasarannya. Sampai saat ini, gedung di kawasan akses Suramadu itu hanya berdiri tanpa aktivitas.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dispernaker Bangkalan Agus Eka Leandy mengaku, anggaran Rp2,3 miliar itu dibagi menjadi dua, senilai Rp700 juta untuk pengadaan alat  kantor dan Rp1,6 miliar untuk peralatan produksi batik.

“Anggaran itu diperuntukan sebagai alat pelengkap untuk bangunan IKM,” Jelasnya.

Agus beralasan, bangunan untuk IKM sentra batik itu masih membutuhkan beberapa alat sebagai penunjang kelengkapan sebagai gedung produksi.

“Anggaran itu nantinya diperuntukan untuk melengkapi peralatan seperti meja, gambar batik, mesin printing dan mesin jahit. Selain itu, juga digunakan sebagai kebutuhan lain, termasuk canting batik,” ungkap Agus.

Dari beberapa alat yang dibutuhkan itu, paling mahal hanya alat printing. Namun Agus tidak memaparkan dana yang harus dikeluarkan untuk pengadaan itu.

Setelah kebutuhan sentra IKM terpenuhi, dia berjanji akan mengaktifkan kegiatan memproduksi an memasarkan batik madura. 

“Nanti disana akan ada pembinaan, baik kepada pelaku kerajinan batik dan kerajinan tangan lainnya seperti pembuat cincin,” terangnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *