Tingkatkan Budaya Baca dan Entaskan Buta Aksara, Komunitas Semesta Literasi Bertekad Bangun 22 Tempat Baca

komunitas semesta literasi
(KM/ALI WAFA) PAHLAWAN: Anggota Semesta Literasi saat memberikan bimbingan belajar kepada anak SD di Desa Bulangan Barat.

KABARMADURA.ID | Hingga kini, minat baca warga Pamekasan dinilai cukup rendah. Hal itulah yang menjadi salah satu pendorong Arinal Haqil Ghifari untuk mendirikan komunitas Semesta Literasi. Komunitas yang baru berumur tiga bulan itu memiliki misi untuk meningkatkan budaya literasi di Bumi Gerbang Salam.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Semesta Literasi menargetkan membangun 22 tempat baca di seluruh wilayah di Pamekasan. Saat ini, baru berdiri satu taman baca, yaitu di Desa Bulangan Barat, Kecamatan Pegantenan. Pekan depan, Semesta Literasi berencana mendirikan tempat baca di areal Taman Arek Lancor.

Bacaan Lainnya

Mungkin komunitas yang bergerak dalam hal literasi sudah banyak. Perkumpulan yang mengkampanyekan peningkatan budaya baca, mungkin sudah banyak. Tapi Semesta Literasi berbeda dengan mereka pada umumnya. Komunitas ini tidak mengajak orang-orang untuk suka membaca. Tapi mengajak orang untuk mau berkampanye tentang pentingnya membaca.

“Kami mau melahirkan bibit SDM yang mau berjuang bersama kami. Kalau mereka sudah memiliki visi seperti kami. Mustahil kalau mereka sendiri tidak mau rajin membaca,” ucap pria 27 tahun itu, Minggu (3/4/2022).

Keunikan lainnya, komunitas yang beranggotakan 15 orang itu tidak hanya berkampanye di daerah perkotaan. Mereka sadar, masyarakat perkotaan telah memiliki kesadaran tentang literasi, meskipun tidak setinggi kota besar lainnya. Namun menurutnya, yang terpenting, ialah menumbuhkan minat baca di wilayah pedesaan, serta meningkatkan budaya bacanya.

Karena itu, Semesta Literasi masuk ke berbagai lembaga pendidikan. Menyisir anak-anak, mulai dari PAUD, TK, SD hingga mahasiswa, agar bersama-sama meningkatkan pengetahuan melalui membaca. Bahkan, pihaknya telah berencana untuk mengembangkan program lian. Misal; pengentasan buta aksara. Sebab, masyarakat desa masih banyak buta huruf.

“Membaca itu penting. Tingkat intelektual seseorang bisa diketahui, mana yang banyak membaca dan mana yang tidak,” pungkasnya.

 

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.