Toron: Tradisi Mudik ala Madura

Opini111 views

Oleh: Muhammad Tauhed Supratman*)

Menjelang Idul Fitri, kata “toron” sering bermunculan di ruang publik. Dalam sebuah diskusi di group whatsApp Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Madura-pun tidak ketinggalan berdiskusi tentang kata tersebut. Kata ‘toron’ dalam Kamus Lengkap Bahasa Madura Indonesia yang ditulis oleh Adrian Pawitra (2009: 724) bermakna “bergerak dari atas ke bawah”.

Dalam perkembangan penggunaan bahasa, kata ‘toron’ bukan berarti seperti di kamus, tetapi sudah bermakna kias yakni “kembali pulang”. Penggunaan kata “toron” yang bermakna “kembali pulang”, sepengetahuan penulis, penggunaan kata tersebut diviralkan pertama di daerah Bangkalan. Penggunaan kata “toron” tersebut biasa digunakan oleh para perantau dari Madura, khususnya Bangkalan yang merantau ke luar Madura.

Penggunaan kata tersebut dipilih menurut pendapat penulis karena ada pandangan bahwa perkembangan ekonomi “daerah rantau”, lebih tinggi dari Pulau Madura, sehingga menggunakan kata “toron”. Perkembangan selanjutnya kata tersebut tidak hanya digunakan perantau asal Bangkalan, tetapi digunakan oleh perantau asal Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Baca Juga:  Cendekiawan Muslim dari Jalur Gaza

Menurut penjelasan Rahmad, mahasiswa S-3 Universitas Negeri Yogyakarta dan dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura asal Girpapas, Sumenep mengungkapkan bahwa “di Sumenep juga sudah dipakai kata /toron/ untuk orang yang pulang kampung dari Banyuwangi (terutama dari Muncar).

Orang tua saya dan teman-temannya sekitar tahun 1947 pernah merantau ke Muncar cari ikan sarden (lamuru) kalo pulang pasti menggunakan kata /toron/ tapi kalau pergi ke Muncar tidak menggunakan kata /ongghâ/ tetap menggunakan kata /mangkat/. Hal ini berbeda dengan bahasa Indonesia, orang pergi haji disebut /naik haji/ tapi pulang haji tidak disebut /turun haji/”.

Toron dalam prespektif budaya sebenarnya merupakan upaya membangun kembali solidaritas yang mengarah jalinan tali silaturrahmi antar keluarga dan kerabat orang Madura yang tinggal di tanah kelahirannya. Dengan toron, jalinan silaturrahmi dengan sanak famili dan warga sekitar akan tetap terjalin dan semakin erat.

Baca Juga:  Obyektif Menilai Karya Sastra 

Toron bagi orang Madura di perantauan berkaitan dengan tiga peristiwa keagamaan, yakni pada saat lebaran Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Toron merupakan simbol perhatian masyarakat Madura perantauan terhadap solidaritas dan tali persaudaraan. Ungkapan Madura, bilâ kenca palotan, bilâ kanca taretan, merupakan manifestasi nilai persaudaraan dan kekerabatan bagi orang Madura.

Selain istilah “toron” orang Madura perantauan yang akan kembali ke daerah rantau menggunakan istilah “ongghâ (naik-bahasa Indonesia). Tetapi istilah ini bagi masyarakat Madura tidak sepopuler istilah “toron”. Orang Madura perantauan yang sering menggunakan kata “ongghâ” untuk kembali ke daerah rantau kebanyakan dari daerah Bangkalan. Itulah sekilas tentang fenomena kata “toron”, yang merupakan tradisi mudik ala Madura.

*) Penulis adalah dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *