Timbulkan Aroma Tidak Sedap, TPS3R Bangkalan Ditolak Warga

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BEKERJA: Sebagian warga Kelurahan Mlajah, Bangkalan menolak keberadaan TPS3R,  karena ada di sekitar pemukiman padat dan menimbulkan aroma tidak sedap

KABARMADURA.ID| BANGKALAN – Warga di Kelurahan Mlajah, Bangkalan, menolak dioperasikannya  tempat pengolahan sampah reuse, reduce dan recycle (TPS3R).

Warga di dekat perumahan Lavender itu merasa, TPS3R dibangun di sekitar pemukiman padat penduduk, sehingga menimbulkan bau saat malam tiba. Karena penolakan tersebut, pintu operasional juga dipindah dari tempat semula.

Hasanudin, salah satu warga di Kelurahan Mlajah mengaku melihat pengelolaan sampah di TPS3R tidak sama dengan yang dahulu pernah disosialisasikan. Yang diketahui warga dari petugas pengelolaan sampah tersebut, TPS3R tidak akan menimbulkan aroma tidak enak. Tapi ternyata masih menimbulkan bau saat malam hari.

Warga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan memberikan solusi lain agar TPS3R tetap beroperasi sesuai sosialisasi yang dulu pernah disampaikan.

“Kami tidak mau lingkungan kami tercemar dan bikin warga tidak nyaman, makanya kami minta solusi lain,” kata Hasan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan Anang Yulianto menyampaikan, sebelum ada pembangunan TPS3R di jalan masuk perumahan Lavender itu, sempat disetujui oleh warga setempat. Namun anehnya, setelah selesai dan beroperasi, justru ada penolakan.

“Sepertinya ada masalah pribadi dengan warga setempat. Tapi kami tetap cari solusinya, agar bisa beroperasi lagi,” kata Anang.

Dijelaskan Anang, operasional TPS3R di Mlajah tetap berlanjut. Sementara pintu keluar masuk truk sampah dipindah. Yaitu, awalnya melintas di jalan menuju perumahan Lavender, saat ini melintas di samping kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Bangkalan.

DLH Bangkalan mencatat, lebih dari seribu pemilik rumah yang sudah berlangganan ke TPS3R Mlajah. Jadi pihaknya mengaku tidak mungkin untuk menutup tempat pengolahan sampah tersebut. Alasannya, Anang khawatir layanan untuk pelanggan jadi terhenti.

“Kami cuman mengoptimalkan, agar segera mengolah sampah yang sudah ada di TPS3R. Karena jika terlalu lama dibiarkan akan mengeluarkan bau tidak sedap,” ucapnya mengenai alasan tidak akan memenuhi permintaan penutupan TPS3R.

Anang juga memastikan, bau busuk dirasakan oleh warga itu tidak setiap hari. Bahkan mungkin jarang. Sebab, sampah yang datang ke TPS3R langsung dikelola dan dipilah. Dia menduga, yang bau adalah sampah organik, jika tidak dipisah dengan sampah lainnya dalam jangka waktu lama, bisa menghasilkan bau tidak sedap.

Para pekerja juga diminta tidak lalai dan tidak terlambat memisahkan sampah baru dan residu. Sebab, residu memang setiap hari juga diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), sehingga tidak menimbulkan bau.

“Kami sudah upayakan, tapi kalau memang masih ada, mungkin memang karena ada keterlambatan pengangkutan atau pengiriman sampahnya,” pungkas Anang.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *