oleh

Toko Tradisional di Sumenep Mulai Tidak Diminati

KABARMADURA.ID, Sumenep – Toko modern, seperti Alfamart dan Indomaret kian menjamur. Tidak hanya di wilayah perkotaan. Tetapi, di kecamatan mulai merebak. Akibatnya, pertokoan kecil milik warga daerah mengalami dampaknya.

Indikasinya, masyarakat enggan membeli di pertokoan kecil, dengan alasan barang kurang lengkap dan tidak teratur. Hal ini diungkapkan, Kepala Bidang (Kabid) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumenep Kukuh Agus Susyanto, Minggu (25/10/2020).

Menurutnya, terdapat 31 toko modern yang sudah berkembang. Banyaknya pasar modern, cukup menjadi saingan berat bagi pertokoan kecil dengan alasan kotor dan lainnya. Selain itu, adanya pasar modern mampu menggugah masyarakat untuk membeli.

“Semua toko modern berizin. Dengan demikian terkadang dapat menghambat daya tarik masyarakat. Masyarakat rata-rata berbelanja di toko modern,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pasar tradisional diminati hanya ketika masyarakat membeli alat-alat dapur. Sedangkan di toko modern penuh dengan beberapa berbagai bahan yang dibeli termasuk baju dan lainnya. “Jarak bangunan toko modern satu dan lainnya juga berdekatan,” papanya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengatakan, meski pasar modern begitu diminati oleh masyarakat, PR di  dinas terkait harus teliti dalam mengurus izinnya. Sebab, terkadang masih ada beberapa pasar modern yang belum lengkap izinnya, sudah beroperasi.

Menurutnya, keberadaan pasar modern harus dikurangi. Pihaknya mengaku prihatian terhadap pasar tradisional mulai tersaingi. Pihak penegak perda atau Satpol PP juga harus memberikan tindakan pada toko modern yang tidak kantongi izin. “Pemkab juga harus segera bergegas,” sarannya

Salah satu pembeli baju, Miftahul Arifin asal Lenteng mengatakan, lebih pas berbelanja di toko modern. Selain banyak pilihan  tempat di toko modern menyejukkan. “Toko modern lebih meyakinkan terhadap pembeli. Termasuk pembayaranya jelas ada notanya,” tukas dia.

Menurutnya, toko modern juga dapat mengakses segala kebutuhan. Disamping itu, tidak mematok harga yang begitu mahal. Biasanya, kalau di Toko Modern harganya sudah ditentukan. “Jika di pasar tradisional dapat dipatok harga yang mahal. Bahkan, masih saling tawar menawar,” tukasnya.

Dia menuturkan pasar tradisional merupakan pasar dengan bentuk bangunan sederhana, suasana yang relatif, kurang menyenangkan. Para pedagangnya sebagian besar adalah golongan ekonomi lemah dan cara berdagangnya kurang profesional.

‘Kemudian tempat tersebut sangat berbeda secara signifikan, baik dari sisi profesionalisme pengelolaan maupun dari sisi ekonomi, saya senag berbelanja di toko modern,” tukas dia. (imd/ito)

Komentar

News Feed