Toko Modern Desak Revisi Moratorium, Selama Ini Beroperasi tanpa Izin

(FOTO: KM/ALI WAFA) TANPA IZIN: Pengusaha toko modern di Pamekasan kesulitan mengurus izin karena terhalang oleh adanya moratorium.

KABARAMDURA.ID | PAMEKASAN-Moratorium penghentian sementara izin pendirian toko modern di Pamekasan masih berlaku. Selama moratorium itu belum dicabut, Pemkab Pamekasan tidak mengeluarkan izin pendirian toko modern. Kebijakan itu dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi oleh para pengusaha toko modern.

Menurut Ketua Pelaksana Teknis Manajerial Homastas Abdul Qadir, kebijakan itu justru merugikan pemkab sendiri. Sebab dengan menghentikan izin, pemkab akan kehilangan pajak dari toko modern. Sementara pihaknya mengaku telah berupaya mendapatkan izin, namun terhalang oleh moratorium tersebut.

“Kerugian yang paling nampak kepada pemkab yang jelas pajak. Pemkab tidak bisa dapat keuntungan dari pajak,” ucapnya.

Bacaan Lainnya

Homastas sendiri memiliki 12 cabang toko modern. Yang berdiri di Pamekasan 8 toko. Beberapa unit berdiri sebelum adanya moratorium, beberapa yang lain setelah adanya moratorium. Namun 8 toko itu sampai ini tidak mengantongi izin. Toko Homastas selama ini berpayung pada izin koperasi. Sebab Homastas merupakan unit usaha dari koperasi guru.

“Dalam aspek legal formalnya dari awal berdiri berbadan koperasi. Sehingga dengan berdirinya koperasi, kami terbantu. Perizinan koperasi itu kan berbeda,” terang Abdul Qadir.

Sama dengan Homastas, Toko Bagus juga berlindung di bawah naungan koperasi, yaitu Koperasi Konsumen Bagus. Menurut Pengawas Koperasi Konsumen Bagus Musleh, moratorium itu perlu direvisi. Sebab tidak semua toko modern milik asing atau milik investor perseorangan. Beberapa toko modern yang ada merupakan milik masyarakat Pamekasan.

“Toko Bagus itu permodalannya tidak didominasi oleh perorangan. Modalnya dikumpulkan dari anggota koperasi yang notabene adalah masyarakat kecil. Artinya, adanya Toko Bagus diharapkan membantu perekonomian masyarakat sekitar,” jelas Musleh.

Pihaknya tidak setuju jika toko modern dianggap penyebab matinya toko kelontong. Bahkan jika pemkab mengharuskan toko modern mengisi 25 persen produk usaha kecil menengah (UKM), pihaknya justru mengaku siap mengisi 100 persen produk UKM. Hanya saja, mutu produk UKM harus terjamin dan merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Toko Bagus sendiri telah berdiri 14 unit tersebar di sejumlah daerah, 9 unit di antaranya berada di Pamekasan. Namun hanya di Pamekasan pihaknya kesulitan memiliki izin. Di kabupaten lain mengurus izin pendirian toko modern tidak sulit, karena tidak ada moratorium penghentian izin toko modern. 

“Ini sebenarnya membantu perekonomian Pamekasan. Intinya, kami bukan menolak moratorium, tapi meminta untuk direvisi. Karena tidak semuanya sama,” ujar Musleh.

Pemilik toko CC-Mart Subaidi juga mendesak agar pemkab mencabut moratorium. Penyebab matinya toko kelontong menurutnya bukan toko modern, tetapi lemahnya sumber daya manusia (SDM). Sementara menurutnya, pemerintah daerah yang mempersulit izin usaha, bisa dikenakan sanksi. Dia sendiri mengaku telah berupaya mendapatkan izin, namun tidak bisa.

“Seharusnya pemerintah berpikir, kalau ingin menguasai ekonomi Madura oleh orang Madura, maka kita harus meningkatkan kualitas berbelanja,” tegasnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan (DPMPTSP Naker) Supriyanto menjelaskan, moratorium penghentian sementara izin toko modern itu dibuat sejak pemerintahan sebelumnya. Pertimbangannya saat itu, satu toko modern yang berdiri dapat mematikan beberapa toko kecil.

Selama moratorium itu belum dicabut, pihaknya tidak bisa memberikan izin terhadap toko modern. Supri menjelaskan, izin koperasi dengan izin toko modern berbeda. Kendati menjadi unit usaha koperasi yang berbadan hukum, toko modern harus tetap memiliki izin operasional sebagai toko.

“Toko dengan koperasi itu kan beda. Usahanya koperasi itu adalah toko. Toko harus punya izin sendiri. Koperasi punya izin sendiri,” jelas Supri.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.